RI sebagai pusat vaksin global bisa bantu kemandirian industri farmasi

RI sebagai pusat vaksin global bisa bantu kemandirian industri farmasi

Ilustrasi - Seorang asisten apoteker meracik obat di Apotek Arcamanik, Bandung, Jawa Barat, Rabu (21/3/2018). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/kye/aa.

Indonesia memenuhi syarat untuk menjadi pusat produksi vaksin global. Apabila peluang ini lepas maka kita akan merugi. Bukan soal hitungan kerugian material, tapi yang lebih penting adalah hilangnya kesempatan membangun kemandirian di bidang farmasi,
Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mendorong Republik Indonesia dapat menjadi pusat produksi vaksin global karena dapat membantu terwujudnya kemandirian industri farmasi nasional.

"Indonesia memenuhi syarat untuk menjadi pusat produksi vaksin global. Apabila peluang ini lepas maka kita akan merugi. Bukan soal hitungan kerugian material, tapi yang lebih penting adalah hilangnya kesempatan membangun kemandirian di bidang farmasi," kata Netty dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Untuk itu, Netty menginginkan pemerintah dapat menjalankan strategi yang tepat agar peluang dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi vaksin tidak hilang.

Baca juga: Ketua DPR dukung RI jadi pusat produksi vaksin global

Ia menilai, Indonesia sangat tepat dijadikan pusat produksi vaksin mengingat statusnya sebagai negara menengah yang masih membutuhkan banyak vaksin.

"Langkah ini positif dan patut didukung. Pemerintah harus melakukan upaya serius dan sungguh-sungguh agar Indonesia dipilih sebagai salah satu pusat produksi vaksin global oleh WHO,” kata Netty.

Dengan dijadikannya Indonesia sebagai pusat produksi vaksin global, maka diharapkan terjadi transfer teknologi ke negara berkembang, khususnya di bidang farmasi.

Netty juga mengingatkan bahwa pada masa pandemi ini, terlihat jelas ketimpangan infrastruktur kesehatan antara negara berkembang dan negara maju yang berdampak pula pada ketidakadilan akses dan distribusi vaksin global.

"Banyak negara berkembang yang kesulitan mendapatkan vaksin, sementara negara maju justru surplus vaksin karena bisa produksi sendiri," katanya.

Baca juga: IGJ: Galang komitmen multilateral produksi vaksin di negara berkembang

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pabrik vaksin milik PT Etana Biotechnologies Indonesia di Pulogadung, Jakarta Timur, akan mengembangkan vaksin COVID-19 mRNA, dengan teknologi, yang sama dengan Pfizer.

Luhut dalam peluncuran Kampanye Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia #PasarLautIndonesia di Aceh, yang dipantau dari Jakarta, Rabu (8/9), menjelaskan dirinya pada 7 September telah mengunjungi langsung pabrik di Pulogadung tersebut.

Etana Biotechnologies Indonesia berencana untuk memproduksi vaksin COVID-19 mRNA bekerja sama dengan Walvax Biotechnology, perusahaan asal China yang terlibat dalam riset, pengembangan, produksi, dan dan distribusi vaksin, monoclonal antibodi, dan produk darah.

Menurut Luhut, Etana sudah siap memproduksi vaksin. Ia juga menyebut kesiapan produksi vaksin di Etana sudah mendapat acungan jempol dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito.

Rencananya, vaksin Etana akan mulai diproduksi mulai Juni-Juli 2022 dengan total produksi mencapai 30 juta dosis pada tahap awal.

"Sekarang prosesnya jalan. Kita lihat nanti dia refilling bulan 12 (Desember). Kalau dapat emergency use authorization, nanti bisa mulai produksi tahun depan pada bulan Juni-Juli. Itu akan 30 juta dosis tahap pertama dan 70 juta dosis kemudian," kata Luhut.

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Revisi RPP Farmasi akan kembangkan industri obat nasional

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar