Saham China ditutup melemah tertekan perlambatan pasar properti

Saham China ditutup melemah tertekan perlambatan pasar properti

Ilustrasi - Para investor sedang memantau pergerakan saham di Bursa Saham China. ANTARA/REUTERS/Aly Song/am.

Shanghai (ANTARA) - Saham China menghentikan kenaikan beruntun tiga hari menjadi berakhir lebih rendah pada hari Kamis, karena saham teknologi melemah setelah sebelumnya naik tajam, sementara perlambatan di pasar properti yang ditimbulkan kebijakan pemerintah, memperdalam kekhawatiran atas kesehatan ekonomi negara itu.

Investor juga mengamati simposium Jackson Hole untuk mendapat kepastian bahwa bank sentral AS Federal Reserve tidak akan terburu-buru untuk memperketat kebijakan, sebuah langkah yang dapat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Indeks saham unggulan CSI300 ditutup 2 persen lebih rendah pada 4.801,61 poin, sedangkan indeks Shanghai Composite turun 1,2 persen menjadi 3.501,66 poin.

Indeks STAR 50 China yang padat teknologi merosot hampir 3 persen ke level penutupan terendah dalam dua bulan. Indeks papan pengembangan Shenzhen, ChiNext, kehilangan 2 persen.

Baca juga: Saham China berakhir menguat, seiring bank sentral naikkan pendanaan

China telah menekan bisnis bidang les privat, membuat raksasa teknologi monopolistik bertekuk lutut, dan juga meningkatkan pembatasan-pembatasan dalam hal pembelian rumah.

"Pengaturan bisnis permainan dan kontrol yang lebih ketat atas bisnis penyebaran konten sedang diterapkan, dan ungkapan 'Kemakmuran Bersama' semakin banyak digunakan dalam pidato pemerintah yang mengindikasikan kenaikan pajak dan redistribusi yang lebih luas," tulis Peter Garnry, kepala strategi ekuitas di SAXO Bank.

"Kongres Partai China berikutnya ditetapkan pada Oktober 2022, dan dengan demikian, lingkungan politik dapat terus membayangi pasar ekuitas China," kata Garnry.

Baca juga: Saham China naik karena bank sentral janjikan dukungan kredit

Saham real estat China turun hampir 2 persen karena kekhawatiran semakin dalam bahwa pembatasan pemerintah yang keras dapat menurunkan profitabilitas perusahaan pengembang.

China Evergrande Group, pengembang properti China yang paling berhutang, memperkirakan penurunan laba semester pertama mencapai 39 persen, menyusul penurunan harga jual dan ongkos yang lebih tinggi.

Pertumbuhan harga rumah di China diperkirakan melambat lebih dari yang diperkirakan tahun ini, karena makin banyak kota yang menerapkan pembatasan untuk menstabilkan pasar real estat sementara perbankan mempertahankan kuota kredit yang ketat bagi pengembang, jajak pendapat Reuters menunjukkan.

Saham perbankan China turun tajam, di tengah kekhawatiran bahwa kualitas aset pemberi pinjaman bisa memburuk di pasar properti yang melambat dan kondisi ekonomi yang melambat.

Raksasa baterai CATL membalik kenaikan di awal perdagangan dan mengakhiri hari turun 1,7 persen, meskipun pendapatannya cukup mengesankan, setelah media pemerintah mengatakan bahwa saham-saham yang terkait dengan sektor kendaraan energi baru di China sudah kepanasan (overheating).
 

Penerjemah: Biqwanto Situmorang
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar