Tenis

Djokovic mengaku "lega" gagal sapu bersih Grand Slam tahun ini

Djokovic mengaku "lega" gagal sapu bersih Grand Slam tahun ini

Arsip - Petenis asal Serbia Novak Djokovic melakukan backhand saat bertanding melawan petenis asal Jerman Alexander Zverev (tidak ada di foto) pada hari ke-12 turnamen tenis US Open 2021 di USTA Billie Jean King National Tennis Center, Flushing, New York, Amerika Serikat, Jumat (10/9/2021). REUTERS/Robert Deutsch-USA TODAY Sports/foc/cfo

Jakarta (ANTARA) - Kekalahan Novak Djokovic di final US Open membuat dia kehilangan gelar sapu bersih Grand Slam kalender tahun 2021, namun petenis nomor satu dunia asal Serbia itu justru senang tekanan untuk mengejar kesempurnaan itu akhirnya berakhir.

Djokovic meneteskan air mata setelah upayanya yang melelahkan -- baik secara fisik maupun emosional -- untuk menjadi orang pertama sejak 1969 yang memenangi empat Grand Slam tahun ini berakhir dengan kekalahan yang mengejutkan dari unggulan kedua asal Rusia Daniil Medvedev.

"Lega," kata Djokovic yang berusia 34 tahun ketika ditanya bagaimana perasaannya usai pertandingan.

"Saya senang ini sudah berakhir karena persiapan untuk turnamen ini dan segala sesuatu yang secara mental, emosional harus saya tangani sepanjang turnamen dalam beberapa pekan terakhir ini sangat banyak. Banyak yang harus ditangani," Djokovic melanjutkan, dikutip dari Reuters, Senin.

Baca juga: Medvedev juara US Open, kandaskan mimpi rekor Grand Slam Djokovic
Baca juga: Pelatih Matteo Berrettini yakin Djokovic kali ini terjungkal


Sejak awal, Djokovic tidak mampu menyamai level yang dibawa oleh Medvedev, yang membuktikan keberaniannya dan semakin kuat saat pertandingan berlangsung kecuali beberapa ketegangan di akhir pertandingan ketika dia mencoba untuk menyelesaikan gelar Grand Slam pertamanya.

Djokovic mengaku bahwa waktu yang dihabiskan di lapangan tahun ini akhirnya memakan korban dan dia merasa kekurangan energi.

"Kaki saya tidak ada di sana. Saya mencoba. Saya melakukan yang terbaik. Ya, saya membuat banyak kesalahan sendiri. Saya tidak punya – tidak ada servis yang benar-benar bagus," kata Djokovic.

"Jika Anda bermain melawan seseorang seperti Medvedev yang memukul dengan sangat baik, ace, mendapat banyak poin gratis pada servis pertamanya, Anda terus-menerus merasakan tekanan pada permainan servis Anda."

"Saya berada di bawah standar, sejujurnya. Jadi ini adalah salah satu hari kurang beruntung, ya, belum jodohnya."

Selama pertandingan final, yang juga memupuskan harapan untuk meraih rekor Grand Slam ke-21, emosi menguasai petenis Serbia yang memegang handuk di wajahnya dan menangis, kewalahan oleh dukungan yang dia dapatkan dari penonton.

Djokovic, yang belum mendapatkan tingkat kekaguman yang sama seperti yang diberikan kepada rivalnya Roger Federer dan Rafael Nadal, mengatakan air mata adalah hasil dari perasaan yang belum pernah dia alami sebelumnya dari penonton New York.

"Penonton membuat saya sangat istimewa. Mereka mengejutkan saya. Saya tidak tahu, saya tidak mengharapkan apa pun, tetapi jumlah dukungan, energi, dan cinta yang saya dapatkan dari penonton adalah sesuatu yang akan saya ingat selamanya," kata Djokovic.

"Maksud saya, itulah alasan saya menangis. Emosi, energinya sangat kuat. Maksud saya, sekuat memenangi Grand Slam ke-21. Itulah yang saya rasakan, jujur. Saya merasa sangat, sangat istimewa," dia menambahkan.

Baca juga: Emma Raducanu banjir ucapan selamat setelah juarai US Open
Baca juga: Raducanu tempati peringkat ke-23 dunia usai juara US Open 2021

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Potret arena tenis, Priska: mirip US Open

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar