Kemendag: Sinergi kunci utama adaptasi di era digital dan pandemi

Kemendag: Sinergi kunci utama adaptasi di era digital dan pandemi

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Oke Nurwan dalam jumpa pers Peluncuran KONTAG : Komunitas UMKM Berbagai Industri untuk Bangkit Bersama, Rabu (25/8/2021). ANTARA/TL/Arnidhya Nur Zhafira.

Jakarta (ANTARA) - Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Oke Nurwan, mengatakan bahwa sinergi dan kolaborasi antarpihak menjadi kunci utama untuk masyarakat terutama pelaku UMKM beradaptasi dan menghadapi tantangan di masa pandemi dan era digital.

"Di era digital saat ini, pemerintah dituntut untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dengan cepat dan efektif dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapi. Aspek kolaborasi dan sinergi, kreativitas, inovasi, dan kecepatan itu sangat penting sehingga adaptasi dengan era baru ini jadi kunci mutlak yang diperlukan di era digital, dan tak terkecuali dalam upaya penanganan pandemi," papar Oke dalam jumpa pers daring, Rabu.

Kolaborasi antarpihak mutlak diperlukan, terutama dalam rangka pemulihan ekonomi Indonesia. Salah satunya di tengah prioritas kesehatan dan ekonomi, perlu jaga roda perdagangan kita dijaga lewat perdagangan online dan offline, kata dia.

Lebih lanjut, Oke memaparkan bahwa menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM RI, terdapat setidaknya lima permasalahan yang dihadapi UMKM di masa pandemi. Pertama, adalah penurunan daya beli masyarakat (23 persen) yang akhirnya juga menurunkan permintaan dan penjualan produk, serta pendapatan.

Kedua adalah adanya hambatan distribusi sehingga logistik terganggu (sekira 20,5 persen). Ini membuat barang kiriman yang dipesan atau dibeli menjadi lebih lama untuk diterima.

Selanjutnya, adalah akses pemodalan dan pembiayaan (20 persen). "UMKM yang belum ada akses permodalan dari bank, malah mengambil dari alternatif lain. Segmen ini perlu dibantu untuk mendapatkan pinjaman dari jasa keuangan formal," kata Oke.

Permasalahan keempat adalah sulitnya bahan baku bagi UMKM (20 persen). Selain penurunan penjualan, juga bahan baku karena pembatasan mobilitas dan impor, mengingat banyak pula negara yang membatasi mobilitas di era pandemi.

Terakhir adalah terhambatnya produksi (19 persen), termasuk di dalamnya pembatasan pergerakan tenaga kerja.

"Hambatan produksi ini bukan hanya mobilitas dibatasi, mesin produksi yang belum memadai juga sulit untuk memenuhi kebutuhan domestik dan bahkan internasional yang permintaannya mulai meningkat," ujar Oke.


Baca juga: Tingginya potensi ekonomi digital perlu dibarengi regulasi yang jelas

Baca juga: Kadiskop-UKM: UMKM Kota Bogor sudah saatnya "go digital"

Baca juga: Pemkot Depok gandeng Shopee, ajak UMKM beradaptasi ke dunia digital

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Gubernur BI: 11,4 juta UMKM tersambung dengan QRIS

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar