Artikel

Menanti berkah dari sejarah panjang Cikini

Oleh Ricky Prayoga

Menanti berkah dari sejarah panjang Cikini

Salah satu sudut Gedung Kantor Pos Cikini yang telah berdiri sejak 1920, Jakarta, Rabu (15/9/2021). ANTARA/Ricky Prayoga

lahan di Kawasan Cikini pada zaman kolonial dimiliki oleh seorang pelukis keturunan Jawa-Arab yang menjadi kaum sosialita kalangan atas yang namanya bukan hanya dikenal di Jawa, namun juga sampai ke Eropa
Jakarta (ANTARA) - Masyarakat mengenal Jalan Cikini Raya sebagai lokasi Perguruan Cikini yakni sekolah bagi anak pejabat dan orang berduit, lokasi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tempat lahirnya seniman dan aktor terkenal, hingga lokasi Taman Ismail Marzuki (TIM) tempat digelarnya berbagai pertunjukan seni.

Tapi lebih dari itu, kawasan Cikini menyimpan cerita dan sejarah panjang yang mengiringi perjalanan Jakarta sejak zaman kolonial hingga saat ini.

Berbagai catatan menyebutkan lahan di Kawasan Cikini pada zaman kolonial dimiliki oleh seorang pelukis keturunan Jawa-Arab yang menjadi kaum sosialita kalangan atas yang namanya bukan hanya dikenal di Jawa, namun juga sampai ke Eropa.

Nama pelukis itu adalah Saleh Sjarif Boestaman atau Raden Saleh, yang merupakan salah satu pelukis legendaris yang karyanya melegenda hingga saat ini.

Menurut berbagai catatan, setelah sekitar 20 tahun belajar, berkarya, hingga tinggal di berbagai belahan wilayah Eropa bahkan di Aljazair, Raden Saleh akhirnya kembali ke Jawa, membeli lahan luas dan membangun sebuah rumah yang didasarkan Istana Callenberg di lokasi yang sekarang menjadi Rumah Sakit PGI Cikini.

Baca juga: DKI berencana hiasi Cikini dengan mural

Saking luasnya lahan yang dimiliki, Raden Saleh kemudian menghibahkan untuk dijadikan kebun binatang dan taman umum pada 1862. Akhirnya semua lahannya di Cikini dihibahkan kepada pemerintah kolonial setelah Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880 dan menyusul istrinya Raden Ayu Danudirja tiga bulan kemudian.
Kediaman dan tempat usaha penjualan tiket berbagai acara dari Ratu Tiket Indonesia Ida Kurani Soedibjo (Ibu Dibjo) tengah dalam renovasi, Jakarta, Rabu (15/9/2021). ANTARA/Ricky Prayoga


Perkembangan Cikini
Setelah dikuasai pemerintah, Cikini awalnya diproyeksikan sebagai penunjang kawasan perumahan orang-orang Eropa di Nieuw Gondangdia atau yang sekarang dikenal sebagai kawasan Menteng yang ditandai dengan hadirnya kawasan pertokoan dan didirikannya Kantor Pos Cikini (Tjikini Post Kantoor) pada 1920.

Kantor pos yang terletak di mulut Jalan Cikini ini dibangun dengan tujuan melayani pengiriman berbagai surat dan barang serta menjamin agar surat-surat para penduduk, terutama bagi pedagang yang datang dari luar Jawa dan kerap bepergian ke luar dan masuk Belanda tetap aman.

Baca juga: DKI rencanakan revitalisasi Cikini jadi destinasi wisata perkotaan

Dengan gedung tua bergaya artdeco yang bertahan dan masih beroperasi saat ini, kantor pos pertama di Indonesia yang buka 24 jam ini, kini menjadi salah satu ikon kawasan Cikini.

Tak jauh dari kantor pos, berdiri salah satu pusat bisnis yang pertama berdiri di Cikini, adalah Pabrik Roti Tan Ek Tjoan yang didirikan sejak 1921 dengan produk roti gambang yang keras namun lembut di dalam yang diperuntukkan untuk konsumsi orang-orang Belanda, namun seiring perkembangan zaman  varian produknya kian diperluas untuk semua kalangan.

Akan tetapi, kini toko dan pabrik roti tertua di Jakarta tersebut sudah tidak lagi beroperasi  karena sejak tahun 2015 Pemprov DKI Jakarta membuat kebijakan tidak boleh ada pabrik di pusat kota, sehingga Pabrik Tan Ek Tjoan saat ini berada di Ciputat. Namun  penganan legendaris ini masih bisa dijumpai di sekitar Jakarta, termasuk Cikini yang dijual secara berkeliling.

Seiring perkembangan zaman, kota Jakarta yang juga turut berkembang membuat kawasan Cikini juga semakin ramai dengan berdirinya banyak rumah tinggal dan semakin hidupnya berbagai aktivitas perekonomian.

Baca juga: Pemkot Jakpus tata ulang trotoar pedestrian di Jalan Raden Saleh

Seperti di lokasi yang tidak jauh dari eks pabrik roti Tan ek Tjoan, di mana berdiri toko kacamata milik Atjoem Kasoem (A. Kasoem) pria berdarah Sunda yang diketahui merupakan orang Indonesia pertama yang menguasai cara pembuatan kacamata dan bahkan karyanya sempat dijadikan "official glass" pemerintah Indonesia sejak awal kemerdekaan.
Rumah megah milik seorang pengusaha bernama Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning yang lebih dikenal dengan nama Hasyim Ning yang terletak di Jalan Cikini Jakarta, Rabu (15/9/2021). ANTARA/Ricky Prayoga


Meski bukan toko yang pertama yang dimiliki oleh Kasoem, namun toko kacamata A. Kasoem di Cikini ini, kini dijadikan kantor pusat Kasoem Group yang  bisnisnya berkembang ke bidang kesehatan indra pendengaran.

Berjalan lagi ke arah Selatan, berdiri rumah megah yang pasti akan menjadi perhatian orang yang melintas, milik seseorang bernama Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning yang lebih dikenal dengan nama Hasyim Ning.

Hasyim Ning diketahui merupakan seorang pengusaha asal Sumatra Barat yang pernah dijuluki Raja Mobil Indonesia atas aktivitas bisnisnya sebagai importir mobil asal Amerika. Saking mencoloknya hunian tersebut, rumah bercat putih yang ditinggali keturunan Hasyim Ning tersebut konon pernah dijadikan lokasi "shooting" film legendaris "Catatan Si Boy".

Di seberang jalan yang tak jauh dari rumah Hasyim Ning ,terdapat pusat seni budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dulunya (bersama lahan Institut Kesenian Jakarta) merupakan pekarangan rumah dari Raden Saleh yang dihibahkan untuk dijadikan taman publik dan kebun binatang dengan nama Taman Raden Saleh pada tahun 1864.

Berselang 100 tahun yakni pada 1964, Taman Raden Saleh yang kemudian berubah jadi Kebun Binatang Cikini itu dipindahkan ke Ragunan agar memiliki lahan yang lebih luas dalam menampung banyak satwa.

Akhirnya di bekas lokasi kebun binatang itu, didirikanlah pusat kesenian dan kebudayaan yang diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 1968.

Selain lokasi-lokasi tersebut, di Cikini ini juga terdapat tempat bersejarah lainnya yang menyimpan cerita dan keunikannya masing-masing, mulai dari kediaman dan tempat usaha penjualan tiket berbagai acara dari Ratu Tiket Indonesia Ida Kurani Soedibjo (Ibu Dibjo); kafe legendaris racikan Bakoel Koffie yang merupakan warung kopi di Batavia sejak abad ke-19 (1878).

Lalu ada Rumah dari Menteri Luar Negeri Indonesia pertama Achmad Soebardjo yang sempat jadi Kantor Kementerian Luar Negeri Indonesia; hingga kediaman dari "pemilik" Cikini itu sendiri yakni Rumah Raden Saleh yang kini menjadi kantor Rumah Sakit PGI Cikini.
Pedagang Roti keliling dengan merk Tan Ek Tjoan menjajakan dagangannya di depan bekas pabrik roti legendaris itu di Cikini, Jakarta, Rabu (15/9/2021). ANTARA/Ricky Prayoga


Urban Tourism
Dengan berbagai tempat dan cerita legendaris yang dimiliki oleh Cikini, Provinsi DKI Jakarta berencana mengembangkan kawasan Cikini dan wilayah lainnya seperti Monas, dan Pasar Baru untuk menjadi destinasi wisata perkotaan (urban tourism).

Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Dinas Pariwisata DKI Jakarta Hari Wibowo menyebutkan Pemprov DKI memandang sejarah dari jalan Cikini yang menembus zaman dengan tergambar pada bangunan-bangunan di sepanjang jalan yang menghubungkan antara Menteng Raya dengan Jalan Diponegoro itu, patut untuk dijadikan menjadi daya tarik pariwisata.

Bahkan Pemprov DKI berencana akan menghiasi kawasan Cikini dengan mural karya para seniman dengan target rampung pada akhir tahun 2021 dengan pendanaan bersumber dari event management BWY.

Atas hal-hal itu, Pemprov DKI menargetkan bisa menggaet tiga juta wisatawan domestik dari "urban tourism" yang juga memasukkan Kota Tua, China Town (Glodok), Jatinegara, PIK, Pluit, Blok M dan Senayan di dalamnya, yang nantinya dikembangkan dengan paket wisata, menggandeng kerjasama dengan hotel, agen dan komunitas pemandu wisata.

"Jika nanti COVID-19 melandai terus, kami harap makin banyak wisatawan domestik ke Jakarta, proyeksinya sekitar 10 persen lah dari 30 juta lebih wisatawan akan datang ke ibu kota dengan berbagai program yang dicanangkan terutama urban tourism ini," kata Hari.

Baca juga: Masjid Amir Hamzah-Seniman TIM gelar pentas seni sambut Ramadhan

Rasa optimistis tersebut juga disampaikan oleh Novita Dewi, Direktur Utama BUMD Jakarta Eksperience Board (JXB) atau Jaktour yang menyebut pengembangan destinasi pariwisata perkotaan patut dilakukan karena "menjadi prospek yang menjanjikan".

Hal yang disampaikan Novita tersebut beralasan, karena berdasarkan studi dalam 10 tahun terakhir, pariwisata perkotaan khususnya di Asia Tenggara termasuk Indonesia selalu meningkat signifikan dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 69,6 juta orang pada tahun 2010, dibandingkan tahun 2000 hanya berjumlah 36,1 juta orang.

Dan aktivitas pariwisata perkotaan ini memberikan kontribusi sebesar 4,6 persen pada pendapatan negara-negara di ASEAN.

Ditambah, pada tahun 2012, Jakarta terpilih menjadi nomor satu dari sepuluh kota tujuan wisata terbaik dalam "2012 Travelers Choice Destination on the Rise" oleh Tripadvisor. Penghargaan tersebut didasarkan tidak hanya sebatas tempat wisata yang tersedia melainkan juga terhadap mutu dari prasarana dan sarana serta akomodasi dari kota yang terpilih.

Cikini telah melintasi zaman dan menemani ibu kota Jakarta dengan karakter metropolitannya yang terus dikembangkan untuk semakin baik ke depan. Berbagai proyek juga telah dilakukan untuk mempercantik dan membuat nyaman kawasan yang terletak di jantung ibu kota ini.

Dan kini, publik menantikan berkah yang akan dibawa dari kawasan Cikini yang diproyeksikan menjadi destinasi wisata perkotaan, dengan tak mengurangi nilai sejarah dan budaya dari kawasan itu sendiri.
 
Pemandangan Jalan Cikini dari arah Atap Gedung Parkir Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta, Rabu (15/9/2021). ANTARA/Ricky Prayoga

Oleh Ricky Prayoga
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mengulik sejarah Jalan Cikini Raya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar