Wall Street bervariasi, S&P dan Nasdaq jatuh terseret saham teknologi

Wall Street bervariasi, S&P dan Nasdaq jatuh terseret saham teknologi

Ilustrasi - Pialang sedang bekerja di lantai Bursa Efek New York, Wall street, Amerika Serikat. ANTARA/Reuters/pri

Saham yang sensitif secara ekonomi naik, dan saham teknologi tertekan
New York (ANTARA) - Wall Street bervariasi pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup lebih rendah karena investor beralih ke saham-saham murah setelah saham sektor teknologi dilanda aksi jual yang dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 71,37 poin atau 0,21 persen menjadi menetap di 34.869,37 poin. Indeks S&P 500 tergerus 12,37 poin atau 0,28 persen, menjadi berakhir di 4.443,11 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup melemah 77,73 poin atau 0,52 persen, menjadi 14.969,97 poin.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, enam ditutup lebih rendah, dengan sektor real estate dan perawatan kesehatan mengalami persentase kerugian terbesar.

Indeks saham unggulan Dow Jones ditutup di wilayah positif, didukung oleh sektor keuangan dan industri. Sementara saham-saham berkapitalisasi kecil dan transportasi yang sensitif secara ekonomi mengungguli pasar yang lebih luas.

Saham raksasa teknologi seperti Apple, Amazon, dan induk Google Alphabet berada di bawah tekanan, dan sektor teknologi S&P 500 mundur lebih dari satu persen, di tengah lonjakan imbal hasil obligasi AS.

Saham-saham teknologi biasanya sensitif terhadap suku bunga karena kenaikan suku bunga dapat membuat ekuitas yang terbang tinggi menjadi kurang menarik bagi investor.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun naik menjadi 1,49 persen pada akhir perdagangan Senin (27/9), setelah naik di atas level kunci 1,5 persen di awal sesi, sementara imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 30-tahun melayang sekitar 2,0 persen.

“Pembukaan kembali ekonomi masih hidup dan sehat,” kata Chuck Carlson, kepala eksekutif Horizon Investment Services di Hammond, Indiana. "Saham yang sensitif secara ekonomi naik, dan saham teknologi tertekan."

Imbal hasil obligasi AS yang naik menguntungkan sektor keuangan yang sensitif terhadap suku bunga. Naiknya harga minyak mentah mendorong saham energi ke persentase kenaikan penutupan terbesar.

"Kenaikan suku bunga biasanya mencerminkan investor memiliki sedikit lebih banyak kepercayaan bahwa ekonomi tidak akan terhenti," tambah Carlson. "Dan The Fed juga mengindikasikan akan mulai melakukan tapering lebih cepat, dan itu mungkin membantu kenaikan suku bunga."

Di Washington, negosiasi mengenai pendanaan pemerintah dan menaikkan plafon utang memanas pada awal pekan yang juga dapat mencakup pemungutan suara pada rancangan undang-undang infrastruktur senilai satu triliun dolar AS dari Presiden AS Biden.

Di sisi ekonomi, pesanan baru untuk barang tahan lama dengan mudah melewati ekspektasi analis, naik 1,8 persen pada Agustus. Nilai total pesanan baru telah tumbuh melampaui level pra-pandemi ke level tertinggi tujuh tahun.

Indeks S&P 500 berada di jalur untuk menghentikan kenaikan beruntun tujuh bulannya, karena prospek tarif pajak perusahaan yang lebih tinggi dan petunjuk dari Federal Reserve AS akan memperketat kebijakan moneter akomodatifnya di bulan-bulan mendatang.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 10,32 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,19 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar