PLN beri perhatian program dekarbonisasi 2060

PLN beri perhatian program dekarbonisasi 2060

Ilustrasi - Instalasi kelistrikan PLN. ANTARA/HO-PLN.

Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan pihaknya memberikan perhatian besar terhadap tren global dan transisi energi di Indonesia melalui penyusunan strategi dan peta jalan untuk mendorong dekarbonisasi pada 2060.

"Kami bekerja keras untuk mengejar mencapai target dengan bauran energi 23 persen pada 2025. Selanjutnya, kami merancang peta jalan penghentian PLTU hingga 2056 sehingga carbon neutral bisa dicapai," ujarnya dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Kamis.

Zulkifli menjelaskan, ada dua pendekatan yang dilakukan PLN dalam mencapai target tersebut. Pertama, menerapkan dekarbonisasi dalam portofolio PLN.

"Kami sudah menginventarisir produk dari rumah kaca. Kami memperkirakan puncak emisi Rumah Kaca akan terjadi pada tahun 2030 dan secara bertahap mengurangi dan mencapai emisi nol bersih pada 2060," jelasnya.

Pendekatan kedua, setelah melakukan inventarisasi, perusahaan mengembangkan lini bisnis baru yang mengedepankan dekarbonisasi nasional seperti pengembangan PLTS, SPKLU, dan peralihan dari kompor gas ke kompor induksi.

Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya mendukung negara yang bebas emisi, tetapi secara internal juga bisa meningkatkan keandalan dan keterjangkauan biaya.


Baca juga: IESR: Kebijakan pensiunkan PLTU batu bara untuk dukung dekarbonisasi

Kedua, cita cita dekarbonisasi ini juga perlu dukungan penelitian dan pengembangan teknologi r
amah lingkungan yang memerlukan kerja sama semua pihak agar cita-cita tersebut bisa segera terealisasi.

Harapan ketiga terkait instrumen nilai ekonomi karbon. Sistem perdagangan karbon di sektor ketenagalistrikan ada sebagai produk dari serangkaian proses studi, konsultasi publik dan sekarang pindah ke tahap pengujian.

Zulkifli menilai bahwa perdagangan emisi karbon lebih tepat untuk menghadirkan inovasi dalam agenda pengurangan emisi bagi pembangkit yang dimiliki PLN.

"Kami melihat sistem perdagangan karbon ada sebagai instrumen yang lebih tepat untuk mendorong inovasi pengurangan emisi di unit pembangkit daripada mekanisme pajak karbon," ujar Zulkifli.

Dalam ajang Penghargaan Subroto 2021, sebuah ajang penghargaan tertinggi dan bergengsi di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), PLN Group meraih 27 penghargaan.

Zulkifli menyampaikan penghargaan itu menjadi motivasi penting terlebih dalam mendorong perdagangan karbon sebagai upaya penurunan emisi di aset pembangkit perseroan.


Baca juga: IETD 2021 serukan percepatan dekarbonisasi sistem energi


Adapun penghargaan yang berhasil diboyong oleh grup PLN, antara lain di bidang keselamatan ketenagalistrikan dari berbagai kategori sebanyak 10 penghargaan.

Dalam bidang efisiensi energi, grup PLN meraih enam penghargaan di kategori Manajemen Energi di Gedung dan Industri.

Selanjutnya untuk penurunan dan perdagangan emisi karbon di sektor pembangkit listrik, PLN meraih 11 penghargaan dari beberapa kategori, seperti PLTU Tanjung Jati B (TJB) Unit 4 yang meraih penghargaan bidang efisiensi energi atas peran terhadap penurunan emisi dan perdagangan emisi karbon.

PLTU TJB Unit 4 di bawah pengelolaan Unit Induk Pembangkitan Tanjung Jati B di Jepara Jawa Tengah, dalam ajang ini meraih penghargaan Juara 1 Kategori Penurunan dan Perdagangan Emisi Karbon di Sektor Pembangkit Listrik - Seller untuk PLTU Non Mulut Tambang di atas 400 megawatt.

PLTU TJB Unit 4 milik PLN memiliki intensitas emisi terendah pada tahun lalu. PLTU TJB memiliki surplus kuota emisi yang cukup besar.

Dalam uji coba perdagangan emisi, PLTU TJB Unit 4 telah berhasil melakukan transfer kuota emisi kepada beberapa pembangkit sejenis, seperti PLTU Punagaya, PLTU Pangkalan Susu, PLTU Sebalang dan PLTU Teluk Sirih dengan harga Rp30.000 per unit karbon atau setara satu ton karbon dioksida.


Baca juga: IESR: Indonesia mampu capai nol emisi karbon pada 2050

Baca juga: Dekarbonisasi janjikan peluang ekonomi yang sangat besar

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Sore

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar