Tokoh Reformasi Ceko Vaclav Havel Ingin Berkunjung ke Indonesia

Tokoh Reformasi Ceko Vaclav Havel Ingin Berkunjung ke Indonesia

Mantan Presiden Ceko, Vaclav Havel (istimewa)

London (ANTARA News) - Mantan Presiden dan tokoh reformasi Ceko, Vaclav Havel (74), menyampaikan keinginannya untuk berkunjung ke Indonesia ketika menerima kunjungan kehormatan Duta Besar RI untuk Republik Ceko, Emeria Siregar di Praha, Ceko.

Duta Besar Emeria Siregar menjelaskan perkembangan hubungan Indonesia-Ceko yang sama-sama mengalami banyak perubahan menuju negara demokrasi, dan sejak kedatangannya hampir empat bulan lalu ia juga telah berkunjung ke berbagai daerah di Ceko sebagai upaya meningkatkan berbagai kerjasama bilateral.

Counsellor Politik KBRI Praha, Azis Nurwahyudi dalam keterangan persnya yang diterima Antara London, Rabu mengatakan kepada tokoh demokrasi Ceko tersebut, Dubes menyampaikan proses perkembangan demokrasi di Indonesia yang telah berlangsung sejak 1998.

Pada kesempatan tersebut, Emeria Siregar meminta agar Havel berkenan menjadi patron pada acara-acara kebudayaan Indonesia di Ceko, mengingat Havel adalah budayawan Ceko yang legendaris.

Menanggapi hal tersebut, Vaclav Havel, tokoh yang memimpin Revolusi Beludru di Cekoslovakia tahun 1989, menyambut baik hubungan bilateral yang semakin hangat antara Indonesia-Ceko, dan secara tegas menyanggupi untuk menjadi patron kegiatan budaya Indonesia di Ceko.

Atas keinginan mantan Presiden Vaclav Havel untuk berkunjung ke Indonesia, Emeria Siregar menyatakan sangat menyambut baik dan akan mengupayakan pihak Indonesia untuk mengundangnya.

Pertemuan singkat yang berjalan hangat tersebut merupakan salah satu upaya KBRI Praha dalam memperkenalkan kembali Indonesia baru kepada para elit politik Ceko.

Pada kunjungan tersebut, Dubes menyampaikan penghargaan atas upaya Pemerintah Ceko untuk melestarikan kastil-kastil indah yang merupakan warisan budaya nasional (national heritage), dan menyerahkan kenang-kenangan berupa kain tenun dan keris dari perak sambil menjelaskan keris merupakan warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO, demikian Azis Nurwahyudi. (ZG/K004)

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar