Laporan dari China

China-Tajikistan latihan antiteror saat situasi Afghanistan berubah

China-Tajikistan latihan antiteror saat situasi Afghanistan berubah

Seorang anggota Taliban berjaga saat orang-orang berjalan di pintu masuk Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, (16/8/2021). ANTARA/REUTERS/Stringer/pri

Beijing (ANTARA) - China dan Tajikistan menggelar latihan antiterorisme bersama di tengah perubahan situasi politik di Afghanistan.

Latihan yang dilaksanakan oleh Kementerian Keamanan Publik China dan Kementerian Dalam Negeri Tajikistan berlangsung selama dua hari, terhitung mulai Rabu (18/8), di Dushanbe, Tajikistan.

Dalam suratnya kepada Mendagri Tajikistan Rahimzoda Ramazon Hamro, Menteri Keamanan Publik China Zhao Kezhi menuliskan bahwa China dan Tajikistan memiliki hubungan bertetangga yang baik, mitra strategis komperehensif, dan sababat dekat yang saling percaya.

Zhao juga menyatakan bahwa aparat keamanan di kedua negara telah menjalin kerja sama dalam berbagai upaya pencegahan terorisme.

Keduanya juga telah memberikan kontribusi dalam menjalankan misi pengamanan wilayah perbatasan dan stabilitas kawasan.

"Saat ini situasi internasional berubah drastis dan situasi antiterorisme di kawasan tidak kondusif. Latihan antiterorisme diharapkan bisa meningkatkan kemampuan koordinasi memerangi terorisme," tulis Zhao di media China.

Perubahan situasi di Afghanistan telah menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara tetangganya atas ketidakstabilan dan terorisme.

Baca juga: China lanjutkan evakuasi warga dari Afghanistan, kasus impor disorot

Kementerian Keamanan Publik China telah menyatakan bersedia untuk menjalin kerja sama yang lebih erat dengan Komite Keamanan Nasional Tajikistan untuk memperkuat koordinasi pengamanan di perbatasan di bawah perjanjian Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Tajikistan akan menjadi tuan rumah KTT SCO pada September mendatang dan China akan sepenuhnya mendukungnya di bawah mekanisme keamanan SCO, demikian dinyatakan Zhao.

Pasukan Taliban berhasil mengambil alih pemerintahan yang sah di Afghanistan.

Presiden Asfghanistan Ashraf Ghani meninggalkan istananya saat pasukan gerilyawan Taliban mengepung Kabul , Minggu (15/8), dan dilaporkan melarikan diri ke Tajikistan bersama istri dan beberapa orang terdekatnya.

Tajikistan berbatasan langsung dengan Xinjiang, daerah otonomi di wilayah barat laut China, yang banyak dihuni etnis minoritas Muslim Uighur. 

Baca juga: China: Taliban diharapkan mainkan peran dalam perdamaian Afghanistan

Baca juga: Tajikistan tak berencana tampung warga Afghanistan yang tunggu visa AS


 

Ribuan warga Afghanistan bergegas tinggalkan ibu kota

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar