Artikel

"PR" besar perhelatan PON Papua di tengah pandemi COVID-19

Oleh Andi Firdaus

"PR" besar perhelatan PON Papua di tengah pandemi COVID-19

Foto udara Stadion Lukas Enembe di Kompleks Olahraga Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (24/8/2021). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah memastikan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua tetap berjalan sesuai rencana pada 2-15 Oktober 2021, meskipun di tengah ancaman penularan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Tidak kurang dari 7.066 atlet telah ditetapkan oleh Tim Keabsahan PON untuk mengikuti pesta olahraga empat tahunan di Indonesia itu. Sebanyak 4.176 di antaranya atlet putra dan 2.890 sisanya adalah atlet putri dari perwakilan 34 provinsi.

Seluruh atlet akan berkompetisi di 37 cabang olahraga, 56 disiplin cabang olahraga dan 679 nomor pertandingan di empat kluster arena, di antaranya Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika dan Kabupaten Merauke.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI Vivi Setiawaty mengatakan perlu kewaspadaan yang ekstra dengan rencana penyelenggaraan PON XX, mengingat varian delta virus corona sudah teridentifikasi ada di hampir seluruh provinsi di Indonesia.

Meski perkembangan COVID-19 di regional Papua sedang mengalami penurunan kasus sebesar 73,8 persen serta angka kematian sebesar 54,2 persen pada 14-20 Agustus 2021, namun Balitbangkes Kemenkes RI masih mendeteksi daerah lain yang belum berhasil mengendalikan COVID-19.

Di tengah penurunan angka kasus di seluruh provinsi rata-rata sebesar 29 persen, kata Vivi, terdapat beberapa provinsi lain yang perlu diwaspadai, di antaranya Aceh yang sedang mengalami peningkatan kasus 23,4 persen dan Jambi sebesar 4,8 persen.

Demikian pula dengan jumlah kematian di Aceh yang dilaporkan naik 10,5 persen dan Jambi 12,2 persen dari pekan sebelumnya. Regional lain yang juga perlu diwaspadai adalah Provinsi Bali yang sedang mengalami peningkatan kematian sebesar 48 persen.

Jumlah kasus aktif di Kalimantan Tengah meningkat 1,5 persen dan Kalimantan Barat 9,1 persen. Jika pada pekan sebelumnya Kalimantan Tengah mengalami kenaikan jumlah kematian yang ekstrim berkisar 99,1 persen, pada pekan ini menurun sebesar 69,7 persen.

Di sisi lain, peningkatan jumlah kematian terjadi di Kalimantan Barat sebesar 50,8 persen dan Kalimantan Selatan 35,4 persen.

Menurut Vivi, pengawasan ketat dan menyeluruh harus dilakukan kepada penyelenggara, atlet, manajemen tim, bahkan juga penonton yang berpotensi membuat kerumunan.


Pembelajaran Olimpiade Tokyo

Data dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) melaporkan lebih dari 320 kasus COVID-19 dialami berbagai pihak yang terlibat selama perhelatan Olimpiade Tokyo pada 1 Juli-4 Agustus 2021, di antaranya atlet, panitia, komite nasional, kontraktor, sukarelawan, bahkan wartawan yang hadir meliput.

Sebelumnya para ahli di Tokyo menyarankan agar olimpiade dihelat saat tingkat penularan harian berada di bawah 100 kasus, sehingga relatif aman bagi seluruh pihak yang terlibat.

Vivi mengatakan tingkat penularan COVID-19 di Tokyo sejak 1 Agustus 2021 justru meningkat tajam. Otoritas kesehatan setempat melaporkan tingkat penularan mencapai 3.000 kasus per hari dan 75 persen kasus di antaranya merupakan varian delta.

Karena itu, ia meminta pengalaman dari penyelenggaraan Olimpiade Tokyo dapat dijadikan pembelajaran untuk PON XX di Papua.

Vivi menyarankan agar upaya meminimalisasi penularan COVID-19 perlu dukungan penuh lintas sektor dalam hal anggaran, manajemen, logistik dan tenaga. Fokus lain yang perlu perhatian adalah pengaturan di sekitar arena, penginapan dan bandara untuk mencegah kerumunan.

Selama olimpiade, kata Vivi, ada aturan ketat dengan membatasi mobilitas atlet dan timnya, termasuk tes cepat COVID-19 yang berlangsung setiap hari. Setiap peserta, panitia, maupun sukarelawan tidak diperkenankan bepergian ke luar area olimpiade.

Aturan wajib lainnya adalah penggunaan masker untuk mencegah penularan melalui droplet. Masker harus selalu dipakai saat beraktivitas. Jika tidak memungkinkan memakai masker karena alergi dan alasan lainnya, perlu dikonsultasikan.

Masker diizinkan dilepas ketika di ruang terbuka dan jika udara dirasa sangat panas. Selain itu izin membuka masker juga berlaku saat makan dan minum, namun dalam jarak kurang lebih 2 meter satu sama lain. Hal yang sangat penting dalam hal ini adalah menjaga etika ketika batuk dan bersin.

Panitia olimpiade pada saat itu juga mengharuskan seluruh peserta untuk mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, khususnya selama istirahat, sebelum dan setelah makan, setelah melepas masker, setelah melepas sarung tangan, setelah menyentuh satu sama lain dan lainnya.

Selama pertandingan olimpiade berlangsung, katanya, ada sukarelawan yang secara berkala mengelap meja, kursi, komputer dan barang-barang lain yang biasa digunakan bersama.

Komite Olimpiade Internasional juga menyarankan sejumlah persiapan yang perlu dilakukan peserta yang dimulai sejak dua pekan hingga pelaksanaan lomba, yakni menghindari makan bersama dalam jumlah banyak orang, menghindari berkerumun, tempat tertutup, jarak dekat satu dengan yang lain. Karena itu hindari keluar jika tidak diperlukan, memakai masker ketika bepergian dan sesering mungkin cuci tangan.

Panitia olimpiade juga meminta atlet dan ofisial menjaga kesehatan dengan mengisi buku catatan manajemen kesehatan, melakukan manajemen kesehatan sehari-hari dengan cara mengukur suhu badan setiap pagi, berlatih tidak berlebihan, adaptasi dengan udara panas hingga gaya hidup sehat untuk menjaga imun, seperti diet, tidur cukup dan latihan yang cukup.


Vaksinasi

Kementerian Kesehatan RI berupaya mengintensifkan pelaksanaan vaksinasi di empat klaster penyelanggaraan PON Papua dengan target dosis lengkap sebanyak 70 persen dari populasi, termasuk di kalangan atlet dan ofisial.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi menyatakan pihkanya melakukan percepatan vaksinasi untuk di kota/kabupaten yang menjadi tempat pelaksanaan PON.

Dilansir dari data dashboard vaksin Kementerian Kesehatan RI, Ahad (29/8) pukul 12.00 WIB, cakupan vaksinasi di Provinsi Papua untuk tenaga kesehatan, lansia, petugas publik, masyarakat rentan dan masyarakat umum hingga usia 12-17 berkisar 17,27 persen untuk dosis pertama dan 11,31 persen dosis kedua dari total target sasaran mencapai 2,5 juta lebih jiwa.

Bila cakupan vaksinasi di Provinsi Papua relatif rendah, tidak demikian halnya dengan realisasi vaksinasi di empat lokasi penyelenggaraan PON. Vaksinasi di Kota Jayapura untuk dosis pertama mencapai 47,9 persen dan dosis kedua 30,1 persen dari target sasaran 231.863 jiwa.

Di Kabupaten Jayapura, cakupan vaksinasi dosis pertama 44,7 persen dan 28 persen untuk dosis kedua dari 87.226 jiwa sasaran. Di Mimika, cakupan vaksinasi dosis pertama mencapai 44,8 persen dan dosis kedua 30,2 persen dari 172.185 jiwa sasaran dan di Merauke, dosis pertama 50,1 persen, dosis kedua 32,3 persen dari total 124.856 jiwa sasaran.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menargetkan vaksinasi di empat wilayah penyelenggara PON Papua XX selesai pada September 2021.

Zainudin bersama Panglima TNI dan Kapolri datang ke Papua untuk melihat pelaksanaan vaksinasi untuk masyarakat. Sbagaimana arahan dari Presiden Joko Widodo, katanya, pada saat penyelenggaraan PON harus diupayakan masyarakat sudah vaksin.

Ikhtiar penyelenggaraan PON XX di Bumi Cenderawasih masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang perlu menjadi perhatian pihak terkait. Selain target penyelesaian vaksinasi, kepatuhan seluruh peserta terhadap protokol kesehatan juga perlu menjadi perhatian bersama untuk dijalankan.

Oleh Andi Firdaus
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sukses, Ketua Harian PB PON XX berterima kasih kepada Presiden

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar