Mengenal Alzheimer, gejala hingga faktor risiko

Oleh Maria Cicilia

Mengenal Alzheimer, gejala hingga faktor risiko

Ilustrasi - Alzheimer. ANTARA/Shutterstock/Orawan Pattarawimonchai.

Jakarta (ANTARA) - Penyakit Alzheimer sering dikaitkan dengan demensia atau pikun, padahal kondisi dari dua masalah ini tidaklah sama.

Untuk itu sangat penting untuk mengenal Alzheimer dan deteksi dini.

Mengutip Healthline pada Selasa, penyakit Alzheimer adalah bentuk progresif dari demensia. Demensia adalah istilah yang lebih luas untuk kondisi yang disebabkan oleh cedera otak atau penyakit yang berdampak negatif pada memori, pemikiran, dan perilaku. Perubahan ini mengganggu kehidupan sehari-hari.

Menurut Asosiasi Alzheimer, penyakit Alzheimer menyumbang 60 hingga 80 persen kasus demensia. Kebanyakan orang dengan penyakit ini mendapatkan diagnosis setelah usia 65 tahun. Jika didiagnosis sebelum itu, umumnya disebut sebagai penyakit Alzheimer onset dini.

Tidak ada obat untuk Alzheimer, tetapi ada perawatan yang dapat memperlambat perkembangan penyakit.

Fakta Alzheimer

Meskipun banyak orang telah mendengar tentang penyakit Alzheimer, hanya beberapa saja yang mengerti tentang kondisi ini.

Penyakit Alzheimer adalah kondisi kronis yang berkelanjutan. Gejalanya muncul secara bertahap dan efeknya pada otak bersifat degeneratif, artinya menyebabkan penurunan yang lambat.

Tidak ada obat untuk Alzheimer tetapi pengobatan dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit dan dapat meningkatkan kualitas hidup. Siapa pun bisa terkena penyakit Alzheimer tetapi orang-orang tertentu berisiko lebih tinggi, termasuk orang yang berusia di atas 65 tahun dan mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi tersebut.

Alzheimer dan demensia bukanlah hal yang sama. Penyakit Alzheimer adalah salah satu jenis dari demensia. Tidak ada satu pun hasil yang diharapkan untuk orang dengan Alzheimer.

Beberapa orang hidup lama dengan kerusakan kognitif ringan, sementara yang lain mengalami gejala yang lebih cepat dan perkembangan penyakit yang lebih cepat. Perjalanan setiap orang dengan penyakit Alzheimer berbeda.

Baca juga: Pola diet mediterania, tubuh langsing dan cegah demensia

Baca juga: Manfaat susu almond, turunkan berat badan hinggah cegah Alzheimer


Demensia vs. Alzheimer

Istilah "demensia" dan "Alzheimer" kadang-kadang digunakan secara bergantian. Namun, kedua kondisi ini tidak sama. Alzheimer adalah salah satu jenis dari demensia.

Demensia adalah istilah yang lebih luas untuk kondisi dengan gejala yang berkaitan dengan kehilangan memori seperti pelupa dan kebingungan. Demensia mencakup kondisi yang lebih spesifik, seperti penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, cedera otak traumatis, dan lainnya, yang dapat menyebabkan gejala ini. Penyebab, gejala, dan pengobatan untuk penyakit ini bisa berbeda.

Penyebab dan faktor risiko Alzheimer

Para ahli belum menentukan penyebab tunggal penyakit Alzheimer tetapi mereka telah mengidentifikasi beberapa faktor risiko tertentu, seperti usia yang kebanyakan di atas 65 tahun, riwayat keluarga atau ada anggota keluarga dekat yang mengalaminya, serta genetik.

Akan tetapi, jika Anda memiliki satu atau lebih dari faktor risiko di atas, tidak berarti akan memiliki penyakit Alzheimer di kemudian hari. Ini hanya sebuah risiko saja.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang risiko pribadi terkait mengembangkan kondisi tersebut, bicarakanlah dengan dokter. Pelajari tentang plak amiloid, kusut neurofibrillary, dan faktor lain yang dapat menyebabkan penyakit Alzheimer.

Alzheimer dan genetika

Meskipun tidak ada penyebab Alzheimer yang dapat diidentifikasi, genetika mungkin memainkan peran kunci. Satu gen khususnya menarik bagi para peneliti adalah Apolipoprotein E (APOE). Ini adalah gen yang dikaitkan dengan timbulnya gejala Alzheimer pada orang dewasa yang lebih tua.

Tes darah dapat menentukan apakah Anda memiliki gen ini, yang meningkatkan risiko terkena Alzheimer. Ingatlah bahwa meskipun seseorang memiliki gen ini, mereka mungkin tidak terkena Alzheimer.

Begitu juga sebaliknya, seseorang mungkin terkena Alzheimer walaupun mereka tidak memiliki gen tersebut. Tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti apakah seseorang akan mengembangkan Alzheimer.

Gejala penyakit Alzheimer

Setiap orang memiliki episode kelupaan dari waktu ke waktu. Tetapi orang-orang dengan penyakit Alzheimer menunjukkan perilaku dan gejala tertentu yang terus berlanjut dan semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Hal ini dapat mencakup kehilangan ingatan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, seperti kemampuan untuk menepati janji, kesulitan memecahkan masalah, bingung dari waktu ke waktu, tak ingat waktu dan tempat, kebersihan pribadi menurun, perubahan suasana hati dan kepribadian, serta menarik diri dari teman, keluarga dan komunitas.

Gejala-gejala tersebut akan berubah sesuai dengan stadium penyakit dan bisa berkembang menjadi gejala yang lebih parah.

Alzheimer onset dini

Alzheimer biasanya menyerang orang berusia 65 tahun ke atas, namun dapat terjadi pada orang-orang dengan usia 40-an atau 50-an. Itu disebut dengan Alzheimer onset dini, atau onset yang lebih muda. Jenis Alzheimer ini mempengaruhi sekitar 5 persen dari semua orang dengan kondisi tersebut.

Gejala awal Alzheimer dapat mencakup kehilangan memori ringan dan kesulitan berkonsentrasi atau menyelesaikan tugas sehari-hari. Mungkin sulit untuk menemukan kata yang tepat saat berbicara dan mungkin lupa waktu. Masalah penglihatan ringan, seperti kesulitan membedakan jarak, juga dapat terjadi.

Mendiagnosis penyakit Alzheimer

Satu-satunya cara pasti untuk mendiagnosis seseorang dengan penyakit Alzheimer adalah dengan memeriksa jaringan otak mereka setelah kematian. Tetapi dokter juga dapat menggunakan pemeriksaan dan tes lain untuk menilai kemampuan mental Anda, mendiagnosis demensia, dan mengesampingkan kondisi lain.

Dokter kemungkinan akan mulai dengan mengambil riwayat medis, menanyakan seputar gejala, riwayat keluarga, kondisi kesehatan terkini, obat-obatan yang digunakan, diet, asupan alkohol, gaya hidup dan lainnya.

Tes Alzheimer

Tidak ada tes pasti untuk penyakit Alzheimer. Namun, dokter kemungkinan akan melakukan beberapa tes untuk menentukan diagnosis, bisa berupa tes mental, fisik, neurologis, dan pencitraan.

Dokter kemungkinan akan memulai dengan tes status mental untul menilai memori jangka pendek dan panjang serta orientasi terhadap tempat dan waktu.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan neurologis untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis lain, seperti masalah medis akut, seperti infeksi atau stroke. Selama tes, mereka akan memeriksa refleks, tonus otot, dan ucapan Anda.

Pencitraan otak juga dapat dilakukan yang mencakup MRI. MRI dapat membantu mengetahui tanda kunci, seperti peradangan, pendarahan, dan masalah struktural. Pemindaian tomografi komputer (CT). CT scan mengambil gambar sinar-X yang dapat membantu dokter mencari karakteristik abnormal di otak.

Ada juga pemindaian tomografi emisi positron (PET). Gambar pemindaian PET dapat membantu dokter mendeteksi penumpukan plak. Plak adalah zat protein yang berhubungan dengan gejala Alzheimer.

Tes lain yang mungkin dilakukan dokter termasuk tes darah untuk memeriksa gen yang mungkin mengindikasikan risiko penyakit Alzheimer yang lebih tinggi.

Obat alzheimer

Tidak ada obat yang diketahui untuk penyakit Alzheimer. Namun, dokter dapat merekomendasikan obat-obatan dan perawatan lain untuk membantu meringankan gejala dan menunda perkembangan penyakit selama mungkin.

Untuk Alzheimer awal hingga sedang, dokter mungkin meresepkan obat-obatan seperti donepezil (Aricept) atau rivastigmine (Exelon). Obat-obatan ini dapat membantu mempertahankan kadar asetilkolin yang tinggi di otak. Ini adalah jenis neurotransmitter yang dapat membantu membantu memori Anda.

Untuk mengobati Alzheimer sedang hingga berat, dokter akan meresepkan donepezil (Aricept) atau memantine (Namenda). Memantine dapat membantu memblokir efek kelebihan glutamat.

Glutamat adalah bahan kimia otak yang dilepaskan dalam jumlah yang lebih tinggi pada penyakit Alzheimer dan merusak sel-sel otak.

Dokter juga mungkin merekomendasikan antidepresan, obat anti kecemasan, atau antipsikotik untuk membantu mengobati gejala yang berhubungan dengan Alzheimer. Gejala-gejala ini termasuk depresi, kegelisahan, agresi, agitasi serta halusinasi.

Perawatan Alzheimer

Selain pengobatan, perubahan gaya hidup dapat membantu mengelola kondisi Alzheimer. Biasanya dokter juga membuatkan strategi seperti fokus pada tugas, membatasi kebingungan, menghindari konfrontasi, dan mengatur jadwal untuk istirahat.

Beberapa orang percaya bahwa vitamin E dapat membantu mencegah penurunan kemampuan mental, tetapi penelitian menunjukkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian. Pastikan untuk bertanya kepada dokter sebelum mengonsumsi vitamin E atau suplemen lainnya. Ini dapat mengganggu beberapa obat yang digunakan untuk mengobati penyakit Alzheimer.

Mencegah Alzheimer

Sama seperti tidak ada obat yang diketahui untuk Alzheimer, tidak ada tindakan pencegahan yang tepat. Namun, para peneliti berfokus pada kebiasaan gaya hidup sehat untuk pencegahan penurunan kognitif seperti berhenti merokok, berolahraga teratur dan ikut pelatihan kognitif.

Baca juga: Penyakit demensia-alzheimer hanya lima persen faktor turunan

Baca juga: Hari Alzheimer Sedunia 2021 serukan pentingnya deteksi dini

Baca juga: Alzheimer's Indonesia: Lansia dengan demensia dapat divaksin COVID-19


 

Oleh Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

WHO identifikasi seperempat penyintas di dunia alami

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar