UI bahas problematika pendidikan melalui Gerakan UI Mengajar

UI bahas problematika pendidikan melalui Gerakan UI Mengajar

Direktur Sekolah Dasar Kemendikbud Ristek RI Nur Fitrianna dalam acara Grand Opening Gerakan UI Mengajar 11. (ANTARA/HO-UI)

Jakarta (ANTARA) - Universitas Indonesia (UI) membahas sejumlah permasalahan yang menjadi problematika pendidikan terutama pada sekolah dasar di daerah-daerah pelosok pada masa pandemi COVID-19 melalui pembukaan Gerakan UI Mengajar 11 (GUIM 11).

"Pendidikan adalah salah satu faktor yang membawa kita pada kemerdekaan. Pendidikan yang tidak baik dapat menyeret kita kembali pada ketertinggalan," kata salah satu anggota proyek GUIM 11 Dian Anggreini dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Ahad.

GUIM hadir ke wilayah pelosok Indonesia untuk memberikan manfaat, serta inspirasi semangat belajar kepada anak-anak sekolah dasar di titik kegiatan.

Melalui GUIM, mahasiswa diharapkan lebih peka terhadap masalah-masalah yang terkait dengan ketidakmerataan pendidikan di Tanah Air. Sehingga dapat mendorong pergerakan mahasiswa, untuk turut berkontribusi mewujudkan pendidikan tanah air yang lebih baik.

Baca juga: Pembukaan Gerakan UI Mengajar hadirkan sejumlah tokoh inspiratif

Baca juga: Gerakan UI Mengajar galang dana bantu sekolah di pelosok negeri


Acara tersebut turut mengundang sejumlah tokoh inspiratif, untuk mengungkap problematika dalam dunia pendidikan sekolah dasar di daerah terpelosok.

Beberapa tokoh inspiratif yang hadir yakni Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbud Ristek RI Nur Fitrianna, Chief Operating Officer Sekolah.mu Radinka Qiera dan Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi di UI Shahnaz Safitri.

Dalam acara itu Nur mengatakan program pengabdian masyarakat seperti GUIM 11, harus tepat guna dan tepat sasaran karena kebutuhan pendidikan untuk setiap daerah pelosok bisa berbeda sehingga program tersebut perlu disesuaikan dengan karakter dari daerah sasaran masing-masing.

Radinka mengungkapkan masalah ketidakmerataan pendidikan bukan akibat dari pandemi COVID-19. Masalah itu telah ada sejak lama, namun pandemi membuat ketidakmerataan semakin terlihat jelas.

“Pandemi ini memaksa percepatan digitalisasi dalam dunia pendidikan dan mendorong terwujudnya future of education yang dapat diakses dari kapan dan di mana saja. Digitalisasi pendidikan ini juga harus dibarengi dengan kolaborasi dari berbagai pihak agar tujuan lebih mudah tercapai,” kata Radinka.

Selanjutnya Shahnaz menjelaskan pendidikan jarak jauh (PJJ), bisa menjadi strategi untuk keberlanjutan belajar anak pada situasi krisis pandemi COVID-19. Dia memberikan sejumlah rekomendasi untuk pembelajaran di tengah pandemi COVID-19, seperti pelatihan bagi guru untuk pelaksanaan PJJ, pendampingan orang tua dan komunitas untuk terlibat di dalam pendidikan anak.

GUIM adalah kegiatan pengabdian masyarakat, yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UI (BEM UI). Kegiatan itu berfokus pada pendidikan sekolah dasar di daerah terpelosok yang berkomitmen untuk mewujudkan aksi nyata memajukan pendidikan tanah air melalui kesetaraan pendidikan.*

Baca juga: Peneliti UI: PJJ belum diterima sebagai proses belajar mengajar

Baca juga: Empat dosen Vokasi Humas UI mengajar di Malaysia

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Perlu ada standar nasional agar PTS bisa kompetitif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar