Mahasiswa UMP sukarelawan COVID-19 dikembalikan lagi ke rektor

Mahasiswa UMP sukarelawan COVID-19 dikembalikan lagi ke rektor

Bupati Banyumas Achmad Husein (dua dari kanan) dan Rektor UMP Dr Jebul Suroso (kanan) saat menyimak penjelasan mahasiswa sukarelawan COVID-19 terkait inovasi bilik anosmia di Rumah Karantina Pondok Slamet, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Minggu (15/8/2021). ANTARA/Sumarwoto

Saya sempat tanya pada beberapa pasien yang ada di RK Hotel Tiara, juga sama Dinas Kesehatan, mahasiswa sukarelawan bagaimana? Jawabannya, 'bagus Pak, membantu sekali', cuma sayangnya satu bulan, padahal kita kerjanya masih panjang
Banyumas, Jateng (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyerahkan kembali 137 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kepada pihak rektor perguruan tinggi itu setelah mereka diterjunkan sebagai sukarelawan COVID-19 selama satu bulan.

Penyerahan kembali 137 mahasiswa sukarelawan COVID-19 itu dilakukan secara simbolis oleh Bupati Banyumas Achmad Husein kepada Rektor UMP Dr Jebul Suroso di halaman Rumah Karantina (RK) Pondok Slamet, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Minggu.

Saat ditemui usai acara, Bupati Banyumas Achmad Husein memberi apresiasi atas kinerja mahasiswa UMP selama diterjunkan sebagai sukarelawan COVID-19.

"Bagus sekali, cepat dalam bekerja dan kesan dari pasien itu dapat diandalkan untuk menolong. Saya sempat tanya pada beberapa pasien yang ada di RK Hotel Tiara, juga sama Dinas Kesehatan, mahasiswa sukarelawan bagaimana? Jawabannya, 'bagus Pak, membantu sekali', cuma sayangnya satu bulan, padahal kita kerjanya masih panjang," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya sangat berterima kasih dan akan menerima jika ada mahasiswa UMP yang akan kembali diterjunkan sebagai sukarelawan COVID-19 berikutnya.

Selain dari UMP, lanjut dia, sejumlah mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dan Universitas Harapan Bangsa (UHB) Purwokerto juga sudah ada yang diterjunkan sebagai sukarelawan.

"Kebanyakan mereka untuk tracing dan testing. Sudah mulai jalan," katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan pihaknya harus memastikan bahwa para mahasiswa yang diterjunkan sebagai sukarelawan tetap berhati-hati dalam bertugas agar tidak sampai tertular COVID-19.

Terkait dengan hal itu, dia meminta sebelum mahasiswa sukarelawan tersebut kembali ke rumah masing-masing harus mandi sebersih mungkin dan menjalani tes antigen guna memastikan bahwa mereka tidak terkena COVID-19.

Disinggung mengenai tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) untuk menangani pasien COVID-19, Bupati mengatakan BOR di Banyumas secara umum hingga saat ini sebesar 74 persen atau mengalami penurunan dari beberapa waktu sebelumnya yang sempat mencapai di atas 90 persen.

"Tetapi itu BOR total, artinya ada yang orang Banyumas, ada yang luar Banyumas. Kalau dihitung orang Banyumas saja, ada sekitar 50-60 persen," katanya.

Selain itu, kata dia, angka kematian akibat COVID-19 di Kabupaten Banyumas juga sudah mulai menunjukkan penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengatakan sebelumnya, angka kematian akibat COVID-19 sempat mencapai kisaran 30-40 orang per hari, kemudian turun menjadi 20-30 orang per hari, dan dalam beberapa waktu terakhir menjadi 10-20 orang per hari.

"Semoga terus menurun, hingga akhirnya tidak ada lagi yang meninggal akibat COVID-19, semua bisa sembuh," katanya.

Sementara itu, Rektor UMP Dr Jebul Suroso mengatakan pelibatan mahasiswa UMP tersebut sebagai bagian dari upaya kemanusiaan dan merespons kebutuhan dari Kabupaten Banyumas.

"Seperti yang disampaikan Pak Bupati, perlu adanya sukarelawan untuk mengelola pasien yang ada di tempat-tempat isolasi (rumah karantina, red.), sehingga kami terjunkan mereka. Alhamdulillah ada manfaat, satu, jelas mereka punya pengalaman secara langsung di lapangan mengelola itu, yang kedua testimoni mereka, mereka merasa nyaman meskipun tertantang, dan yang paling kami suka adalah bisa melahirkan inovasi," katanya.

Menurut dia, mahasiswa yang diterjunkan sebagai sukarelawan COVID-19 itu telah melahirkan inovasi baru terkait dengan bentuk terapi sederhana tetapi bisa membantu untuk mengatasi orang yang anosmia (kehilangan daya penciuman, red.).

Dalam hal ini, mahasiswa UMP tersebut telah menciptakan bilik anosmia (bilas) yang merupakan sarana terapi bagi pasien yang kehilangan daya penciumannya.

"Tadi sudah dipirsani (dilihat, red.) sama Pak Bupati dan kami terima kasih, apresiasi dari Pak Bupati," katanya.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya permintaan untuk menerjunkan mahasiswa sebagai sukarelawan COVID-19, Rektor mengatakan UMP Insya Allah selalu siap, salah satunya dengan menerjunkan sukarelawan COVID-19, rumah karantina, dan terakhir Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) yang menempati gedung bakal RS milik UMP.

"RSDC UMP sekarang ada 18 pasien yang dirawat di sana. Artinya, kalau yang seperti itu saja kita lakukan, permintaan untuk melakukan penanganan, perawatan, Insya Allah kita siapkan," demikian Jebul Suroso.

Baca juga: UMP terjunkan mahasiswa sebagai sukarelawan COVID-19 di Banyumas

Baca juga: Anak penjual jamu disumpah jadi dokter di UMP

Baca juga: Menko PMK dorong UMP dirikan pusat rehabilitasi narkoba bagi anak-anak

Baca juga: Universitas Muhammadiyah Purwokerto gelar wisuda luring dan daring

 

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar