Paralimpiade Tokyo 2020

Penghargaan "I'mPossible" warnai penutupan Paralimpiade Tokyo 2020

Penghargaan "I'mPossible" warnai penutupan Paralimpiade Tokyo 2020

Pancaran kembang api menghiasi langit di atas Olympic Stadium pada penutupan Paralimpiade Tokyo 2020, (5/9/2021). ANTARA/AFP/Charly Triballeau/aa.

Jakarta (ANTARA) - Penghargaan "I'mPossible," yang diinisiasi oleh Komite Paralimpiade Internasional (IPC), mewarnai penutupan Paralimpiade Tokyo 2020 di Tokyo, Jepang, Minggu malam.

"I'mPossible" merupakan gerakan yang diinisiasi IPC pada 2017. Penghargaan diberikan kepada mereka yang dinilai berkontribusi terhadap dunia yang lebih inklusif. Mereka dianggap menginspirasi dan merupakan agen perubahan.

Penerima penghargaan "I'mPossible" di antaranya adalah Lassam Katongo dari Zambia dan Katarzyna Rogowiec dari Polandia, yang merupakan pelari dan pemain ski pada Paralimpiade sebelumnya.

Upacara penutupan Paralimpiade Tokyo, yang mengakhiri hampir dua pekan kompetisi di antara para atlet penyandang disabilitas dari seluruh dunia, digelar di Stadion Nasional.

Seperti halnya Olimpiade yang berakhir pada 8 Agustus, upacara penutupan dibuka di depan lautan kursi kosong dengan hanya sejumlah pejabat yang menghadiri, termasuk Putra Mahkota Jepang Akishino dan Presiden Komite Paralimpiade Internasional (IPC), Andrew Parsons.

Baca juga: Kontingen Indonesia melampaui target awal di Paralimpiade Tokyo

Upacara penutupan Paralimpiade Tokyo, yang dimulai pukul 20.00 waktu setempat atau pukul 18.00 WIB, dibuka dengan penampilan sekelompok seniman muda Jepang terdiri dari komposer, gitaris, drumer dan violinis, yang merupakan penyandang disabilitas.

Penari kemudian memenuhi bagian tengah lapangan, yang ternyata telah dikelilingi oleh sejumlah peserta Paralimpiade di kursi yang telah disediakan.

Penampilan para penari, yang mengenakan baju warna-warni seperti diusung pada logo Paralimpiade, tersebut ditutup dengan kembang api yang memancarkan warna serupa dari atap stadion.

Para penari kemudian meninggalkan tengah lapangan yang bertuliskan "Tokyo 2020 Paralympics Game," sambil menunjukkan kertas bertuliskan "Thank you to all..."

Baca juga: Presiden IPC mengaku "emosional" jelang penutupan Paralimpiade Tokyo

Bendera Jepang yang dibawa oleh sejumlah peraih medali -- termasuk peraih emas Sato Tomoki dan atlet para-renang berusia 14 tahun yang menjadi peraih medali termuda Jepang, Yamada Miyuki -- untuk kemudian dikibarkan.

Selanjutnya, pawai atlet membawa bendera memasuki lapangan dengan diawali oleh bendera tim pengungsi Paralimpiade.

Terlepas dari kesulitan, seperti protokol perjalanan COVID-19, sekitar 4.400 atlet dari 162 negara dan wilayah, berkompetisi di Paralimpiade, yang dibuka pada 23 Agustus.

Di antara para atlet yang berkompetisi tersebut termasuk dua di antaranya adalah atlet dari Afghanistan yang berhasil dievakuasi, dan akhirnya tiba di Tokyo, berkat upaya multinasional.

Paralimpiade Tokyo 2020 memperebutkan 539 medali di 22 cabang olahraga, di mana para-taekwondo dan parabulutangkis dipertandingkan untuk pertama kalinya.

Baca juga: Raihan dua emas Leani Ratri memiliki makna luar biasa bagi Indonesia
Baca juga: Penantian emas empat dekade Indonesia di Paralimpiade pecah di Tokyo
Baca juga: Presiden lakukan panggilan video dengan atlet Paralimpiade Tokyo 2020

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Inilah cita-cita peraih dua medali emas Paralimpiade Tokyo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar