Brazil ingin stop vaksinasi COVID bagi remaja setelah terjadi kematian

Brazil ingin stop vaksinasi COVID bagi remaja setelah terjadi kematian

Sebuah kontainer yang merupakan bagian dari pengiriman satu juta dosis vaksin penyakit virus korona (COVID-19) Pfizer-BioNTech dikeluarkan dari sebuah pesawat di Bandara Internasional Viracopos, di Campinas, Brazil, Kamis (29/4/2021). REUTERS/Amanda Perobelli/hp/cfo (REUTERS/AMANDA PEROBELLI)

Brasilia (ANTARA) - Pemerintah federal Brazil ingin menghentikan vaksinasi COVID-19 untuk sebagian besar remaja, dengan alasan kematian yang sedang diselidiki dan efek samping setelah sekitar 3,5 juta remaja telah diimunisasi, tetapi beberapa pemerintah negara bagian berjanji untuk melanjutkan.

Pada konferensi pers, Menteri Kesehatan Marcelo Queiroga mengkritik negara bagian dan kota karena tergesa-gesa memvaksin anak berusia 12 hingga 17 tahun tanpa masalah kesehatan yang menempatkan mereka pada risiko COVID-19 yang parah.

Queiroga mengatakan remaja sehat yang telah mengambil satu suntikan tidak boleh mengambil vaksin kedua. Larangan suntikan kedua itu secara efektif merupakan upaya menghentikan imunisasi nasional untuk remaja.

Dalam sebuah pernyataan, regulator kesehatan federal Anvisa mengatakan "tidak ada bukti yang mendukung atau menuntut perubahan" atas persetujuannya untuk anak-anak dari usia 12 hingga 17 tahun untuk divaksin dengan suntikan Pfizer.

Queiroga tidak merinci alasan untuk meminta penghentian, tetapi mengatakan ada 1.545 efek samping yang terdaftar, dengan 93% di antaranya pada orang yang menerima suntikan COVID-19 selain vaksin Pfizer / BioNTech - satu-satunya yang disetujui untuk anak di bawah umur di Brazil. Dia juga mengatakan ada satu kematian yang terdaftar, di kota Sao Bernardo do Campo di luar ibu kota negara bagian Sao Paulo.

Anvisa dalam pernyataannya mengatakan sedang menyelidiki kematian seorang anak berusia 16 tahun yang mendapat dosis pertama awal bulan ini.

"Saat ini, tidak ada hubungan sebab akibat yang pasti antara kasus ini dan pemberian vaksin," katanya.

Negara bagian Sao Paulo, negara terpadat di negara itu, mengatakan telah memvaksin hampir 2,5 juta orang di bawah usia 18 tahun. Gubernur Joao Doria mengatakan di media sosial bahwa Sao Paulo tidak akan berhenti memvaksin remaja.

Queiroga mengatakan bukti tentang kemanjuran vaksin untuk remaja yang sehat belum pasti, meskipun data uji klinis menunjukkan vaksin itu efektif dalam mencegah penyakit.

Amerika Serikat, Israel dan beberapa negara Eropa telah meluncurkan vaksinasi untuk anak-anak. Pada Senin, Inggris memutuskan bahwa semua anak berusia 12 hingga 15 tahun akan ditawari suntikan setelah penasihat medis senior mengatakan anak-anak akan mendapat manfaat dari berkurangnya gangguan terhadap pendidikan mereka.

Masih harus dilihat apakah komentar Queiroga akan membawa banyak pengaruh. Menurut Carlos Lula, presiden asosiasi sekretaris kesehatan negara bagian, sebagian besar negara bagian tidak berencana untuk menghentikan vaksinasi untuk kelompok usia ini.

Sumber: Reuters
Baca juga: Brazil tangguhkan 12 juta dosis vaksin Sinovac
Baca juga: Brazil izinkan vaksin Butanvac untuk uji klinis pada sukarelawan
Baca juga: Brazil akan beli vaksin COVID sekali suntik buatan China

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Budi daya Arwana Albino tunjang perekonomian masyarakat Desa Mentawit

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar