Komunitas KAHE gelar pameran seni "Re-Imagine Bikon Blewut"

Komunitas KAHE gelar pameran seni "Re-Imagine Bikon Blewut"

Pameran seni rupa bertajuk "Re-Imagine Bikon Blewut" (R-IBB) Komunitas KAHE bekerja sama dengan Museum Bikon Blewut dan Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STFK) Ledalero pada Sabtu (18/9) hingga Jumat (24/9). (ANTARA/HO-Komunitas KAHE)

Jakarta (ANTARA) - Komunitas KAHE bekerja sama dengan Museum Bikon Blewut dan Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STFK) Ledalero menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB).

Kurator pameran R-IBB, Eka Putra Nggalu, menyebutkan pameran ini merupakan bentuk refleksi, interpretasi, hingga pembayangan kembali (re-imagine) sejarah tradisi dan modernitas di Flores oleh komunitas dan seniman.

“Kami punya kebutuhan untuk mengimajinasikan kembali tradisi, sejarah gereja, dan kebudayaan Flores. Jadi di sini kata ‘re-imagine’ menjadi penting,” katanya kepada ANTARA pada Selasa.

Ia mengatakan para seniman Komunitas KAHE yang berasal dari generasi milenial memiliki keresahan dan merasakan jurang lebar terhadap sejarah tradisi dan modernitas di Flores. Oleh sebab itu, kata Eka, komunitas mempunyai kebutuhan untuk belajar dan menggali lebih dalam terhadap wacana seni budaya di Flores.

Baca juga: Memamerkan "Wolo Utiye" di "Kota Seni Rupa" Indonesia

“Akses kami sangat terbatas pada tradisi, seperti puisi lokal, arsitektur rumah lokal, arsitektur kampung lokal, dan sebagainya, tetapi sekaligus juga jauh dari karya-karya seni modern atau kontemporer karena ekosistem di daerah sangat minim,” ujar ketua Komunitas KAHE itu.

Pameran R-IBB dimulai dengan sejumlah riset intensif yang dilakukan oleh tim riset Komunitas Kahe. Riset ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami persilangan kebudayaan Flores dan modernisme yang turut hadir bersamaan dengan kolonialisme dan evangelisasi yang dipelopori oleh para misionaris Gereja Katolik.

“Selama riset, kami mendapati informasi dan temuan-temuan menarik bahwa tradisi Gereja Katolik di Flores itu punya peran besar tentang bagaimana tradisi dan modernisme bertumbuh,” katanya.

Museum Bikon Blewut sendiri merupakan sebuah artefak sejarah yang kehadirannya beririsan langsung dengan sejarah misi dan modernisasi yang dimotori oleh Gereja berserta bias serta tegangan kolonialisme dan evangelisasi.

Baca juga: ARTJOG diharap jadi ruang pertemuan karya seni dengan publik

Museum tersebut lahir dari kerja-kerja geologi, antropologi, dan etnologi yang dikembangkan dalam beberapa periode ekspedisi. Periode pertama dimotori oleh para misionaris Societas Verbi Divini (SVD), salah satunya Dr. Th. Verhoeven, dan berlangsung pada 1965 di Todabelu, Mataloko, Flores.

Sementara periode berikutnya beberapa misionaris lokal mulai terlibat, salah satunya Piet Petu. Pada perkembangannya, ia menjadi salah satu tokoh penting dalam pendirian Museum Bikon Blewut sejak tahun 1983 di Ledalero, Maumere, Flores.

“Piet Petu menerima pengaruh modernitas sebagai misionaris, di sisi lain dia punya ambivalensi personal yang sangat kuat dengan kolonial. Dia justru mendekolonisasi praktik kuratorial yang dibuat Verhoeven. Misalnya, Verhoeven memiliki data-data arkeologi yang sangat rigid, Piet Petu justru mengubah struktur itu dengan menempatkan fosil gading berdampingan dengan benda-benda lainnya,” terang Eka.

Ia mengatakan komunitas tidak memilik data yang akurat tentang koleksi museum pada periode awal karena telah didekonstruksi oleh Piet Petu. Selain itu, museum menjadi agak terbengkalai setelah ditinggalkan Piet Petu.

Baca juga: Lima karya seni ISI Yogyakarta dipajang di pameran Shanghai

“Kami banyak menemukan benda yang tidak punya nama dan kategori sehingga yang paling mungkin kami lakukan adalah memberi ruang pembayangan. Kata 're-imagine' menjadi penting,” ujarnya.

R-IBB memiliki dua ruang pamer. Pada ruang pertama, Komunitas KAHE menampilkan berbagai koleksi museum yang didialogkaan dengan sejarah Gereja Katolik.

“Kami men-display hasil temuan Verhoeven, ada fosil manusia purba Flores, gajah purba Flores, lalu barang-barang tembikar dan barang-barang dari zaman perunggu. Kami membuat instalasi pulau Flores untuk memberi imajinasi pada pengunjung,” terang Eka.

Selain itu, ada pula lukisan-lukisan yang dibuat oleh tiga seniman Komunitas KAHE. Eka mengungkapkan lukisan tersebut merupakan hasil pembacaan seniman atas tiga jilid buku “Orang-orang Katolik di Indonesia” karya Karel Steenbrink.

Baca juga: Museum MACAN siapkan pameran luring dan program virtual tahun depan

Sementara pada ruang kedua, Komunitas KAHE memilih untuk menampilkan profil Verhoven dan Piet Petu, beberapa arsip Piet Petu tentang sejarah Flores lewat ilustrasi dan foto, serta arsip-arsip koran tentang sejarah Gereja dan sejarah penelitian-penelitian SVD di Flores.

Selain pameran, R-IBB menyelenggarakan tur dan literasi, seminar, pemutaran dan diskusi film, bincang proses kreatif, dan beragam pertunjukan seni. Pameran ini terpusat di Musem Bikon Blewut yang terletak di kampus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero.

Kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari rangkaian Docking Program Biennale Jogja XVI Equator #6, sebuah pameran seni rupa yang telah dikenal luas baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Rangkaian pameran R-IBB berlangsung selama seminggu, dibuka dengan seminar bertema “Gereja, Kolonialisme, dan Modernisme” pada Sabtu (18/9) dan ditutup dengan acara pentas seni pada Jumat (24/9).

Baca juga: Pekerja seni Riau pameran virtual 76 jam non stop sambut HUT RI

Baca juga: Galeri Nasional Indonesia gelar pameran seni rupa daring "POROS"

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Rekreasi Warna Khatulistiwa, ajang pamer karya perupa lokal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar