Deteksi kanker prostat tak mungkin sekedar lewat perabaan

Deteksi kanker prostat tak mungkin sekedar lewat perabaan

Ilustrasi - Kanker prostat. ANTARA/Pixabay.

Jakarta (ANTARA) - Tak seperti kanker payudara, deteksi dini kanker prostat tak bisa melalui sekedar perabaan pada organ tubuh tertentu, kata dokter spesialis urologi dari Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, SpU(K), PhD.

"(Prostat) letaknya di dalam, jadi tidak mungkin ada orang tiba-tiba hanya menyentuh tangan, pipi atau organ lain, lalu mengatakan Anda kena prostat. Karena ini di dalam, di bawah kandung kencing, tidak mungkin terlihat dari luar," kata dia dalam virtual media briefing bertema "Kenali Prostatmu: Pentingnya deteksi dini dan penanganan kanker prostat pada orang dewasa untuk meningkatkan usia harapan hidup", Senin.

Baca juga: Para pesohor dengan riwayat kanker sepanjang 2019

Agus yang menjabat sebagai Ketua Prostate Awareness Month itu menyarankan para pria melakukan pemeriksaan antigen spesifik prostat (PSA) sebagai salah satu langkah deteksi. 

PSA atau pemeriksaan darah tanpa mempertimbangkan waktu tertentu ini bisa dilakukan berbarengan dengan pemeriksaan kesehatan (medical check-up) yang umumnya disarankan setahun sekali.

"Skrining kanker sebaknya dilakukan setahun sekali, tetapi akan kita evaluasi. Menurut studi ada sebagian orang yang bisa (skrining) 2 tahun sekali, untuk praktisnya sebaiknya setahun sekali bersamaan dengan medical check-up," ujar Agus.

Nilai normal PSA yakni di bawah 4 ng/ml. Kemungkinan terjadinya kanker akan meningkat seiring dengan peningkatan PSA. Kadar PSA 3,1-4 ng/ml dikaitkan dengan risiko kanker prostat sebesar 26,9 persen. Peningkatan nilai apabila terdapat pembesaran pada prostat jinak, prostatitis, dan kondisi jinak lainnya.

Skrining untuk kanker prostat dapat mulai dilakukan bagi pria berusia di atas 45 tahun dengan riwayat kanker prostat pada keluarganya dan pria berusia di atas 50 tahun yang memiliki keluhan gangguan berkemih.

Selain PSA, deteksi dini kanker prostat juga bisa melalui Digital Rectal Exam (DRE) atau colok dubur untuk menilai dan melihat ukuran prostat, konsistensi, bentuk, serta ada atau tidaknya abnormalitas bentuk pada prostat dan wawancara riwayat penyakit (anamnesis).

Lebih lanjut, diagnosis seorang pria terkena atau tidaknya kanker melalui biopsi yang bisa dilakukan melalui lubang dubur atau selangkangan dan pemeriksaan pencitraan seperti TRUS, CT, mpMRI hingga bone scan.

Prostat merupakan kelenjar pada pria yang terletak di bawah kandung kemih dan di sekitar saluran kencing. Kelenjar ini berfungsi untuk memproduksi cairan yang membawa air mani atau semen dan membantu mengeluarkan air mani saat ejakulasi.

Normalnya, ukuran prostat sebesar 15-25 ml atau seukuran chestnut. Namun, seiring bertambahnya usia, prostat bisa bertambah besar usia akibat perubahan hormonal.


Baca juga: RSUI berhasil operasi pembesaran prostat jinak tanpa bekas sayatan

Baca juga: Waktu sebaiknya pria skrining untuk deteksi dini kanker prostat

Baca juga: Dokter sebut kanker prostat penyebab terbanyak kematian pada pria

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

PSA - Aman naik LRT Sumsel

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar