Kartu Prakerja dinilai disrupsi pasar pelatihan kerja jadi "on demand"

Kartu Prakerja dinilai disrupsi pasar pelatihan kerja jadi "on demand"

Data Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Jumat (17/9/2021). (ANTARA/HO-Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja)

Jakarta (ANTARA) - Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menilai Program Kartu Prakerja mendisrupsi pasar pelatihan kerja menjadi "on demand".

"Program Kartu Prakerja mendisrupsi pasar pelatihan kerja, dari yang semula 'top down' menjadi 'on demand'," ujar Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Selain itu, lanjut dia, program tersebut menghidupkan pasar peningkatan keterampilan, mengingat banyaknya lembaga pelatihan dalam program itu sehingga saling bersaing memberikan layanan dan harga terbaik bagi konsumen.

Ia menambahkan mengikuti pelatihan di Prakerja juga terbukti dapat meningkatkan pengetahuan peserta, yang diindikasikan dengan nilai "pre-test" dan "post-test".

"Hasil survei BPS menunjukkan bahwa 91 persen peserta mengatakan keterampilan kerja mereka meningkat," katanya saat memberikan kuliah umum dalam "Forum Pembangunan Indonesia" Magister Ekonomi Kependudukan dan Ketenagakerjaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia bertopik "Peran Program Kartu Prakerja dalam Meningkatkan Keterampilan Kerja", Kamis (16/9).

Baca juga: Pemerintah terus memperbaiki Program Kartu Prakerja

Hal ini, lanjut dia, selaras dengan evaluasi manajemen pelaksana di mana skor "pre-test" peserta meningkat dari awalnya 59 menjadi 73 saat "post-test".

Dalam kesempatan itu, doktor ekonomi lulusan University of Colorado at Boulder, Amerika Serikat itu, juga memaparkan salah satu tantangan ketenagakerjaan Indonesia, yakni tidak berkualitasnya sisi suplai pasar tenaga kerja Indonesia.

Dari 135 juta jumlah angkatan kerja Indonesia saat ini, kata dia, 90 persen di antaranya belum pernah mengikuti pelatihan bersertifikat.

Demikian pula profil tujuh juta jumlah pengangguran, 91 persen di antaranya belum pernah mengikuti pelatihan bersertifikat.

"Sayangnya, baik perusahaan maupun pekerja kita cenderung tak peduli dengan 'skilling', 'upskilling', dan 'reskilling' sebagai upaya peningkatan kualitas angkatan kerja," ungkapnya.

Ia mengatakan kondisi ini menunjukkan terjadinya kegagalan pasar dalam menghasilkan tingkat pelatihan kerja yang optimal.

Oleh karena itu, Denni mengatakan, Program Kartu Prakerja hadir untuk memberikan beasiswa pelatihan.

Baca juga: 1,5 tahun berjalan, Kartu Prakerja jangkau 10,6 juta penerima manfaat
Baca juga: Guru Besar IPB: Program Kartu Prakerja beri nilai manfaat tinggi


Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ditreskrimsus Polda Jabar ringkus pelaku pembuat kartu prakerja fiktif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar