Psikolog ungkap risiko tingginya intensitas penggunaan internet

Psikolog ungkap risiko tingginya intensitas penggunaan internet

Ilustrasi (Pexel)

Jakarta (ANTARA) - Psikolog dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto mengatakan intensitas penggunaan smartphone dan internet, terutama untuk keperluan bermedia sosial yang tinggi di zaman sekarang tak luput dari risiko yang tinggi pula terhadap cyber bullying atau perundungan di dunia maya.

Baca juga: Psikolog sarankan korban perundungan siber lakukan ini

"Meski berguna untuk melakukan kegiatan sehari-hari, penggunaan smartphone juga berisiko tinggi terhadap perundungan online. Ini karena masih banyak yang belum teredukasi dengan baik dalam hal penggunaannya," kata Kasandra kepada ANTARA, Selasa.

Kasandra kemudian mengungkapkan tindakan preventif yang dapat dihindari dilakukan untuk menghindari perundungan di dunia maya, salah satunya dengan menerapkan pola berpikir sebelum bertindak.

"Berpikir terlebih dahulu sebelum membuat tindakan secara online, seperti halnya saat akan membuat unggahan," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa berdasarkan teori pilihan, sumber dari masalah atas perilaku individu adalah pilihan individu itu sendiri. Perilaku tersebut mencakup unsur perbuatan, pemikiran, perasaan, dan fisiologi yang disebut total behavior yang berada di bawah kendali individu.

"Sehingga pola berpikir terlebih dahulu sebelum membuat tindakan di dunia maya akan menjadi tindakan preventif terhadap perundungan online, mengacu pada total behavior yang dapat membuat individu bertindak di bawah kendali diri," tuturnya.

Kemudian, Kasandra juga mengatakan bahwa tindakan lain yang harus dilakukan adalah melaporkan perundungan online kepada pihak berwajib.

Setelah membuat laporan, ambil langkah-langkah yang tepat untuk memblokir orang atau akun yang melalukan perundungan online tersebut.

Menurut Kasandra, tindakan tersebut juga membuat individu dapat belajar menjadi pengamat yang baik dan berpotensi untuk memutuskan rantai perundungan di dunia maya.

"Jika individu telah mengetahui dan mengamati perundungan online yang terjadi atas dirinya atau orang lain, dia akan berpotensi lebih baik dalam menahan diri untuk tidak berpartisipasi dalam perundungan online," kata Kasandra.

"Dia juga akan mencari cara untuk mendukung orang yang menjadi sasaran kejahatan itu," tandasnya.


Baca juga: Nicholas Saputra sebut pentingnya privasi dan etika gunakan medsos

Baca juga: Hati-hati di internet, Kominfo punya regulasi jerat perundung siber

Baca juga: BIGBANG T.O.P suarakan penolakan terhadap "cyber bullying"

Pewarta: Suci Nurhaliza
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

KPAI terima 206 kasus perundungan siber

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar