Wall Street turun tajam akibat aksi jual, indek Dow jatuh 614 poin

Wall Street turun tajam akibat aksi jual, indek Dow jatuh 614 poin

Ilustrasi - Pialang sedang bekerja di lantai Bursa Efek New York, Wall street, Amerika Serikat. ANTARA/Reuters/pri.

New York (ANTARA) - Wall Street turun tajam dalam aksi jual pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq mengalami persentase penurunan harian terbesar sejak Mei, karena kekhawatiran penularan dari potensi keruntuhan Evergrande China mendorong investor keluar dari ekuitas beralih ke aset-aset yang dinilai lebih aman.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 614,41 poin atau 1,78 persen, menjadi menetap di 33.970,47 poin, setelah turun lebih dari 970 poin pada terendah sesinya. Indeks S&P 500 merosot 75,26 poin atau 1,70 persen, menjadi berakhir di 4.357,73 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup jatuh 330,06 poin atau 2,19 persen, menjadi 14.713,90 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor energi terpangkas 3,04 persen, memimpin kerugian. Sementara sektor pertahanan termasuk utilitas turun paling sedikit.

Indeks Dow mencatat persentase penurunan harian terbesar sejak Juli, sementara indeks volatilitas CBOE, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, naik. Sementara itu, indeks S&P 500 sekarang turun sekitar 4,0 persen dari rekor penutupan tertinggi 2 September.

Nasdaq juga mencapai level terendah dalam waktu sekitar satu bulan, tetapi indeks memangkas kerugian tepat sebelum penutupan untuk mengakhiri posisi terendah sesi tersebut. Nasdaq turun lebih dari 3,0 persen pada siang hari.

Microsoft Corp, Alphabet Inc, Amazon.com Inc, Apple Inc, Facebook Inc, dan Tesla Inc termasuk di antara yang memberikan tekanan terbesar di Nasdaq dan S&P 500.

Investor juga tampak gelisah menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve minggu ini.

Sub-indeks perbankan tergelincir 2,9 persen, sementara harga obligasi pemerintah AS menguat karena kekhawatiran tentang kemungkinan gagal bayar (default) Evergrande tampaknya mempengaruhi pasar yang lebih luas.

"Anda agak tahu bahwa ketika ada sesuatu yang membuat pasar lengah, itu akan menyebabkan aksi jual yang lebih besar dan Anda tidak tahu apa alasannya," kata Sameer Samana, ahli strategi pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute.

"Saya kira ini adalah berita China tapi ... itu tidak terlalu mengejutkan mengingat betapa bullish-nya orang-orang itu."

Rabu (22/9/2021) akan membawa hasil pertemuan kebijakan Fed, di mana bank sentral diperkirakan akan meletakkan dasar untuk tapering atau pengurangan pembelian obligasi, meskipun konsensus untuk pengumuman sebenarnya ditunda hingga pertemuan November atau Desember.

Ahli strategi di Morgan Stanley mengatakan mereka memperkirakan koreksi 10 persen di S&P 500 karena The Fed mulai mengendurkan dukungan moneternya, menambahkan bahwa tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang terhenti dapat memperdalamnya menjadi 20 persen.

Sebagian besar maskapai penerbangan berakhir lebih tinggi setelah Amerika Serikat mengumumkan akan melonggarkan pembatasan perjalanan pada November untuk penumpang dari China, India, Inggris, dan banyak negara Eropa lainnya yang telah menerima vaksin COVID-19.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 12,24 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 9,89 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar