Rupiah ditutup melemah, tertekan kenaikan imbal hasil obligasi AS

Rupiah ditutup melemah, tertekan kenaikan imbal hasil obligasi AS

Ilustrasi - Karyawan menghitung uang rupiah di sebuah bank, di Jakarta. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.

Dolar AS bergerak solid karena ditopang kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore ditutup melemah, dipicu kenaikan imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup melemah 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.273 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.253 per dolar AS.

"Dolar AS bergerak solid karena ditopang kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Tingkat imbal hasil obligasi AS terdorong lebih tinggi karena perubahan nada yang cenderung hawkish oleh bank sentral AS, Federal Reserve (Fed).

The Fed pada pekan lalu mengumumkan bahwa bank sentral mungkin akan segera memulai pemangkasan stimulus paling cepat pada November dan diikuti kenaikan suku bunga yang mungkin akan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Selain itu jumlah pejabat Fed yang saat ini melihat adanya kenaikan suku bunga pada 2022 pun bertambah.

Semalam tiga pejabat The Fed mengatakan siap untuk menarik langkah-langkah dukungan ekonomi meskipun mereka tidak melihat adanya ancaman dari inflasi.

Dalam pidato terpisah, Gubernur Fed Lael Brainard dan Presiden wilayah New York John Williams, serta dari Chicago Charles Evans, semuanya menunjukkan kenyamanan dengan pengetatan kebijakan fase pertama, dengan pemangkasan bertahap dalam pembelian obligasi bulanan yang telah memberikan dukungan untuk pasar dan ekonomi.

Baca juga: Rupiah diprediksi tertekan seiring naiknya imbal hasil obligasi AS

Meskipun begitu, mereka menekankan bahwa langkah tersebut yaitu pemangkasan pembelian obligasi, belum tentu menjadi sinyal lanjutan untuk kenaikan suku bunga.

Selanjutnya pada hari ini fokus pasar akan tertuju ke testimoni Ketua The Fed Jerome Powell di hadapan Senat AS yang dijadwalkan pukul 21:00 WIB malam nanti.

Jika Jerome Powell memberikan sinyal pengetatan kebijakan moneter dari lembaganya, hal itu berpotensi memicu penguatan dolar AS. Namun, jika Jerome Powell tidak memberikan sinyal pengetatan, berpeluang memicu pelemahan dolar AS.

Dari dalam negeri, jumlah kasus harian COVID-19 di pada Senin (27/9) bertambah 1.390 kasus sehingga total jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 4,21 juta kasus.

Sedangkan jumlah kasus meninggal akibat terpapar COVID-19 mencapai 118 kasus sehingga totalnya mencapai 141.585 kasus. Sementara itu jumlah kasus sembuh bertambah sebanyak 3.771 kasus sehingga total pasien sembuh mencapai 4,03 juta kasus. Dengan demikian, total kasus aktif COVID-19 mencapai 40.270 kasus.

Untuk vaksinasi, jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin dosis pertama mencapai 87,16 juta orang dan vaksin dosis kedua 48,92 juta orang dari target 208 juta orang yang divaksin.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.262 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.256 per dolar AS hingga Rp14.282 per dolar AS.

Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa melemah ke posisi Rp14.269 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.258 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah Selasa pagi melemah 15 poin
 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Gubernur BI sebut penguatan rupiah berdampak positif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar