Kemenperin: Industri batik mendapat prioritas pengembangan pemerintah

Kemenperin: Industri batik mendapat prioritas pengembangan pemerintah

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi. ANTARA/Humas Kemenperin.

Sektor ini menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu orang dalam 47.000 unit usaha dan tersebar di 101 sentra
Yogyakarta (ANTARA) - Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi mengatakan, bahwa industri batik yang didominasi sektor mikro dan menengah turut mendapat prioritas pengembangan oleh Kemenperin.

"Hal ini cukup beralasan karena industri tersebut mempunyai daya ungkit dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional," kata Doddy dalam keterangan tertulis yang diterima di Yogyakarta, Jumat.

Berdasarkan data Kemenperin, capaian ekspor batik pada 2020 mencapai 532,7 juta dolar AS, dan pada triwulan satu pada tahun 2021 mencapai 157,8 juta dolar AS. Tujuan utama ekspor batik Indonesia juga telah merambah pasar Amerika Serikat, Jepang, Jerman dan Australia.

"Sektor ini menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu orang dalam 47.000 unit usaha dan tersebar di 101 sentra," katanya.

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta Heru Kustanto mengatakan, sebagai upaya memberikan kontribusi pada pengembangan industri batik dan kerajinan, BBKB menggelar kegiatan bertajuk NgoPPi (Ngobrol Pagi Penuh Inspirasi) secara virtual dari Septemper sampai November.

Dengan topik yaitu Strategi Bisnis Industri Kerajinan dan Batik di Era 4.0, Selisik Autentik Batik, Desain Batik Digital, Bagaimana Membuat Desain Batik Digital, Menyiapkan SDM Industri 4.0 dan Digital Marketing, Teknologi Pewarna Batik, Pengolahan Limbah Batik Sederhana, dan Perkembangan Teknologi Batik.

"Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyebarluaskan pengetahuan dan menyatukan gagasan atau pemikiran dalam memperkuat industri kerajinan dan batik guna menyongsong industri 4.0," katanya.

Menurut dia, pada diskusi perdana yang diikuti sekitar 150 peserta terdiri civitas akademika, pemda, asosiasi serta pelaku usaha industri batik dari berbagai daerah itu, mengerucut pada seputar pengelolaan manajemen bisnis dan strategi sektor industri batik dalam menghadapi turbulensi karena turunnya permintaan produk.

Heru mengatakan, aspek kompetensi di bidang batik menjadi salah satu komponen manajemen strategi yang bisa digenjot oleh industri batik, selain aspek penetapan visi bisnis dan adaptasi skenario untuk menghadapi turbulensi bisnis yang tengah terjadi.

"Selain itu optimisme, peningkatan kapabilitas dalam inovasi desain dan produk menjadi pesan utama yang terus disampaikan kepada para pelaku industri batik," katanya.

Baca juga: Koleksi batik karya diaspora Entin Gartini melenggang di Kanada
Baca juga: KBRI Windhoek kenalkan seni batik kepada masyarakat Namibia
Baca juga: Bateeq rilis koleksi terbaru dengan tema "Nostalgia"

 

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Cegah korupsi, Kemenperin luncurkan Sistem Informasi Pengawasan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar