Petani milenial diharapkan bangkitkan kearifan lokal mandiri pangan

Petani milenial diharapkan bangkitkan kearifan lokal mandiri pangan

Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) Guntur Subagja Mahardika (kiri) dalam pembukaan pelatihan petani milenial "1000 Langkah Petani Untuk Indonesia", di Balai Pelatihan Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat, Sabtu (11/9/2021). (Antara/HO/Intani)

Jakarta (ANTARA) - Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) menyatakan petani milenial diharapkan menjadi solusi mengatasi permasalahan pertanian dan peternakan di tanah air guna mewujudkan kemandirian pangan.

"Petani milenial harus mengoptimalkan potensi daerah dan kearifan lokal untuk mendorong kemandirian pertanian dan peternakan," ujar Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Terkait hal itu, pihaknya mendorong generasi muda terjun dalam sektor pertanian, baik pada sektor budidaya maupun pasca panen, termasuk rantai pasok agrobisnis.

Salah satu upaya yang dilakukan organisasi tersebut, menurut Guntur yakni pelatihan petani milenial "1000 Langkah Petani Untuk Indonesia", di Balai Pelatihan Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat, Sabtu (11/91).

Pelatihan yang diselenggarakan Intani bersama Tani Foundation, Pemuda Tani HKTI, Raja Tani Nusantara, dan didukung DKPP Provinsi Jawa Barat, Sygenta, Unilever, dan Kitabisa, diikuti 20 petani milenial dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat.

Guntur Subagja menyatakan, pihaknya konsen dalam mencetak dan membangun semangat petani muda, untuk mengatasi krisis generasi petani. Dengan membangun ekosistem pertanian terintegrasi diharapkan juga menciptakan wirausahawan muda baru dan lapangan kerja.

Kesempatan itu, Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI tersebut menyatakan masyarakat Jawa Barat sejak dulu memiliki budaya mandiri pertanian yang harus dilanjutkan oleh generasi muda.

"Masyarakat Jawa Barat memiliki kultur mandiri dalam pertanian. Dulu di rumah-rumah di kampung umumnya di halaman rumahnya ditanami pertanian, ada kolam ikan, dan di belakang ada ternak ayam, kambing atau sapi, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tabungan" ujarnya.

Menurut dia, pandemi COVID-19 dapat menjadi momentum kebangkitan pertanian nasional, yang mana Jawa Barat dapat menjadi salah satu motornya.

"Di tengah pandemi kita harus mampu memenuhi kebutuhan nasional secara mandiri, dan kita bisa," kata Guntur.

Sementara itu Kepala DKPP Provinsi Jawa Barat, Jafar Ismail mengungkapkan usaha pertanian dan peternakan harus menjadi pilihan milenial karena terbukti tetap tumbuh di tengah pandemi COVID-19.

"Jawa Barat mandiri peternakan ayam, domba/kambing, namun sapi baru sebagian mandiri sisanya masih tergantung dari daerah lain dan impor," katanya.

Jafar mengapresi para petani milenial yang tertarik mengembangkan sektor pertanian, khususnya di Jawa Barat.
Baca juga: Menteri Pertanian harapkan petani milenial jadi tumpuan pembangunan
Baca juga: Rahmat Gobel: Bangun ekosistem untuk petani milenial

Pewarta: Subagyo
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Presiden: Tahun ini Indonesia belum pernah impor beras

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar