Tiga strategi kunci pertumbuhan bisnis telemedisin

Tiga strategi kunci pertumbuhan bisnis telemedisin

Ilustrasi (Pexels)

Jakarta (ANTARA) - Mengedepankan inovasi dan layanan untuk manfaat pengguna menjadi fokus dari bisnis telemedisin di mana konsultasi ke dokter mau pun klinik kesehatan jadi terhambat akibat keterbatasan ruang gerak.
  
Co-Founder dan Direktur Alodokter, Suci Arumsari, mengatakan aplikasi telemedisin itu terus menjunjung visi dan misi yang konsisten untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik untuk masyarakat Indonesia.

"Kami menyediakan beragam fitur yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia dalam hal solusi kesehatan dari hulu ke hilir, mulai dari konsultasi dengan dokter, proteksi kesehatan, hingga pembelian obat dan produk kesehatan terpercaya yang tentunya sangat dibutuhkan di masa pandemi ini,” ujar Suci dalam keterangan resmi.

Dia mengatakan, berbekal semangat dan strategi bisnis yang berfokus pada pengguna kini jumlah pengguna aktif telah mencapai lebih dari 30 juta setiap bulannya dan bahkan meningkat hingga 200 persen dalam dua tahun terakhir.

Baca juga: Good Doctor catat layanan meningkat enam kali lipat terkait COVID-19

Pertumbuhan positif bisnis ini terangkum dalam 3 strategi kunci yang mengedepankan nilai customer-centric:

Memposisikan diri dari kacamata pengguna

Perjalanan Alodokter bermula dari kisah sang pendiri, Suci Arumsari yang sempat didiagnosis penyakit langka pada bagian tulang belakang. Keterbatasan pergerakan Suci dan minimnya informasi akurat yang tersedia di internet membuat Suci sempat frustrasi untuk menemukan solusi dari masalahnya. Berangkat dari peristiwa yang dialaminya tersebut, Suci termotivasi untuk membuat sebuah inovasi agar tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang mengalami kesulitan seperti dirinya kala itu.

Suci mendirikan Alodokter sejak 2014 sebagai jalan keluar bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan medis yang bisa diandalkan dan berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Saat ini, Alodokter bergerak bersama lebih dari 43.000 dokter dan 1.500 rumah sakit serta klinik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Melihat peluang inovasi teknologi

Salah satu kiat yang dilakukan untuk terus berkembang adalah dengan fokus pada kenyamanan pengguna. Sebagai platform kesehatan berbasis digital atau telemedisin, ekosistem diperkuat dengan dukungan teknologi informasi mutakhir dan inovasi artificial intelligence (AI) yang menyamai standar dunia.

Hal ini juga diterapkan pada konsep online to offline yang mengintegrasikan fitur-fitur dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan. Pasien dapat melakukan konsultasi langsung dengan dokter umum atau spesialis yang tersedia melalui fitur chat di dalam aplikasi. Jika diperlukan tindakan medis lebih lanjut, pasien dapat diarahkan untuk membuat janji temu dokter untuk konsultasi langsung di rumah sakit atau melakukan pengecekan di laboratorium fasilitas pelayanan kesehatan.

Kolaborasi

Di tengah era industri 4.0 dan masyarakat yang serba digital, kolaborasi merupakan strategi kunci yang dipegang erat Alodokter, salah satunya adalah sinergi dengan layanan pembayaran digital yang memudahkan proses transaksi pengguna. Kemitraan ini menjadi langkah Alodokter agar tetap relevan untuk memfasilitasi kebutuhan pengguna yang semakin mengandalkan layanan pembayaran digital dalam bertransaksi.

Baca juga: Telemedisin bisa jadi pilihan konsultasi kasus kanker paru

Baca juga: Tantangan telemedisin di Indonesia saat ini

Baca juga: Telemedisin akan tetap jadi bagian pelayanan dokter usai pandemi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

IDI: dokter yang terlibat di telemedisin sangat kecil

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar