Kecamatan Kebayoran Baru galakkan program gizi atasi stunting

Kecamatan Kebayoran Baru galakkan program  gizi atasi stunting

Ilustrasi - Refleksi pengendara motor melintas di dekat mural stunting di Jakarta, Rabu (16/12/2020). ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN

terdapat 13 kasus "stunting" di Kelurahan Kramat Pela sehingga dijadikan sebagai lokus utamanya
Jakarta (ANTARA) - Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menggalakkan program gizi untuk mengatasi "stunting" (tumbuh kerdil) melalui Gerakan Aktif Langkah Ahli Gizi Bersama Kita Cegah Stunting Dengan Komitmen Terintegrasi  (GALAKZI BIMA SAKTI)..

Camat Kecamatan Kebayoran Baru Tomy Fudihartono, mengatakan program yang diluncurkan pada 2019 itu telah dijalankan di empat kelurahan, yakni, Kramat Pela, Cipete Utara, Gandaria Utara, dan Petogogan.

“Saat ini sedang fokus di Kramat Pela yang menjadi lokus stunting,” kata Camat Kecamatan Kebayoran Baru Tomy Fudihartono dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Baca juga: BKKBN ingin menajamkan intervensi dari hulu untuk cegah stunting

Adapun berdasarkan data yang diberikan Tomy, terdapat 13 kasus "stunting" di Kelurahan Kramat Pela sehingga dijadikan sebagai lokus utamanya.

Tomy menyebutkan salah satu kelas yang saat ini tengah berlangsung dari program tersebut adalah bimbingan dan rehabilitasi anak yang tidak naik timbangannya (BIMA).

Baca juga: Kemen PPPA lakukan sejumlah upaya atasi isu perempuan dan anak

Kelas tersebut berupa kegiatan memasak bersama dengan kader dan orang tua balita yang status gizinya bermasalah.

Nantinya, kata Tomy, masakan itu dikonsumsi oleh anak yang bermasalah status gizinya. Kemudian setelahnya, petugas mengedukasi kesehatan, dan melalukan pengukuran antropometri (berat dan tinggi badan).

"Satu sesi kelas bintang berlangsung 10 hari, selama tiga bulan.Tujuan program tersebut adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua balita," kata dia.

Baca juga: Kepala BKKBN beberkan permasalahan keluarga saat pandemi COVID-19

“Kami mendapat donasi dari bank BNI berupa bahan makanan dan dari OTOO (alat ukur tinggi badan),” ujarnya menambahkan.

Selain kelas BIMA, ada juga kelas KOMET (kelas informasi agar kader terampil), kelas PLANET (pusat pelatihan dan pengetahuan orang tua).  Lalu, kelas BINTANG (bimbingan dan rehabilitasi anak yang tidak naik timbangannya) dan METEOR (media terpadu dan informatif).

Pewarta: Sihol Mulatua Hasugian
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pembangunan jambanisasi di Ngawi capai 80 persen

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar