COVID sebabkan banyak kematian TBC, AIDS di negara miskin

COVID sebabkan banyak kematian TBC, AIDS di negara miskin

Petugas kesehatan berjalan melewati sejumlah tenda yang dipasang di lapangan parkir Rumah Sakit Akademi Steve Biko, ditengah penguncian nasional akibat wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Pretoria, Afrika Selatan, Senin (11/1/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Siphiwe Sibeko/HP/djo

Jenewa (ANTARA) - Ratusan ribu orang akan meninggal karena tuberkulosis jika tidak diobati, pada saat sistem perawatan kesehatan di negara-negara miskin mengalami gangguan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, kata lembaga bantuan dana internasional Global Fund.   
 
Di beberapa negara termiskin di dunia, kematian yang begitu banyak akibat AIDS dan tuberkulosis (TBC) bahkan bisa melebihi kematian akibat virus corona itu sendiri, kata kepala badan bantuan yang berbasis di Jenewa itu. 
 
Laporan tahunan IMF untuk 2020 yang dirilis pada Rabu, menunjukkan bahwa, di negara-negara tempat lembaga keuangan itu beroperasi, jumlah orang yang dirawat karena TBC yang resistan terhadap obat turun 19 persen.

Penurunan sebesar 11 persen dilaporkan dalam program dan layanan pencegahan HIV.

"Pada dasarnya, ada sekitar kurang dari satu juta orang yang dirawat karena TB pada 2020 dibandingkan pada 2019 dan saya khawatir itu bisa berarti bahwa ratusan ribu orang akan meninggal," Direktur Eksekutif Peter Sands mengatakan kepada Reuters.

Sementara jumlah kematian yang tepat belum diketahui, Sands mengatakan bahwa untuk beberapa negara miskin, seperti bagian dari wilayah Sahel di Afrika, kematian yang begitu banyak akibat kemunduran dalam memerangi penyakit seperti TBC atau AIDS mungkin terbukti lebih tinggi daripada akibat COVID-19 itu sendiri.

Baca juga: TBC juga mematikan seperti COVID-19

Global Fund adalah aliansi pemerintah, masyarakat sipil, dan mitra sektor swasta yang menginvestasikan lebih dari empat miliar dolar AS (sekitar Rp56,9 triliun) per tahun untuk memerangi tuberkulosis, malaria, dan AIDS. Amerika Serikat adalah donor utamanya.

Sands mengatakan layanan terpengaruh oleh penguncian COVID-19 sementara klinik, staf, dan diagnostik yang biasanya digunakan untuk TBC, malah dikerahkan untuk COVID-19 di negara-negara seperti India dan di seluruh Afrika.

Dia menambahkan bahwa dia memperkirakan gangguan akan terjadi lebih lanjut tahun ini karena varian Delta.

Dia mengatakan penurunan pengobatan untuk penyakit lain "menggarisbawahi perlunya melihat dampak total COVID-19 dan mengukur keberhasilan dalam memeranginya, tidak hanya dengan penurunan jumlah kematian akibat COVID-19 itu sendiri tetapi juga dampak yang ditimbulkan".

Malaria terbukti menjadi pengecualian perkembangan pada 2020, dan kegiatan pencegahan tetap stabil atau meningkat dibandingkan dengan 2019, kata Global Fund.

Sumber: Reuters

​​​​​​​Baca juga: Survei: Mayoritas ODHA bersedia divaksin COVID-19

Baca juga: IMF: Afrika sangat butuh vaksin untuk hentikan gelombang COVID


 

Alat diagnosis TBC akan dikonversi untuk pemeriksaan corona

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar