Redam kemarahan, Blinken sebut Prancis mitra penting di Indo-Pasifik

Redam kemarahan, Blinken sebut Prancis mitra penting di Indo-Pasifik

Arsip - Menteri Luar Negeri AS Tony Blinken di Washington, Amerika Serikat. (ANTARA/Reuters)

Washington (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan pada Kamis bahwa Prancis adalah mitra penting AS di kawasan Indo-Pasifik.

Pernyataan Blinken itu dinilai sebagai upaya meredakan kemarahan Prancis pada rencana AS dan Inggris untuk memberi teknologi kapal selam bertenaga nuklir kepada Australia.

Ketiga negara itu mengatakan pada Rabu bahwa mereka akan menjalin kerja sama keamanan untuk Indo-Pasifik dalam pembangunan kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia.

Kesepakatan itu membatalkan perjanjian Australia dengan Prancis dalam pembangunan kapal selam.

Prancis mengungkapkan kemarahan pada batalnya perjanjian itu dengan menyebut kesepakatan ketiga negara sebagai “tikaman dari belakang”.

Usai bertemu dengan menteri-menteri pertahanan Australia dan AS di Washington, Blinken mengatakan bahwa pemerintahnya ingin memanfaatkan semua kesempatan untuk memperdalam kerja sama trans-Atlantik di Indo-Pasifik.

Baca juga: Indonesia prihatin atas keputusan Australia miliki kapal selam nuklir

Dia menambahkan bahwa Prancis merupakan bagian penting dari upaya tersebut.

“Kami bekerja sama erat dengan Prancis dalam berbagai prioritas bersama di Indo-Pasifik dan di seluruh dunia. Kami akan terus melakukan itu. Kami menempatkan nilai-nilai fundamental dalam hubungan tersebut, dalam kemitraan tersebut,” kata Blinken.

Dia mengatakan para pejabat AS telah berkomunikasi dengan para mitra di Prancis dalam 24-48 jam terakhir untuk mendiskusikan kesepakatan, termasuk sebelum perjanjian itu diumumkan.

Seorang sumber di pemerintahan Prancis mengatakan bahwa AS tidak menginformasikan hal tersebut sampai para pejabat Prancis mengetahui perjanjian itu dari laporan media lalu menghubungi mitra di AS untuk mempertanyakannya.

Pada tahun 2016, Australia memilih pembuat kapal Prancis, Naval Group, untuk membangun kapal selam senilai 40 miliar dolar AS (Rp568,8 miliar) sebagai pengganti kapal selam Collins milik Australia yang telah berusia 20 tahun.

AS dan sekutunya tengah berupaya melawan pengaruh China yang terus meningkat di Indo-Pasifik, terutama dalam hal kekuatan militer, tekanan terhadap Taiwan dan sikap mereka di Laut China Selatan yang disengketakan.

Baca juga: Kedutaan China menentang campur tangan AS, Australia

Pada Kamis, pemerintah AS membela keputusannya dan menolak kritik dari China dan Prancis terkait kesepakatan itu.

"Kami tidak ingin berselisih dengan China," kata juru bicara Gedung Putih Jen Psaki pada wartawan.

China mengatakan bahwa AS, Australia, dan Inggris "merusak perdamaian dan stabilitas kawasan dengan parah."

"Dalam pandangan kami, ini terkait keamanan di Indo-Pasifik," kata Psaki.

Dia mengatakan bahwa alasan Australia memilih teknologi dari AS adalah kewenangan negara itu sendiri.

"Di sisi kami, kami tidak melihat ini sebagai perpecahan regional. Kami melihat ini sebagai isu keamanan dan wilayah yang ingin kami jaga bersama," ujarnya.

Sumber: Reuters

Baca juga: Selandia Baru larang kapal selam nuklir Australia masuki perairannya
Baca juga: AS beri Australia teknologi kapal selam nuklir untuk imbangi China

 

Penerjemah: Aria Cindyara
Editor: Anton Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

200 ribu anak jadi korban pelecehan seksual di Gereja Katolik Prancis

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar