Cara orang tua dukung minat anak jadi kreator konten sedari dini

Cara orang tua dukung minat anak jadi kreator konten sedari dini

Ilustrasi orang tua mendampingi anak untuk memenuhi minatnya menjadi content creator. (ANTARA/HO/Pexels)

Jakarta (ANTARA) - Salah satu profesi yang tengah naik daun dalam kurun waktu lima tahun terakhir berkat adanya kemajuan teknologi adalah kreator konten, tidak sedikit juga anak-anak yang masih kecil kini bermimpi, menaruh minat, dan bercita-cita menjadikan kreator konten sebagai profesinya kelak.

Psikolog klinis Saskhya Aulia Prima dari Tiga Generasi membagikan beberapa kiat bagi orang tua agar bisa mendukung minat sang buah hati menjadi pembuat konten digital agar bisa berjalan baik dan utamanya bisa mengembangkan kepercayaan diri anak dengan optimal.

"Pertama untuk mendukung minat anak, yang paling penting itu value atau nilai keluarga. Ajarkan yang baik, jadi ketika anak mau berkreasi kita bisa mengarahkan dia melakukan kegiatan bermanfaat, sesuatu yang ada nilainya. Apalagi kalau mau jadi content creator digital itu kan digital footprint tidak bisa dihapus," kata Saskhya dalam webinar baru- baru ini.

Baca juga: Meraup "cuan" dari optimasi media sosial ala Ogut

Selain menanamkan nilai- nilai dan juga manfaat kepada anak dari usia dini, orang tua juga harus membiasakan anak berjalan memahami proses dari sebuah peristiwa dan bukan berfokus pada hasil akhir.

Poin itu kerap kali dilupakan oleh orang tua dan sering kali terjadi sehingga pada akhirnya anak malah sibuk mendapatkan hasil akhir sesuai ekspektasinya tanpa memahami proses yang dijalani dalam setiap peristiwa.

Meski bisa jadi ketika anak berfokus pada likes, komentar, hingga isi konten karena terpengaruh lingkungan sosial lainnya. Namun sikap keluarga yang tak memperhatikan anak untuk belajar mendalami proses dalam peristiwa juga bisa berpengaruh fatal pada masa depannya.

Baca juga: Kolaborasi kreator konten antarnegara buat peluang bisnis kreatif

"Kadang orang tua lupa buat ngobrol soal proses, yang ditanya seringnya out put. Misalnya ngobrol setiap hari nanyanya kamu dapat nilai ujian berapa? Kamu lulus atau enggak?. Tapi tidak pernah ditanya bagaimana perasaanmu hari ini? Bagaimana kamu melakukan prosesnya? Jadi seringkali anak diajarkan untuk meraih sesuatu tapi lupa diajarkan ketika sesuatu lepas atau tidak tercapai bagaimana menanganinya," kata Saskhya.

Psikolog lulusan UI itu pun menyebutkan pembelajaran proses pada anak- anak dalam memenuhi minatnya juga perlu disesuaikan dengan usianya.

Misalnya pada anak- anak di bawah 14 tahun, orang tua tetap harus mendampingi dan menanyakan bagaimana prosesnya membuat video. Lalu memuji anak ketika anak berhasil membuat sebuah video.

Baca juga: Menparekraf: Komedian dan konten kreator profesi menjanjikan

Lalu pada anak di atas 14 tahun orang tua bisa memberikan semangat atau dukungan, ajak dia mengobrol seperti teman tanyakan bagaimana perasaannya apakah senang, sedih, atau gundah. Agar ketika ia berproses membuat konten dan menjadi content creator ia bisa terlatih menangani hal- hal yang berada di luar kontrolnya.

Dengan menitikberatkan pada pendidikan berproses maka nantinya anak bisa menjalani minatnya dengan maksimal termasuk menjadi kreator konten yang handal dan bisa menginspirasi banyak orang.

Baca juga: Pengguna media sosial diharap bisa terapkan empati saat berkomentar

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar