Kopi pakai air kelapa, potensi menu unik kopi Jayapura

Kopi pakai air kelapa, potensi menu unik kopi Jayapura

Salah satu kelompok Pemuda Yoboi mempraktekan ilmu yang diterima dengan meracik salah satu jenis seduhan kopi yang diajarkan Pemilik Kedai Kopi Djuang Rejha Prayoga di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (20/9/2021). ANTARA/Hendrina Dian Kandipi/aa.

Jayapura (ANTARA) - Salah satu barista bersertifikat SCAE (Specialty Coffee Association of Europe) yang ada di Kota Jayapura Piter Tan mendorong para pemuda di Kampung Yoboi untuk memunculkan menu-menu unik hasil dari meracik kopi.

Baca juga: Urban Latte hadirkan menu baru berkolaborasi dengan Stefani Horison

Pemilik Kedai Kopi Pit's Corner dan juga Barista Piter Tan dalam siaran pers di Jayapura, Senin, mengatakan ide untuk memunculkan menu unik ini disesuaikan dengan kearifan lokal yang ada pada Kampung Yoboi.

"Kampung Yoboi sudah unik, jika menyajikan menu-menu kuliner yang lokal maka dapat memberikan nilai jual tersendiri," katanya.

Menurut Piter, misalnya jika menyajikan kopi dengan menggunakan air kelapa, atau memakai batok kelapa untuk menyajikan kopi kepada konsumen.

"Jangan takut untuk memulai meracik kopi tanpa perlengkapan yang modern, karena hanya dengan kayu bakar juga dapat memasak air untuk membuat kopi," ujarnya.

Dia menjelaskan biji kopi juga bisa ditumbuk secara manual sehingga tetap dapat menyajikan kopi dengan peralatan seadanya.
 
Pemilik Kedai Kopi Pit's Corner Piter Tan (kanan) didampingi Pemilik Kedai Kopi Djuang Rejha Prayoga (kiri) dalam sesi tanya jawab tentang kpi dengan pemuda Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (20/9/2021). ANTARA/HO-D2WNG/aa.
Baca juga: Urban Latte hadirkan menu baru berkolaborasi dengan Stefani Horison

"Intinya, menyajikan kopi tidak harus menggunakan peralatan modern, apa yang ada di sekeliling bisa digunakan sesuai dengan peruntukannya," katanya lagi.

Senada dengan Piter Tan, Pemilik Kedai Kopi Djuang Rejha Prayoga yang juga salah satu barista mengatakan para pemuda Yoboi harus dapat menunjukkan kemampuannya bahwa yang di kampung juga bisa sama dengan yang di kota.

"Dari pelatihan bagi pemuda Yoboi saja, bisa diketahui bahwa dari 16 orang yang dilatih, sudah terlihat yang memiliki potensi dan bakat untuk menekuni profesi sebagai peracik kopi," katanya.

Dia menambahkan dirinya berharap yang sudah mengikuti pelatihan dapat terus belajar dan berlatih sehingga kopi yang diracik memiliki kualitas yang mumpuni untuk disajikan kepada konsumen.

Sebelumnya, Komunitas sosial "Doing Deep and Wise for New Generation" (D2WNG) menggelar pelatihan dan pengenalan kopi bagi para pemuda di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura selama dua hari.

Setelah dilatih, para pemuda Yoboi juga dihibahkan peralatan dan perlengkapan yang dapat digunakan untuk membuka kedai kopi kecil di wilayah setempat.

Sekretaris Komunitas Sosial D2WNG Dhias Suwandi mengatakan pihaknya mengharapkan pelatihan dan penyerahan bantuan ini dapat membantu serta mendukung Kampung Yoboi mengembangkan wilayahnya sebagai tempat wisata khususnya menjelang PON XX Papua.


Baca juga: Kopi Jenderal Budi Waseso sajikan menu favorit Gandja dan Klepon

Baca juga: Indonesia raih pembelian 600 ton biji kopi lewat pameran di Turki

Baca juga: Kopi Kenangan kini hadir di Kalimantan

Pewarta: Hendrina Dian Kandipi
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mencicipi kuliner ulat sagu di kampung Yoboi Jayapura

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar