Gernas BBI Aceh, momentum perkuat pengelolaan perikanan Selat Malaka

Gernas BBI Aceh, momentum perkuat pengelolaan perikanan Selat Malaka

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim. ANTARA/Dokumentasi Pribadi.

Tak kalah penting adalah melakukan penguatan terhadap Lembaga Pengelola WPP-NRI, Demikian pula Komnas Kajiskan (Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan)
Jakarta (ANTARA) - Penyelenggaraan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) di Aceh yang digelar oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada September 2021 bisa menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan perikanan nasional di Selat Malaka.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim ketika dihubungi Antara di Jakarta, Minggu, sepakat bahwa Gernas BBI di Aceh seharusnya menjadi momentum untuk lembaga pengelola Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 571 yang juga meliputi Selat Malaka.

"Tak kalah penting adalah melakukan penguatan terhadap Lembaga Pengelola WPP-NRI, Demikian pula Komnas Kajiskan (Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan)," kata Abdul Halim.

Menurut dia, lembaga pengelola WPP-NRI dan Komnas Kajiskan merupakan dua elemen penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

"Tanpa kedua hal ini, KKP bakal terjebak pada isu-isu yang tak membumi, di antaranya lumbung ikan, sentra lobster terbesar di dunia," katanya.

Ia mengutarakan harapannya agar tema KKP dalam Gernas BBI Ragam Aceh dapat dioperasionalkan dan diimplementasikan dengan tepat sehingga tercapai.

Sebelumnya, Senior Advisor for the Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) Sustainable Fishery Programme M. Zulficar Mochtar mengemukakan, kajian stok perikanan perlu dimutakhirkan secara reguler yaitu sekitar 1-2 tahun sekali, sedangkan saat ini adalah sekitar 5 tahun sekali.

"Kalau terlalu lama, jangan-jangan stok yang ada di situ sudah berubah," kata Zulficar Mochtar.

Selain itu, ujar Zulficar, bila perubahannya sudah sangat besar penyimpangannya maka dicemaskan dapat terjadi bias dan kesalahan dalam proses pengambilan keputusan terkait pengelolaan perikanan berkelanjutan tersebut.

Zulficar yang juga merupakan mantan Dirjen Perikanan Tangkap KKP ini mengingatkan bahwa data yang akurat penting sebagai masukan ke dalam manajemen perikanan berkelanjutan agar realistis dalam penerapannya.

Ia merekomendasikan agar ada pemisahan secara spesifik beragam komoditas perikanan unggulan dalam perhitungan stok ikan, serta adanya sistem perizinan yang terhubung secara langsung dengan sistem manajemen pengelolaan stok ikan, agar dapat dijadikan referensi untuk menentukan perpanjangan perizinan tangkap berbagai kapal ikan.

Baca juga: Gernas BBI Aceh hadir agar camilan ikan jadi pendamping minum kopi

Baca juga: Gernas BBI, Aceh berpotensi jadi lumbung ikan nasional

Baca juga: KKP jadikan Aceh Timur sentra produksi udang vaname

Baca juga: Gernas BBI, KKP perlu angkat wisata kuliner Aceh yang "maknyus"

 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Nadiem ingin Maluku mendunia melalui Gernas BBI

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar