Prabukusumo Mundur Dari Demokrat Atas Pertimbangan Pribadi

Jakarta (ANTARA News) - Gusti Kanjeng Ratu Hemas mengatakan, mundurnya adik kandung Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo, dari Partai Demokrat atas pertimbangan pribadi bukan karena desakan keraton.

"Keputusan Prabukusumo mundur dari Partai Demokrat merupakan merupakan hak pribadinya," kata Ratu Hemas di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis.

Menurut Ratu Hemas, sebelum memutuskan mundur dari Partai Demokrat dan dari jabatan Ketua DPD Partai Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta, Prabukusumo belum bertemu dan belum membicarakan soal rencana mundur tersebut dengan Sultan Hamengku Buwono X.

Secara pribadi Hemas menghormati sikap Prabukusumo yang mundur dari Partai Demokrat dan dari jabatan Ketua DPD Partai Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Keputusan mundur itu menjadi haknya secara pribadi dan mungkin sudah dipertimbangkan. Mudah-mudahan keputusan tersebut bisa membawa pengaruh positif bagi Yogyakarta," kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini.

Menurut Hemas, usulan rancangan undang-undang tentang Keistimewaan Yogyakarta dari DPD sudah cukup mewakili, karena seluruh anggota DPD dari seluruh Indonesia semuanya mendukung penetapan Sultan Hamengku Buwono sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hemas menambahkan, dirinya tidak berpolitik praktis dan terpilih sebagai anggota DPD dari Daerah Istimewa Yogyakarta atas pilihan masyarakat Yogyakarta.

"Saat itu masyarakat Yogyakarta yang memilih saya sekitar 80 persen. Ini menjadi bukti bahwa masyararakat Yogyakarta juga mendukung Sultan Hamengku Buwono," katanya.

Masyarakat Yogyakarta, kata dia, menginginkan agar Sultan Hamengku Buwono ditetapkan bukan dipilih.

Hemas mempertanyakan, apa ukuran survei yang dilakukan pemerintah yang menyebutkan masyarakat Yogyakarta menginginkan pemilihan langsung.

GBPH Prabukusumo mengundurkan diri dari Partai Demoktrat dan dari Ketua DPD Partai Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta mulai Kamis ini.(*)

(T.R024/I007/R009)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar