Epidemiolog ingatkan masa krisis COVID-19 belum berakhir

Epidemiolog ingatkan masa krisis COVID-19 belum berakhir

Tangkapan layar Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman saat menjadi pembicara dalam diskusi daring yang dipantau dari Jakarta, Kamis (5/8/2021). (ANTARA/Asep Firmansyah)

Jakarta (ANTARA) - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Dicky Budiman mengingatkan bahwa masa krisis pandemi COVID-19 di Indonesia belum berakhir.

Dicky Budiman kepada wartawan di Jakarta Selasa, menyebutkan masyarakat perlu tetap waspada, termasuk ancaman gelombang ketiga dan varian baru virus tersebut.

"Ya kita memang sudah lewat puncaknya, namun masa krisis belum berakhir. Masa krisis delta ini rata-rata 12 minggu dan itu bisa sampai akhir September," kata Dicky Budiman.

Terlebih, kata dia, ancaman varian delta terutama di wilayah Jawa dan Bali belum selesai saat ini. Bahkan, kata dia, varian delta itu sudah masuk wilayah pedesaan.

"Ini kita bisa terancam varian lainnya, yang bisa lebih hebat dari virus delta di mana varian delta ini kan belum selesai kita atasi," kata Dicky.

Sehingga, dia menilai tepat keputusan pemerintah yang memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) selama sepekan ke depan hingga 6 September 2021.

"Strategi pemerintah ini sudah tepat, hanya tentang komunikasinya, ini yang harus ditingkatkan supaya masyarakat paham bahwa ini untuk memproteksi mereka," ucapnya.

Baca juga: Epidemiolog ingatkan masyarakat harus terus disiplin terapkan prokes
Baca juga: Epidemiolog: Bentuk departemen percepatan pengendalian penyakit
Baca juga: Epidemiolog: Herd immunity tercapai jika efektivitas vaksin 80 persen


Kemudian, menurut dia vaksinasi merupakan sebuah keharusan dan menjadi salah satu kunci dalam menghadapi pandemi COVID-19.

"Betul, kuncinya tetap sama, apapun variannya, 3T, 5M dan vaksinasi itu kuncinya sampai akhir pandemi ini terus, itu kuncinya tetap triad strategies," kata Dicky.

Dia menilai strategi 3T atau pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment) perlu digenjot, selain vaksinasi dan protokol kesehatan.

"Dan ancaman gelombang ketiga nyata ada, setidaknya September atau Oktober ini bisa terjadi ancaman itu. Ini yang harus disadari," kata dia.

Mengendalikan COVID-19 dinilai bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat juga harus waspada, seperti tetap membatasi diri masing-masing.

"Bahwa ke pasar jangan tiap hari, ke mal juga jangan tiap hari juga, yang seperlunya saja. Artinya kalau semua begitu kan mal-nya tidak penuh," ujarnya.

Termasuk kata dia di tempat makan atau restoran. Menurut dia untuk makanan sebaiknya dibeli dan dibawa pulang, tidak perlu makan di tempat jika tidak ada suatu hal penting yang mengharuskan makan di tempat.

"Hal-hal inilah yang harus menjadi kesadaran pemahaman bersama, perlu pola perilaku baru itu," ujarnya.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Luhut sebut puncak Omicron terjadi Februari-Maret

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar