BMKG: Gelombang tinggi masih berpotensi di laut selatan Jabar-DIY

BMKG: Gelombang tinggi masih berpotensi di laut selatan Jabar-DIY

Ilustrasi - Posisi kapal Pengayoman IV setelah ditarik dari lokasi kecelakaan ke dekat Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jumat (17/9/2021). ANTARA/Sumarwoto

Cilacap (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pengguna jasa kelautan untuk waspada terhadap gelombang tinggi yang masih berpotensi terjadi di laut selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Oleh karena itu, kami kembali mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di wilayah perairan selatan Jabar-DIY dan Samudra Hindia selatan Jabar-DIY yang berlaku hingga hari Minggu (19/9) serta akan diperbarui jika ada perkembangan lebih lanjut," kata analis cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Rendi Krisnawan di Cilacap, Jateng, Sabtu.

Dalam hal ini, kata dia, tinggi gelombang baik di perairan selatan Jabar-DIY maupun Samudra Hindia selatan Jabar-DIY berpotensi mencapai kisaran 4-6 meter dan masuk dalam kategori sangat tinggi.

Menurut dia, peningkatan tinggi gelombang tersebut dipengaruhi oleh keberadaan sistem tekanan rendah 1.008 hPa di Laut China Selatan sebelah timur Filipina.

Selain itu, angin di wilayah Indonesia bagian selatan dominan bergerak dari timur-selatan dengan kecepatan 5-25 knot.

"Embusan angin yang cenderung searah dengan kecepatan tinggi berdampak terhadap peningkatan tinggi gelombang di laut. Oleh karena itu, kami mengimbau para pengguna jasa kelautan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gelombang tinggi di laut selatan Jabar-DIY," katanya menjelaskan.

Disinggung mengenai peristiwa terbaliknya kapal Pengayoman IV di perairan utara Pulau Nusakambangan pada hari Jumat (17/9), Rendi mengatakan berdasarkan data pada Automatic Weather Station (AWS) yang terpasang di Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap (PPSC), kecepatan angin saat kejadian berkisar 10-15 knot atau kategori sedang dengan arah embusan dari tenggara.

Ia memperkirakan kecepatan angin antara PPSC dan Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, saat kapal Pengayoman IV terbalik tidak jauh berbeda.

"Kalau untuk tinggi gelombang, kami memang tidak ada alat ukur real time, namun saat kejadian diperkirakan berkisar 1,25-2,5 meter dan masuk kategori sedang. Sementara untuk arus dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan 5-10 centimeter per detik, sedangkan kondisi cuaca cerah berawan," katanya.

Terkait dengan kecepatan angin maksimum di Cilacap sepanjang hari Jumat (17/9), dia mengatakan berdasarkan data AWS di PPSC tercatat mencapai 15 knot, Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap 19 knot, dan Pos Pengamatan Meteorologi Bandara Tunggul Wulung Cilacap mencapai 24 knot.

Seperti diwartakan, Kapal Pengayoman IV tenggelam di perairan utara Pulau Nusakambangan dalam perjalanan dari Dermaga Wijayapura, Cilacap, menuju Dermaga Sodong, Pulau Nusakambangan, setelah terbalik akibat terhempas angin kencang pada Jumat (17/9) pagi.

Kapal yang berangkat dari Dermaga Wijayapura pada pukul 08.50 WIB membawa tujuh penumpang termasuk awak kapal, satu unit sepeda motor, serta dua truk bermuatan pasir.

Sekitar pukul 09.00 WIB, kapal tersebut terhempas angin dan terbalik. Akibat kejadian tersebut, dua penumpang meninggal dunia dan lima orang lainnya selamat.

Lima korban selamat terdiri atas Subagyo Antoro yang merupakan nahkoda, Diki dan Melga selaku anak buah kapal, Suheris (sopir truk), serta Sulianto (penumpang).

Sementara dua korban meninggal dunia terdiri atas Wahyu yang merupakan petugas lapas dan Kardim selaku sopir truk. 

Baca juga: BMKG: Pegunungan tengah Jateng masuki awal musim hujan lebih cepat

Baca juga: BMKG: Hujan masih berpotensi terjadi di Jateng bagian selatan

Baca juga: BMKG: Waspadai gelombang ekstrem di Samudra Hindia

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Gelombang tinggi di Aceh, nelayan tak bisa melaut

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar