Artikel

Api PON dan kisah perjalanannya melintasi zaman

Oleh Michael Siahaan

Api PON dan kisah perjalanannya melintasi zaman

Pesepak bola legendarIs Indonesia Rully Rudolf Nere (kanan) dan Bupati Jayapura Mathius Awoitouw (kiri) membawa obor api PON Papua setibanya di Dermaga Kalkhote, Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (2/10/2021). ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.

Mimika (ANTARA) - Ketika Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua dibuka 2 Oktober 2021, nyala api PON mulai menerangi Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura.

Banyak yang menganggap api tersebut simbol semangat atlet dan kehangatan tuan rumah dalam menyambut kontingen-kontingen yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebelum sampai lokasi pembukaan PON, api yang menyala selama PON itu diarak melewati berbagai tempat. Khusus PON Papua, daerah yang disambangi erat kaitannya dengan wilayah adat suku-suku di provinsi ini.

Pelaksanaan PON memang identik dengan api dan obor yang membawanya, namun perlu diketahui seremoni api tersebut baru diadakan pada 1969 atau mulai PON ketujuh di Surabaya, Jawa Timur.

Indonesia belum mengenal istilah kirab api PON saat PON pertama kali digelar di Solo pada 8-12 September.

Saat pertama kali dilangsungkan, simbol persatuan yang dibawa berkeliling menuju tempat pembukaan PON adalah bendera PON.

Beberapa hari sebelum PON pertama di Solo, pada September 1948, bendera PON, yang ketika itu masih berlambang lima lingkaran Olimpiade dengan obor di tengah, diberangkatkan dari Istana Kepresidenan di Yogyakarta.

Bendera itu diserahkan langsung oleh Presiden Sukarno kepada ketua kirab bendera PON, Juwadi.  Sorip Harahap, dalam bukunya "PON I-X" terbitan KONI Pusat (1985), menyebut proses mengantar bendera itu ke Solo berlangsung menegangkan dan penuh waspada.

Baca juga: Presiden Jokowi menghadiri pembukaan PON XX Papua

Bendera itu berpindah-pindah bersama rakyat yang berjalan kaki secara bergantian. Perjalanan dibatasi tak lebih dari pukul delapan malam demi keselamatan pembawa bendera.

Meski semua dilakukan dengan sangat hati-hati dan dalam kondisi rawan, masyarakat di wilayah yang dilewati bendera ini menyambut kirab tersebut dengan meriah.

Akhirnya, bendera itu sampai di Stadion Wedari, Solo, yang menjadi lokasi pembukaan PON I. Mengingat sulitnya kondisi Indonesia kala itu, termasuk jerih payah membawa bendera tersebut dari Yogyakarta ke Solo, upacara pengibaran bendera PON I berlangsung dengan sangat khidmat.

Indonesia yang baru berumur tiga tahun, ternyata bisa menyelenggarakan pesta olahraganya sendiri, dengan keringatnya sendiri.

Kirab bendera PON berlanjut ke PON Kedua pada 21-28 Oktober 1951 yang menempuh rute dari Solo ke lokasi penyelenggara, Jakarta Raya yang kini bernama DKI Jakarta.

Namun, yang berbeda, selain bendera PON I, ada juga bendera baru yang diperkenalkan untuk PON II yaitu bendera bergambar sayap Garuda, tiga lingkaran dan api merah menyala. Bendera anyar itulah yang menjadi bendera PON yang dikenal sekarang.

Arak-arakan bendera tetap dengan berjalan kaki demi menunjukkan keteguhan dan persatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Kebiasaan mengirabkan bendera ini terus dilakukan sampai akhirnya diputuskan PON akan menggunakan api dalam acara kirab sebelum pembukaan, mulai dari PON VII di Surabaya pada 1969.

Bisa disebut pergantian tersebut tidak lepas dari berubahnya tujuan PON, dari awalnya sebagai sarana perjuangan demi menunjukkan eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat, menjadi wadah mencetak atlet-atlet berprestasi.

Kebijakan untuk menggunakan api mengikuti cara dalam Olimpiade sebagai lambang semangat atlet meraih pencapaian tertinggi.

Baca juga: Pembukaan PON Papua: hiasan kepala suku Dayak ramaikan parade atlet
 

Oleh Michael Siahaan
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dampak ekonomi PON & Peparnas capai Rp1,6 triliun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar