Reisa: Terdapat perbedaan pada jenis vaksin yang beredar di masyarakat

Reisa: Terdapat perbedaan pada jenis vaksin yang beredar di masyarakat

Tangkapan layar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Perubahan Perilaku dr. Reisa Broto Asmoro dalam Siaran Sehat bertajuk “Vaksin COVID-19 di Indonesia” yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (20/9/2021) (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Sebenarnya kita tidak perlu pilih-pilih merek tertentu. Beragam merek bukan karena kita butuh untuk memilih yang mana, tetapi karena kita butuh jumlah yang banyak dalam waktu singkat. Semakin kita cepat divaksinasi, semakin cepat pula kita terlindung
Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Perubahan Perilaku dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan terdapat beberapa perbedaan pada setiap jenis vaksin yang telah beredar di dalam masyarakat.

“Bedanya dari segi vaksinnya sendiri selain produsennya, tentunya pendekatan pembuatan vaksin ini juga berbeda-beda,” kata Reisa dalam Siaran Sehat bertajuk “Vaksin COVID-19 di Indonesia” yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Reisa mengatakan keenam vaksin yang kini beredar di masyarakat, dibuat oleh para produsen dengan menggunakan beberapa cara yang berbeda untuk dapat menghasilkan sebuah vaksin yang dapat menjamin mutu kesehatan masyarakat.

Baca juga: Dokter Reisa beberkan alasan banyaknya jenis vaksin di Indonesia

Pada vaksin Sinovac dan Sinopharm, dia menyebutkan para produsen menggunakan virus yang dimatikan untuk membuat vaksin. Sedangkan AstraZeneca dan Johnson and Johnson dibuat dengan menggunakan pendekatan viral vector (virus hasil rekayasa genetika).

Berbeda dengan vaksin dengan merek Pfizer dan Moderna yang dibuat berdasarkan Messenger RNA (mRNA) yang dimiliki oleh suatu virus.

“Kemudian yang berbeda pula adalah jarak atau interval suntikkannya, antara dosis pertama dengan dosis kedua ini berbeda-beda,” ujar Reisa.

Ia menjelaskan, vaksin Sinovac dan Moderna memiliki jarak waktu 28 hari atau empat minggu untuk dapat kembali mendapatkan suntik vaksin dosis kedua dan AstraZeneca perlu diberikan jarak 12 minggu untuk suntikkan dosis selanjutnya.

Sedangkan Sinopharm dan Pfizer membutuhkan jarak 21 hari untuk bisa melakukan vaksinasi kedua. Untuk vaksin Johnson and Johnson tidak memiliki jarak interval, karena hanya akan diberikan dalam satu kali penyuntikkan saja.

“Yang berbeda lagi dari segi penyimpanannya. Khusus untuk vaksin Moderna dan Pfizer, karena ini berbeda dengan jenis vaksin yang lain maka suhu vaksin yang berbasis mRNA harus sesuai dengan ketentuannya, yakni disimpan dalam freezer atau harus beku dengan suhu minus 80 derajat Celcius,” kata dia menjelaskan perbedaan lainnya.

Baca juga: Dokter Reisa ingatkan masyarakat tidak lengah taati prokes

Walaupun vaksin-vaksin tersebut berasal dari berbagai macam produsen, dia menegaskan bahwa semua vaksin yang diedarkan aman dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya COVID-19.

Ia meminta setelah masyarakat mengetahui perbedaan pada setiap jenis vaksin yang beredar, masyarakat tidak lagi memilih suatu jenis vaksin tertentu untuk disuntikkan agar Indonesia cepat membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

“Sebenarnya kita tidak perlu pilih-pilih merek tertentu. Beragam merek bukan karena kita butuh untuk memilih yang mana, tetapi karena kita butuh jumlah yang banyak dalam waktu singkat. Semakin kita cepat divaksinasi, semakin cepat pula kita terlindungi,” tegas dia.

Baca juga: Dokter Reisa ajak masyarakat untuk waspadai mutasi virus COVID-19
Baca juga: Reisa sebutkan tiga hal utama untuk kendalikan COVID-19


Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Presiden dijadwalkan tinjau vaksinasi di Tarakan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar