Kapuskes TNI: Isolasi terpusat kurangi beban RS rawat pasien COVID-19

Kapuskes TNI: Isolasi terpusat kurangi beban RS rawat pasien COVID-19

Tangkapan layar Kepala Pusat Kesehatan TNI sekaligus Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran Mayjen TNI Dr. dr. Tugas Ratmono (tengah) dan Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander Kaliaga Ginting (kiri) menyampaikan pandangannya soal peran penting isolasi terpusat pada acara bincang-bincang di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (2/9/2021). ANTARA/Genta Tenri Mawangi

Jakarta (ANTARA) - Tempat-tempat yang beralih fungsi menjadi sarana isolasi terpusat membantu mengurangi beban rumah sakit merawat pasien COVID-19, kata Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) Tentara Nasional Indonesia Mayjen TNI Dr. dr. Tugas Ratmono.

Pasalnya, sarana isolasi terpusat juga memberi layanan kesehatan dan pendampingan medis kepada pasien COVID-19 tanpa gejala dan gejala ringan sehingga mereka yang bergejala sedang dan berat dapat dirawat di RS rujukan, terang dr. Tugas saat berbicara pada acara bincang-bincang (talkshow) di Graha BNPB, Jakarta, Kamis.

“Kita sudah melihat peran isolasi terpusat ini, terutama sejak awal Maret 2020. Pemerintah membentuk Wisma Atlet sebagai tempat isolasi, saat itu isolasi untuk gejala ringan dan sedang, kemudian dengan berkembangnya jumlah kasus dan terakhir Varian Delta, kami melihat di Wisma Atlet itu puncak hunian sampai 7.167 pasien,” sebut Tugas Ratmono yang saat ini bertugas sebagai Koordinator RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran.

Baca juga: Kapolri apresiasi keterisian isoter Bali terbaik secara nasional

Oleh karena itu, Pemerintah bersama TNI dan Polri pun mengalihfungsikan beberapa bangunan menjadi sarana isolasi terpusat di Jakarta untuk membantu RS-RS rujukan COVID-19 merawat pasien.

Di samping RSDC Wisma Atlet, bangunan lain yang saat ini menjadi tempat isolasi terpusat, antara lain RSDC Rumah Susun Nagrak di Cilincing, Rusun Pasar Rumput, dan Wisma Haji.

Namun, ia menegaskan daerah-daerah yang masih masuk dalam Zona Merah wajib memiliki sarana isolasi terpusat demi menekan laju penularan dan risiko kematian.

“Intinya, isolasi terpusat harus kita siapkan betul, termasuk di provinsi-provinsi lain terutama di zona merah agar dapat sedini mungkin memantau pasien-pasien dan siapa yang terpapar COVID-19,” sebut Tugas Ratmono.

Isolasi terpusat saat ini jadi salah satu strategi Pemerintah menekan penyebaran COVID-19 terutama sejak adanya lonjakan kasus Varian Delta yang menyumbang angka kematian dan kasus positif tertinggi di tanah air pada akhir Juni sampai Juli 2021.

Sejauh ini, pemerintah daerah di sejumlah provinsi bekerja sama dengan pemerintah pusat, serta TNI dan Polri mengalihfungsikan beberapa bangunan menjadi sarana isolasi terpusat.

Baca juga: Kapolri gunakan pendekatan kearifan lokal ajak masyarakat Papua Isoter

Bahkan tidak terbatas pada bangunan, kapal-kapal milik PT Pelni pun turut beralih fungsi menjadi tempat isolasi terpusat di beberapa daerah.

Dalam kegiatan yang sama, Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander Kaliaga Ginting mengajak masyarakat untuk tidak ragu menjalankan isolasi secara terpusat demi mencegah adanya klaster keluarga dan menekan risiko kematian.

“Isolasi mandiri punya kelemahan, karena kalau rumahnya tidak memadai, itu berpotensi menyebabkan naiknya klaster keluarga,” terang dr. Alexander.

Oleh karena itu, ia berharap posko-posko PPKM yang berada di kelurahan dan desa dapat memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjalani isolasi secara terpusat daripada isolasi mandiri (isoman).

Baca juga: Isoter berdampak turunkan kasus COVID-19 di Bali
Baca juga: Pemprov kebut renovasi Asrama Atlet Kaltim guna isoter pasien COVID-19

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Keterisian RSD COVID-19 Wisma Atlet meningkat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar