BKKBN: kampung KB perlu dapur sehat atasi "stunting"

BKKBN: kampung KB perlu dapur sehat atasi "stunting"

Kabupaten Purworejo menerima penghargaan Manggala Karya Kencana dan piagam pendataan keluarga tahun 2021 dari BKKBN. ANTARA/Heru Suyitno

Purworejo (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo berharap kampung KB yang dibentuk oleh kabupaten/kota perlu mendirikan dapur sehat untuk mengatasi stunting atau tengkes/gagal tumbuh.

"Kami akan mendukung seandainya nanti di kampung KB itu ada dapur sehat untuk mengatasi stunting," kata Hasto usai memberikan penghargaan Manggala Karya Kencana dan piagam pendataan keluarga tahun 2021 di Purworejo, Jumat.

Baca juga: 500 IKM gula lontar Rote Ndao akan punya dapur sehat

Menurut dia, dapur-dapur percontohan bisa dibuat di kampung KB supaya produk lokal dimasak untuk kebutuhan lokal guna menurunkan stunting di daerah setempat.

Ia menyampaikan Peraturan Presiden tentang stunting sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 5 Agustus 2021 dan BKKBN ditunjuk menjadi ketua pelaksana percepatan penurunan stunting nasional.

"Kami berterima kasih kepada Bupati Purworejo, karena angka stunting di daerah ini jauh di bawah rata-rata nasional," katanya.

Baca juga: Tempat sampah jadi syarat dapur sehat

Angka stunting nasional masih 27,67 persen, sedangkan di Puworejo angkanya 17 persen.

"Target presiden, angka stunting di tahun 2024 adalah 14 persen, sehingga Purworejo dari 17 persen ke 14 persen cukup dekat, tetapi kalau nasional dari 27 ke 14 ini cukup berat," katanya.

Baca juga: BKKBN dan Kemsos salurkan bantuan ke Kampung KB di Papua Barat

Hasto menyampaikan salah satu sumber stunting paling serius adalah ibu hamil menderita amenia (kurang darah) dan angkanya mencapai 43 persen, kemudian pasangan yang mau nikah hampir sekitar 23 persen anemia.

Oleh karena itu, pihaknya akan ada program bersama Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan, dimana bagi calon pasangan yang akan menikah tiga bulan sebelumnya harus lapor, kemudian diukur tinggi badan, berat badan, lingkar lengan, dan menjalani periksa HB darah.

"Kalau tiga bulan sebelum nikah ketahuan bahwa dia HB-nya kurang dari 11,5 maka dia anemia, kemudian akan diberi tablet tambah darah sampai hari H nikah sehingga harapannya waktu bulan madu nanti istri sudah tidak anemia kemudian hamil tidak stunting," katanya. ***3***

Baca juga: Memadukan kampung KB dan kampung nelayan di tepi Selat Malaka

Pewarta: Heru Suyitno
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Peran tambahan BKKBN Jateng selama penanganan pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar