Gedung Putih kritik ancaman "pecut" pada imigran Haiti

Gedung Putih kritik ancaman "pecut" pada imigran Haiti

Seorang polisi perbatasan AS memotong jalan seorang imigran pencari suaka saat mencoba kembali ke Amerika Serikat di sepanjang sungai Rio Grande, setelah menyeberang ke dari AS kembali ke Meksiko untuk membeli makanan, di Ciudad Acuna, Meksiko, Minggu (19/9/2021). ANTARA/REUTERS/Daniel Becerril/FOC/djo.

.... kami akan menyelidiki faktanya
Ciudad Acuna (ANTARA) - Pemerintah Amerika Serikat mengkritik penggunaan tali kekang kuda untuk mengancam imigran Haiti, kata juru bicara Gedung Putih Jen Psaki pada Senin (20/9).

Pernyataan itu disampaikan untuk menanggapi gambar-gambar yang beredar di mana seorang penjaga perbatasan yang menunggang kuda terlihat menyerang sejumlah imigran dekat sebuah kamp di Texas.

Ribuan imigran asal Haiti memenuhi kawasan Del Rio, Texas, setelah menyeberangi sungai Rio Grande dari Ciudad Acuna, Meksiko, pada akhir pekan.

Dalam beberapa hari terakhir, sebagian besar dari mereka bolak-balik ke Ciudad Acuna untuk membeli air dan makanan yang sulit mereka dapatkan di Del Rio.

Sejumlah saksi mata mengaku melihat beberapa petugas berkuda dan bertopi koboi menghalangi jalur para imigran.

Baca juga: Van migran di Texas kecelakaan, 10 tewas 12 terluka

Seorang petugas terlihat mengangkat seutas tali seperti jerat ternak yang diayunkan ke wajah seorang imigran, kata saksi.

Sebuah video yang memperlihatkan seorang penjaga perbatasan mengancam para imigran dengan tali beredar di media sosial.

"Saya tidak berpikir siapa pun yang melihat rekaman itu akan menganggap (tindakan) itu bisa diterima atau pantas," kata Psaki kepada wartawan.

Beberapa netizen di media sosial berkomentar bahwa gambar sejumlah orang kulit hitam yang dikejar petugas kulit putih di atas punggung kuda melukiskan ketidakadilan sejarah yang diderita kaum kulit hitam di AS.

Kepala Pengawas Perbatasan AS Raul Ortiz mengatakan insiden itu akan diselidiki untuk memastikan ada tidaknya tindakan "tak pantas" yang dilakukan penegak hukum.

Dia mengatakan para penjaga bertugas dalam lingkungan yang sulit dan berusaha memastikan keselamatan imigran sembari mencari para penyelundup.

Menteri Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas menyebut tali kekang panjang itu digunakan petugas berkuda untuk "mengendalikan kudanya".

"Namun kami akan menyelidiki faktanya," kata dia dalam jumpa pers di Del Rio.

Baca juga: Kanada siap terima mingran Amerika Tengah untuk bantu AS

Kamp imigran di bawah jembatan layang di Rio Grande telah menjadi isu panas bagi pemerintah AS yang tengah berusaha menekan aliran imigran yang kabur dari kekerasan geng, kemiskinan ekstrem dan bencana alam di negara mereka.

Kamp tersebut menjadi rumah darurat bagi 12.000 lebih imigran, meski Gubernur Texas Greg Abbott mengatakan angkanya bisa mencapai 16.000 orang pada Sabtu.

Banyak dari mereka telah menempuh perjalanan jauh dari selatan seperti Chile dan berharap bisa mendapat suaka di AS.

Para imigran pada Senin mengeluhkan sulitnya mendapatkan air dan makanan di kamp tersebut ketika suhu udara mencapai 40 derajat Celsius.

Beberapa dari mereka yang kembali ke AS dari Meksiko untuk membeli kebutuhan terlihat berusaha menyunggi kantong besar berisi es  saat berjalan menyeberangi sungai.

"Perlakuan mereka (petugas) kepada kami itu rasisme, lantaran warna kulit kami," kata Maxon Prudhomme, seorang imigran Haiti di tepi sungai Rio Grande di Meksiko.

Baca juga: Meksiko minta AS dukung program kesejahteraan untuk kekang migrasi

Ketika matahari mulai tenggelam, sekitar 200 imigran berkemah di sebuah ladang dekat sungai itu di sisi Meksiko. Mereka menggelar kardus dan selimut sebagai alas tidur di bawah pohon.

Sejumlah imigran mengatakan mereka kembali ke Meksiko untuk mencari air dan makanan, sementara yang lain menyeberang karena takut dideportasi ke Haiti oleh pemerintah AS.

Penerbangan pertama yang membawa pulang imigran dari kamp Del Rio tiba di Port-au-Prince, Haiti pada Minggu dan sedikitnya tiga penerbangan berikutnya telah dijadwalkan pada Senin, menurut situs penelusuran penerbangan Flightaware.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Senin berbicara via telepon dengan Perdana Menteri Haiti Ariel Henry tentang repatriasi imigran Haiti di perbatasan selatan AS, kata Deplu AS dalam pernyataan.

Blinken mengatakan di Twitter bahwa dia juga berbicara dengan Menlu Meksiko Marcelo Ebrard "tentang upaya kami mendukung migrasi yang aman, teratur dan humanis".

Sumber: Reuters

Baca juga: Puluhan ribu migran tidur di bawah jembatan Texas
Baca juga: Protes migran di Meksiko selatan: 'Kami bukan penjahat'

Penerjemah: Anton Santoso
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

UNHCR berikan bantuan makanan bagi para pengungsi di Libya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar