Mahasiswa FTUI ciptakan produk pasta gigi

Mahasiswa FTUI ciptakan produk pasta gigi

Lima mahasisawa FTUI dan dosen pembimbing ciptakan inovasi pasta gigi. (ANTARA/Foto: Humas UI)

Kami berharap ToothBites menjadi wadah bagi kami sebagai mahasiswa Teknik Kimia dan Teknik Bioproses UI, untuk berkontribusi
Depok (ANTARA) - Lima mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menciptakan sebuah inovasi pasta gigi yang efisien dan menarik perhatian, yaitu ToothBites yang siap dipasarkan melalui sistem prapesan.

"Kami berharap ToothBites dapat menjadi wadah bagi kami sebagai mahasiswa Teknik Kimia dan Teknik Bioproses UI, untuk berkontribusi dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah kami dapatkan," kata Theresia Evelyn Octaviany salah seorang dari lima mahasiswa FTUI dalam keterangannya di Depok, Kamis.

Lima mahasiswa FTUI tersebut adalah Christina Angel Mutiara (Program Studi Teknik Kimia, 2019), Ahmad Gumilang (Program studi Teknik Kimia, 2019), Felicia Fransius (Program Studi Teknik Kimia, 2019), Ryan Rafi Rustamadji (Program Studi Teknik Kimia, 2019), dan Theresia Evelyn Octaviany (Program Studi Teknik Bioproses, 2019) dibimbing dosen Program Studi Teknologi Bioproses FTUI, Apriliana Cahya Khayrani S.T.P., M.Eng., Ph.D.

Baca juga: Ahli: PTM harus hati-hati karena berbarengan dengan pelonggaran sosial

Saat ini, ToothBites sudah memasuki tahap produksi dan selanjutnya siap untuk dipasarkan melalui sistem prapesan. Prapesan dapat dilakukan melalui tautan bit.ly/POToothBites. Untuk info mengenai prapesan berikutnya dapat dilihat melalui kanal Instagram @toothbites.id.

Inovasi pasta gigi tersebut digagas oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) ToothBites sebagai wujud kepedulian mahasiswa UI terhadap kurangnya kesadaran masyarakat dalam merawat kesehatan gigi dan mulut, serta keterbatasan waktu untuk melakukannya.

Baca juga: Dipamerkan virtual, UI hasilkan 3.890 kekayaan intelektual
 
Toothbites inovasi pasta gigi karya mahasiswa FTUI. (ANTARA/Foto: Humas UI)


Inovasi ToothBites dibuat dengan teknik enkapsulasi dengan lapisan luar berbahan sodium alginate yang mudah pecah di dalam mulut dan aman dikonsumsi.

Nama ToothBites berasal dari kata “tooth” untuk “gigi” dan “bites” untuk “gigit”, yang diharapkan dapat memberikan pengalaman baru dalam menyikat gigi melalui penggunaannya yang unik, yaitu cukup digigit sebanyak dua kali agar lapisan kapsul lisis dan ToothBites siap dipakai dengan cara menggosoknya menggunakan sikat gigi.

Melalui inovasi ini, tim ToothBites juga memiliki misi mengajak masyarakat untuk memiliki kebiasaan menyikat gigi minimal dua kali dalam sehari sesuai dengan slogan yang mereka angkat adalah “two bites, two times a day”.

Baca juga: UI-Kemendikbud-UNUSIA gelar simposium internasional bahas jalur rempah

Kata “TwoBites” merujuk kepada penggunaan ToothBites yang hanya perlu digigit sebanyak dua kali untuk mengeluarkan pasta gigi di dalamnya. Sementara itu, “TwoTimesADay” menggambarkan penggunaan dua tablet ToothBites untuk menyikat gigi dua kali sehari.

ToothBites menggunakan bahan alami seperti ekstrak serai (Cymbopogon nardus) sebagai perasa dan antibakteri serta charcoal berbasis tempurung kelapa (Cocos nucifera) sebagai agen pemutih.

Selain praktis, ToothBites juga menggunakan wadah botol plastik berbahan polyethylene terephthalate (PET) yang dapat didaur ulang.

"Dari aspek ekonomi, harga ToothBites relatif tidak mahal dan memiliki target pasar yang luas serta penggunaan bahan yang terjangkau," kata Felicia.

Inovasi ToothBites dilatarbelakangi oleh data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI Tahun 2018 yang menyatakan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi berlubang dengan persentase 88,8 persen.

Baca juga: UI gelar lokakarya solusi pengembangan kampus hijau

Tingginya angka penduduk yang memiliki masalah gigi berlubang ini disebabkan oleh intensitas sikat gigi yang rendah pada tiap individu. Hanya 2,8 persen penduduk Indonesia yang menggosok gigi dua kali sehari (Kemenkes, 2018).

"Kesadaran masyarakat yang rendah terhadap pentingnya sikat gigi sebanyak dua kali sehari terjadi bukan tanpa alasan. Beberapa di antaranya adalah rasa malas yang sudah mengakar dalam masyarakat serta beberapa orang lebih memprioritaskan kegiatan atau kesibukan lain dibandingkan menyikat gigi," ujar Christina selaku ketua tim.

Untuk menciptakan ToothBites Christina mengatakan bahwa timnya melakukan diskusi dan konsultasi dengan mentor serta dosen pembimbing. Pada pelaksanaannya, tim ToothBites juga sudah melakukan uji coba produk.

Baca juga: Rektor UI: Menangkan kompetisi mesti ditunjang kemampuan "softskill"

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

"Ngopi" sambil belajar bahasa isyarat di kedai Kopi Tuli

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar