Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Tinju Amatir Seluruh Indonesia (Pertina) DKI Jakarta Hengky Silatang menilai Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua merupakan barometer olahraga Indonesia.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas di PON Papua, yang dijadwalkan bakal bergulir pada 2-15 Oktober 2021. 

Menurut dia, setiap kontingen pasti ingin meraih kemenangan di pesta olahraga nasional terbesar itu. Tapi ia memandang itu bukan tujuan utama dari penyelenggaraan PON Papua. Justru kepentingan prestasi olahraga nasional yang harus dikedepankan.

"PON adalah barometer dan event tertingginya olahraga di Indonesia. Daerah kita pentingkan, tapi bukan primer," kata Hengky kepada ANTARA, Senin.

"Semoga pada PON Papua nanti semua berjalan lancar. Penilaian wasit itu bisa lebih selektif dan memberikan penilaian yang ideal dan fair

"Jangan sampai ajang PON ini ada kepentingan lain. Sebab jika itu terjadi, maka akan berdampak pada olahraga tinju di Indonesia," tambah Hengky. 

Baca juga: 4.800 orang terdaftar menjadi relawan PON Papua 
Baca juga: Pemkab Jayapura targetkan 70 persen warga sekitar lokasi PON divaksin


Ia pun berharap PON Papua akan melahirkan petinju-petinju potensial yang nantinya bisa bersaing di pentas internasional.

Sebelumnya, ia menyarankan agar PON Papua bergulir tanpa penonton, seperti Olimpiade Tokyo 2020 yang bergulir dengan protokol kesehatan ketat di tengah pandemi COVID-19. 

"Yang paling ideal tanpa penonton. Jangan sampai PON Papua justru nantinya merugikan banyak orang. Protokol kesehatan juga harus dilakukan secara ketat," ujar Hengky.

"Yang paling utama saat ini adalah menjaga kesehatan atlet. Kami di Pertina DKI juga menerapkan prokes ketat, karena yang saat ini kita hadapi tak terlihat," tutupnya. 

Baca juga: Pertina DKI sarakan PON XX Papua bergulir tanpa penonton 
Baca juga: Jayawijaya dukung suksesnya PON Papua 
Baca juga: Panitia jabarkan protokol kesehatan ketat untuk peserta PON XX Papua 

 

Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2021