Artikel

Bergandengan bersama mengejar optimalisasi target vaksinasi COVID-19

Oleh Devi Nindy Sari Ramadhan

Bergandengan bersama mengejar optimalisasi target vaksinasi COVID-19

Tenaga medis memeriksa kesehatan lansia yang mengalami kondisi disabilitas sebelum menyuntikkan vaksin COVID-19 di Kampung Duren, Klari, Karawang, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021). ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/rwa.

Di Amerika Serikat, walaupun capaian vaksinasi dosis lengkap sudah diberikan kepada lebih dari 176 juta orang, nyatanya angka kematian mingguan akibat COVID-19 masih lebih tinggi dibandingkan Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Saat ini pemerintah gencar melaksanakan vaksinasi untuk masyarakat, ditambah lagi pemberian "booster" (penguat) vaksin COVID-19, yakni pemberian dosis ketiga untuk para tenaga kesehatan (nakes).
 

Sebetulnya hingga kini baru 76 juta jiwa masyarakat yang menjalani vaksinasi dosis pertama, sedangkan target pemerintah untuk membentuk "herd immunity" atau kekebalan kelompok adalah 280 juta jiwa.

 

Untuk itu, pemerintah perlu menargetkan pencapaian vaksinasi lebih gencar. Salah satunya menyasar lanjut usia (lansia) yang belum tercapai sasarannya, walaupun sudah dilaksakan paling awal sebelum masyarakat umum.


Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan cakupan vaksinasi COVID-19 bagi para lansia tergolong rendah, meskipun secara keseluruhan Indonesia berada di peringkat enam vaksinasi COVID-19 secara global.


"PR (pekerjaan rumah) kita bagaimana meningkatkan jumlah vaksinasi pada lansia. Rata-rata 1,2-1,4 juta dosis per hari," kata Nadia dalam webinar bertema "Vaksinasi COVID-19 Kini dan Nanti" yang dipantau di Jakarta, Rabu (15/9).
 

Ia menjelaskan berdasarkan data yang dihimpun hingga Selasa (7/8) puykul 18.00 WIB, dari target sasaran lansia sebanyak 21.553.118 orang, hanya 25,32 persen yang menjalani vaksinasi pertama dan 18,02 persen yang sudah mendapatkan vaksin COVID-19 dosis lengkap.
 

Kemudian cakupan vaksinasi untuk Provinsi DKI Jakarta terbilang cukup tinggi dengan penerima vaksin dosis pertama dan kedua di atas 70 persen.


Sedangkan di provinsi lainnya masih terbilang rendah. Nadia menjelaskan empat provinsi dengan cakupan vaksinasi COVID-19 terendah yakni Lampung, Papua, Maluku Utara, Sumatera Barat dan Aceh.


Untuk itu, pemerintah daerah diminta memberikan fokus prioritas mengejar vaksinasi untuk lansia yang cakupannya masih sangat rendah, meski Indonesia tergolong peringkat enam dalam vaksinasi global.


Di bawah 20 persen


Di sisi lain, menurut Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), cakupan vaksinasi untuk area selain Provinsi DKI Jakarta dan Bali masih terbilang kurang dari 20 persen.
 

Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Dr dr Zubairi Djoerban, sudah 42 juta orang yang mendapatkan vaksinasi COVID-19 hingga dosis kedua, sayangnya hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.


“Yang lain kurang dari 20 persen. Harus segera dikejar agar penularan semakin turun,” katanya dalam webinar Vaccinate Our World bertema “Vaksinasi COVID-19 untuk Kita Semua".
 

Zubairi mengatakan jika dahulu prioritas vaksin COVID-19 memang diberikan untuk DKI Jakarta dan Bali, namun sekarang vaksin COVID-19 telah disebarkan melalui Kemenkes, Polri hingga TNI.


Bahkan, menurut dia, sekarang hampir semua jenis vaksin COVID-19 telah ada di Indonesia, kurang lebih sembilan jenis vaksin untuk percepatan penanganan pandemi. Diharapkan institusi tersebut dapat mempercepat tugasnya dalam pemberian vaksin COVID-19 terhadap masyarakat.
 

Sehingga, menurut dia, vaksin terbaik adalah yang berada di dekat masyarakat, jadi jangan pilih-pilih.


Menurut dia, semakin banyak seseorang memiliki komorbid (penyakit penyerta), makin perlu secepatnya vaksinasi. Pengidap AIDS juga, autoimun juga harus cepat-cepat vaksinasi guna segera mendapat kekebalan tubuh terhadap COVID-19.
 

Ia mengatakan meski vaksinasi COVID-19 telah gencar dilakukan, namun jangan sampai terlena kebal virus.


Zubairi mencontohkan negara Israel dengan capaian vaksinasi 70 persen dari penduduknya, namun terdapat lonjakan kasus COVID-19 kembali.


“Vaksinasi tidak cukup mencegah masalah. Ternyata vaksin Moderna yang dipakai, bagus, begitu terserang varian Delta efikasinya turun 76 persen, dan Pfizer 42 persen,” katanya.
 

Di Indonesia sendiri, menurut dia, angka "positifity rate" telah menurun dari lebih dari 40 persen, menjadi kurang dari 11 persen. Sementara untuk wilayah DKI Jakarta sudah kurang dari dua persen, yang artinya amat kecil terjadi risiko penularan.
 

“Khusus Jakarta 'positify rate' 1,7 persen. Dulu sampai 44 persen, sekarang amat sangat rendah. Indonesia juga turun ke 10 persen,” katanya.


Meski demikian, angka kematian seminggu terakhir masih terbilang tinggi, yakni di angka 3.028. Ia berpesan agar Indonesia jangan sampai terlena dengan capaian vaksinasi.


Sebab, menurutnya di Amerika Serikat, walaupun capaian vaksinasi dosis lengkap sudah diberikan kepada lebih dari 176 juta orang, nyatanya angka kematian mingguan akibat COVID-19 masih lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
 

“Walau sudah divaksinasi, tetapi masih bisa meninggal karena vaksin COVID-19 belum melindungi 100 persen, sehingga diperlukan 'booster' ketiga untuk melindungi,” katanya,
 

Pilar-pilar sosial


Guna meningkatkan capaian vaksinasi, seluruh pihak -- tidak terkecuali kementerian dan lembaga (KL) turut serta mengerahkan tenaganya, termasuk Kementerian Sosial (Kemensos).


Kemensos mengerahkan pilar-pilar sosial mulai dari PSM (pekerja sosial masyarakat), TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat), hingga Karang Taruna untuk berkontribusi agar masyarakat mau divaksinasi COVID-19.


Kabag Kerja Sama Luar Negeri Biro Perencanaan Kemensos RR Endah Sulistyaningsih dalam webinar Vaccinate Our World itu mengatakan ribuan berita palsi (hoaks) yang tercatat beredar perlu diantisipasi agar tidak menjadi misinformasi yang menghambat dan membahayakan upaya penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi.
 

"Oleh sebab itu perlu ada sosialisasi dan usaha-usaha yang masif terkait edukasi dan sosialisasi vaksin untuk memberikan wawasan kepada masyarakat agar tidak takut divaksin dan mengetahui dampak positif dari vaksinasi," kata perempuan yang akrab disapa Susi itu.


Menurut dia pendekatan persuasif kepada masyarakat sebagai subjek menerima vaksinasi melalui sosialisasi dan edukasi menggunakan narasi yang dapat dipahami, berkelanjutan dan berbasis kolaborasi menjadi strategi penting untuk meyakinkan masyarakat yang tidak tahu atau belum percaya vaksin.
 

Hal tersebut adalah salah satu cara terbaik yang diupayakan pemerintah untuk meminimalisasi risiko kematian serta opsi rasional yang dapat ditempuh saat melawan COVID-19.


"Kami berbangga dengan peran besar para pendamping di tengah masyarakat, dan berharap kiranya eksposur terhadap informasi ini diberikan oleh narasumber dapat memperkaya pengetahuan sekaligus terkait program vaksinasi, dan diperlukan akan diteruskan pada penerima manfaat," katanya.


Susi dalam kesempatan itu juga menyatakan dukungannya untuk para nakes yang telah melakukan berbagai penanganan serta pencegahan guna meminimalisasi penyebaran COVID-10 serta penyuluhan bagi pasien positif.
 

Seluruh pihak harus disiplin dan bersama-sama merintis terbentuknya kekebalan kelompok di Indonesia, dengan mengerahkan sebanyak-banyaknya warga negara untuk ikut berpartisipasi dalam vaksinasi COVID-19. Dengan demikian, diyakini suatu saat dunia akan terbebas dari pandemi dengan keikutsertaan kita membentuk kekebalan bersama.

 

Baca juga: Indonesia angkat isu ketimpangan vaksinasi pada Sidang Umum PBB

Baca juga: Satgas IDI: Selain DKI dan Bali, capaian vaksinasi kurang 20 persen

Baca juga: Kemenkes ingatkan calon jamaah haji penuhi persyaratan vaksinasi

Baca juga: Kemensos upayakan 2.800 penghuni balai Jabodetabek divaksin tanpa NIK



 

Oleh Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pemerintah berikan suntikan booster untuk umum awal 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar