KSP: Meski tak mudah, pemerintah komitmen kembangkan mobil listrik

KSP: Meski tak mudah, pemerintah komitmen kembangkan mobil listrik

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko melakukan uji coba mengendarai mobil listrik saat melakukan kunjungan ke PAbrik Wuling Motors di Kawasan Greenland International Industrial Center (GIIC) di Cikarang, Jawa Barat pada Selasa (24/8). ANTARA/HO-Kantor Staf Presiden.

Perubahan yang cukup radikal ini memang tidak mudah. Namun yang paling penting, kita melihat sudah ada komitmen dari pemerintah terhadap mobil listrik.
Jakarta (ANTARA) -
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan pemerintah tetap berkomitmen untuk mengembangkan industri mobil listrik termasuk berbagai infrastrukturnya, meskipun tantangan yang dihadapi tidak akan mudah.

"Perubahan yang cukup radikal ini memang tidak mudah. Namun yang paling penting, kita melihat sudah ada komitmen dari pemerintah terhadap mobil listrik," kata Moeldoko dalam keterangan tertulis KSP diterima di Jakarta, Rabu.

Moeldoko menyatakan hal tersebut saat mengunjungi Pabrik Wuling Motors di Kawasan Greenland International Industrial Center (GIIC) di Cikarang, Jawa Barat, pada Selasa (24/8)

Baca juga: Kementerian ESDM meluncurkan program konversi motor BBM ke listrik

​​​​​​Menurutnya, Indonesia semakin dekat dengan pengembangan industri mobil listrik. Saat ini infrastruktur untuk kegiatan produksi mobil listrik dalam negeri terus dikembangkan. Selain itu, sejumlah industri otomotif dunia dari Jepang dan China juga telah menunjukkan keseriusan untuk berinvestasi industri mobil listrik di Indonesia.

Namun, kata Mantan Panglima TNI ini, tantangan yang dihadapi industri mobil listrik di Indonesia tidak akan mudah. Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), realisasi total penjualan mobil listrik di Indonesia sepanjang semester pertama 2021 mencapai 1.900 unit. Angka tersebut tidak berbeda jauh dibandingkan penjualan pada periode yang sama di 2020 yang sebesar 1.234 unit. Padahal pasar Indonesia cukup besar, jika dilihat dari penjualan mobil konvensional.

Menurut survei konsultan manajemen Solidiance, kata KSP, pada 2018 ada tiga faktor penyebab rendahnya minat masyarakat Indonesia terhadap mobil listrik. Faktor itu adalah daya jelajah kendaraan listrik yang terbatas, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang masih minim, dan harga mobil listrik yang masih cenderung lebih mahal dibandingkan mobil konvensional.

Baca juga: Gubernur Banten perkenalkan mobil listrik karya siswa SMKN Pandeglang

Pemerintah, kata Moeldoko, tidak tinggal diam menanggapi masalah itu. Presiden Joko Widodo telah menandatangani Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Untuk Transportasi Jalan. Pada Maret 2021 lalu, KSP bersama Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) telah menyosialisasikan program penggunaan mobil listrik di lingkungan kementerian dan lembaga melalui program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBL-BB).

KSP juga telah menekankan pentingnya pergeseran menuju industri mobil listrik dengan sumber energi terbarukan. Mobil listrik menjadi solusi dalam mengurangi konsumsi bahan bakar fosil serta meningkatkan kualitas lingkungan dan udara. Moeldoko optimistis Indonesia akan mampu meningkatkan peluang untuk menjadi basis produksi dan ekspor KBL-BB.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan telah menyusun Peta Jalan Kendaraan Operasional K/L dan Angkutan Umum dari Kendaraan ICE (Internal Combustion Engine) ke KBL BB.

Kementerian ESDM bersama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN ditunjuk membangun infrastruktur pendukung berupa SPKLU. Tercatat hingga April 2021 telah dibangun 112 unit SPKLU pada 83 lokasi di Indonesia. Selain itu PLN juga menyiapkan berbagai stimulus untuk meningkatkan minat pasar untuk menggunakan KBL-BB.

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Moeldoko tegaskan pemerintah tidak menghindari persoalan HAM

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar