Kepala BMKG tepis mitos negara rawan bencana tak bisa maju

Kepala BMKG tepis mitos negara rawan bencana tak bisa maju

Ilustrasi - Evakuasi bangunan yang roboh akibat gempa di Kota Mamuju, (22/01/2021) ANTARA/M Faisal Hanapi

yang paham mitigasi gempa memiliki peluang lebih besar untuk selamat
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati menepis mitos bahwa negara rawan bencana gempa dan tsunami tidak dapat maju dan berkembang.

Menurut Dwikorita, dengan mitigasi yang tepat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju, didukung dengan letak geografis Indonesia dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

"Meskipun Indonesia rawan gempa dan tsunami, tapi InsyaAllah dengan rahmat Allah SWT hal itu dapat kita mitigasi dengan kemajuan teknologi saat ini," ujar Dwikorita dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis.

Dwikorita mengatakan, situasi rawan bencana juga dihadapi banyak negara lain seperti Jepang, New Zealand, dan Amerika Serikat. Namun, negara-negara tersebut mampu membuktikan kepada dunia bahwa mereka bisa menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang pesat.

Baca juga: Pakar: Keterlibatan komunitas penting untuk pengurangan risiko bencana
Baca juga: Urgensi mitigasi bencana, ancaman tenggelam hingga tsunami Jakarta


Dwikorita menuturkan, kodrat Indonesia sebagai negara kepulauan yang rawan bencana gempa dan tsunami harus dijadikan motivasi bersama untuk memperkuat mitigasi bencana.

Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut mencontohkan gempa bumi yang menghantam Kota Kobe, Jepang tahun 1995 lalu. Faktanya, sebagian besar korban yang selamat itu karena pertolongan diri sendiri, yakni mencapai 34,9 persen.

Dwikorita menuturkan mereka yang selamat karena pertolongan keluarga sebanyak 31,9 persen, pertolongan teman atau tetangga 28 persen, pertolongan pejalan kaki 2,6 persen, pertolongan oleh tim penyelamat 1,7 persen, dan pertolongan lainnya hanya 0,9 persen.

"Artinya, masyarakat Kobe sudah sangat siap menghadapi bencana, dan mereka yang paham mitigasi gempa memiliki peluang lebih besar untuk selamat," ujar Dwikorita.

Baca juga: Profesor riset LIPI dorong penguatan penelitian sesar aktif
Baca juga: Pakar LIPI: Pemahaman kerak bumi penting untuk bantu mitigasi bencana
Baca juga: BNPB: Perlu peta risiko bencana pantai dan laut sebagai mitigasi

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BMKG Juanda minta waspadai bencana hidrometeorologi di Jatim

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar