Lembaga tenaga kerja AS selidiki dua komplain dari pekerja Apple

Lembaga tenaga kerja AS selidiki dua komplain dari pekerja Apple

Siluet pengguna ponsel terlihat di samping proyeksi layar logo Apple dalam ilustrasi gambar yang diambil pada Rabu (28/3/2018). ANTARA FOTO/REUTERS/Dado Ruvic/AWW/sa/am.

San Fransisco (ANTARA) - Badan ketenagakerjaan nasional Amerika Serikat sedang menginvestigasi dua tuduhan terhadap raksasa teknologi Apple Inc yang diajukan oleh para pekerjanya, menurut catatan di laman daring.

Penyelidikan itu dilakukan di tengah gelombang aktivisme pekerja di perusahaan yang dikenal dengan budaya kerahasiaannya itu.

Tuduhan-tuduhan yang diajukan pada 26 Agustus dan 1 September itu tengah ditinjau oleh kantor Dewan Hubungan Tenaga Kerja Nasional AS di Oakland, California. Lembaga tersebut menolak untuk memberikan komentar.

"Kami menanggapi semua kekhawatiran dengan serius dan kami melakukan investigasi secara menyeluruh kapan pun ada kekhawatiran," kata perusahaan Apple, yang berbasis di Cupertino, California, dalam sebuah pernyataan yang merujuk pada kebijakan privacy pekerja saat menolak untuk memberikan keterangan rinci.

Manajer program teknik senior di Apple, Ashley Gjovik, mengatakan pada Reuters bahwa dirinya mengajukan tuduhan pada 26 Agustus.

Menurut dokumen berisi keluhan itu, seorang manajer antara lain melakukan pelecehan, pengurangan tanggung jawab dan peningkatan beban kerja yang tidak menguntungkan. 

Baca juga: Apple hadapi tantangan antimonopoli di India
 
Adapun tuduhan yang diajukan pada 1 September dilayangkan oleh Cher Scarlett, teknisi perangkat lunak yang mengatakan perusahaan tersebut berulang kali menghentikan diskusi terkait upah di antara para pekerja.

Dokumen yang dia kirimkan kepada lembaga tersebut, yang juga diberikan kepada Reuters, menyebutkan bahwa Apple "terlibat dalam aksi pemaksaan dan penindasan yang memungkinkan terjadinya penyalahgunaan dan pelecehan terhadap penyelenggara aktivitas bersama yang dilindungi."
 
Lembaga hubungan tenaga kerja itu menginvestigasi semua tuduhan yang diterima, dan meluncurkan tuntutan terhadap pihak perusahaan jika dirasa pantas.

Para pekerja di Silicon Valley, khususnya di Apple, diketahui menghindari publisitas, yang mencerminkan keinginan perusahaan untuk merahasiakan produk baru.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah pekerja Apple dan mantan pekerja telah mengkritik budaya perusahaan di Twitter, menggunakan tagar #AppleToo.

Undang-undang AS mengizinkan karyawan untuk mendiskusikan topik tertentu secara terbuka, termasuk terkait kondisi kerja.

Selain itu, para pekerja terlibat dalam perdebatan sengit di platform pesan Slack tentang langkah Apple yang memindai telepon dan komputer pelanggan AS untuk memeriksa gambar pornografi anak, menurut laporan Reuters.

Baca juga: Apple digugat karena Siri disebut melanggar privasi pengguna

Dalam sebuah surat yang menyertai tuntutan NRLB-nya, Scarlett menulis bahwa karyawan Apple memulai survei ekuitas gaji pada April, namun perusahaan memblokir mereka, dengan alasan masalah privasi.

Perusahaan juga menghentikan survei selanjutnya, termasuk yang bertujuan untuk mengatasi masalah privasi, tambah Scarlett.

Pada akhir Agustus, Apple menolak permintaan karyawan untuk membuat channel di program Slack untuk membahas kesetaraan upah, yang disebut Scarlett kepada Reuters sebagai "kejadian terbaru" yang mendorongnya mengajukan keluhan.

Gjovik mengatakan pada Reuters bahwa setelah Apple mulai menyelidiki keluhan-keluhannya, serta tuduhan seksisme, manajer-manajernya mulai mengalihkan pekerjaannya kepada rekan-rekan lain serta membebaninya dengan tugas-tugas yang tak diinginkan.

Gjovik mengatakan dirinya merasa terdorong usai melihat lebih banyak pekerja berbicara terkait budaya perusahaan dalam beberapa pekan terakhir.

"Hambatan terbesar untuk membuat kemajuan di Apple adalah budaya kerahasiaan dan pengasingan," ujarnya.

Sumber: Reuters

Baca juga: Apple longgarkan aturan App Store usai penyelidikan JFTC

 

Menkominfo minta operator seluler jaga kualitas jaringan internet

Penerjemah: Aria Cindyara
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar