Artikel

Mengatur strategi bisnis UMKM taklukkan pandemi

Oleh Yuniati Jannatun Naim

Mengatur strategi bisnis UMKM taklukkan pandemi

UMKM menjajakan dagangannya di pusat kuliner Welcome to Batam. (ANTARA/ Naim)

Batam (ANTARA) - Pandemi COVID-19 merupakan mimpi horor yang memutar hidup banyak orang. Banyak anak menjadi yatim, banyak pekerja menjadi pengangguran, banyak pengusaha menjadi bangkrut.

Pandemi membuat hidup tidak lagi seperti biasa. Tapi bukan berarti segalanya menjadi sulit. Kita hanya perlu menyesuaikan diri agar bisa bertahan.

Demi optimisme, pemerintah melahirkan semangat "adaptasi kebiasaan baru" untuk hidup bersama COVID-19. Bahwa kita bisa memenangkan pandemi ini. Meski memang perlu sedikit penyesuaian dalam menjalankan kehidupan.

Seperti Siti Nurika, pelaku UMKM yang memproduksi bawang goreng di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Pengusaha muda yang mampu bertahan dan siap mengembangkan usahanya di tengah pandemi COVID-19.

Siti Nurika memulai usahanya pada 2014, memproduksi bawang goreng rumahan dan terus berkembang hingga kini.

Seperti UMKM warga yang tinggal di wilayah perbatasan lainnya, Siti Nurika melirik pasar Negara Jiran Malaysia dan Singapura.

Dibantu Al Ahmadi Entrepreneurship Centre, Siti Nurika mengikuti sejumlah pameran, menjajakan bawang goreng produksinya ke Malaysia dan Singapura.
 
Direktur Al Ahmadi Entrepreneurship Center Lisya Anggraini (ANTARA/ HO-Dok pribadi)


Sejak beberapa tahun lalu, bawang goreng produksi Indonesia amat digemari di Negara Jiran. Dan itu, tidak hanya produksi milik Siti. Banyak UMKM produsen bawang goreng Kota Batam dan Kota Tanjungpinang yang masuk pasar luar negeri.

Bahkan, kadang warga Negara Singa sengaja mengunjungi pameran tertentu untuk memburu bawang goreng Indonesia.

Maka tidak heran jika produksi bawang goreng Siti banyak pelanggannya di Singapura dan Malaysia. Mereka bahkan memesan agar Siti mengirimkan bawang gorengnya ke sana dalam waktu-waktu tertentu.

Meski belum bisa ekspor dalam jumlah besar, namun sejatinya Siti adalah eksportir.

Pelan tapi yakin, usaha Siti berkembang dengan pelanggan dari dalam dan luar negeri. Tidak hanya bawang goreng, ia pun memproduksi sambal pecal, stik udang dan makanan olahan khas lainnya.

Sampai mimpi buruk itu menjadi nyata, pandemi COVID-19.

Bertahan dan menang
Di awal masa pandemi, usaha Siti meredup. Ia tidak lagi dapat mengirimkan bawang ke Singapura dan Malaysia. Perbatasan ditutup, pengiriman barang ke luar negeri menjadi sulit.

Penjualan di dalam negeri, di dalam pulau, di dalam kota pun terasa sulit. Daya beli masyarakat menurun, seiring dengan sulitnya ekonomi.

"Kami menyikapinya memang harus bertahan. Sebagai entrepreneur kami harus belajar dari setiap situasi," kata dia.

Ia bersama tim mempelajari kenapa penjualan menurun, kemana para langganan mereka pergi.

Apabila ekspor rasanya tidak mungkin, maka ia harus merebut kembali pasar dalam kota yang hilang selama awal pandemi COVID-19.

Warga kini tidak lagi berbelanja ke swalayan tempat produksi bawang goreng, sambal dan pecalnya selama ini dijual.

Masyarakat tidak dapat pergi jauh dari rumah demi mematuhi anjuran pemerintah. Mereka berpaling ke warung-warung yang lebih dekat rumah.

Siti Nurika pun mengalihkan strategi pemasarannya. Dari menjual di swalayan, jadi ke warung-warung di perumahan. Ia mengerahkan timnya untuk merebut hati pemilik kedai, agar dapat menjajakan hasil produksinya.

"Akhirnya kami larinya ke sana. Karena penjualannya bukan hanya market besar saja, tapi juga market kecil. Analisa kami, permintaannya lebih banyak di sana, maka kami pindahkan," katanya.

Kemudian masalah selanjutnya, daya beli masyarakat yang menurun. Apabila sebelumnya konsumen bisa membeli kebutuhannya dalam jumlah besar, namun karena keterbatasan dana, mereka hanya mampu membeli sedikit.

Maka Siti Nurika memutuskan untuk membuat kemasan-kemasan ekonomis yang harganya lebih dapat dijangkau.

Strategi sederhana itu membuatnya bertahan hingga kini.

Strategi yang dibuatnya pun terasa tepat, untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Kini, omsetnya pun mencapai Rp40 hingga Rp45 juta per bulan.

Siti Nurika memang memilih untuk berjualan langsung ke warung-warung. Tidak menggunakan digital seperti yang digalakkan pemerintah.

"Pernah juga ikut e-commerce, tapi belum ada penjualan," kata dia.

Sebagai pengusaha, ia ingin langsung ada penjualan, yang dapat menambah semangat untuk berproduksi.

Kondisinya yang berdomisili di Kota Tanjungpinang Pulau Bintan, membuat sulit berjualan melalui e-commerce, karena ongkos kirim yang mahal ke luar kota.

Persiapan ekspor kembali
Kegigihan Siti untuk bertahan di masa pandemi membuahkan hasil gembira. Pusat pelatihan dan jaringan bisnis Al Ahmadi Entrepreneuship Centre, wadah yang menaunginya selama ini mengupayakan produksinya kembali ekspor ke Malaysia.

Direktur Al Ahmadi Entrepreneurship Center Lisya Anggraini menyatakan pihaknya bersama KBRI tengah menjalin peluang kerja sama "business to business" antarpelaku usaha di Provinsi Kepulauan Riau dengan Malaysia. Satu di antaranya bawang goreng yang diproduksi Siti Nurika.

Keunggulan UMKM di wilayah perbatasan seperti Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan adalah potensi untuk ekspor, karenanya Al Ahmadi terus mendorong dan mencari peluang agar produksi mereka bisa masuk pasar negara tetangga.

Dalam beberapa kali penjajakan yang dilakukan bersama KBRI, pihaknya telah memetakan peluang UMKM yang dapat masuk di pasar Negara Jiran seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand.

Masyarakat Malaysia menyukai produk dasar dari Indonesia yang tidak banyak dimilikinya seperti ikan dan santan.

Di masa pandemi ini, konsumen di Malaysia cenderung memilih untuk membeli produk UMKM, ketimbang impor dari pabrik-pabri besar karena bisa bertransaksi dalam jumlah yang sedikit, ketimbang dengan pelaku usaha besar yang memiliki aturan minimum pembelian.

Meski daya beli menurun, tapi pasar tetap ada. Di pandemi ini ada pergeseran peluang. Kalau dulu membeli dalam jumlah besar, sekarang menyasar UMKM membeli dengan skala kecil.

Pada akhirnya, mereka yang mampu beradaptasi yang menang, menaklukkan pandemi. Untuk menjadi juara, pelaku usaha perlu mengubah kebiasaan.

Berhenti mengeluh, apalagi di media sosial. Tuliskan keluhan itu dalam rumusan kendala dalam buku catatan, kemudian cari solusinya. Bukan mencari simpati dari orang yang justru akan menertawakan.

Jalankan solusinya, dan perbaiki terus apabila belum membuahkan hasil. Jangan berhenti. Semoga kita semua menjadi pemenang dari pertarungan melawan pandemi ini.

Oleh Yuniati Jannatun Naim
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar