Artikel

Jasmini, romantisme Monas dan emas PON Papua

Oleh Gilang Galiartha

Jasmini, romantisme Monas dan emas PON Papua

Pesepak takraw putri Jawa Timur Siti Juwariyah (kanan) berteriak ke arah pesepak takraw putri DKI Jakarta Jasmini (kiri) saat final sepak takraw ganda putri beregu PON Papua di GOR Trikora Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, Rabu (29/9/2021). DKI Jakarta berhasil menang atas Jawa Timur dalam pertandingan pertama dengan skor 2-1 (21-15, 15-21, dan 21-14). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Jayapura (ANTARA) - "Anda selalu mendapatkan gagasan berlebihan tentang hal-hal yang tidak Anda ketahui," demikian tulis Albert Camus dalam novella "Orang Asing" yang pertama kali terbit pada 1942.

Hal yang sama berlaku bagi Jasmini, salah satu atlet yang membantu tim sepak takraw DKI Jakarta menuntaskan dahaga medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk pertama kalinya di PON XX Papua.

Jasmini muda kala itu disodori pilihan untuk melanjutkan mengikuti pembinaan atlet di Makassar, Sulawesi Selatan, atau Ragunan, DKI Jakarta, dan Monumen Nasional (Monas) jadi penentu jalannya.

Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, Monas adalah pemandangan biasa yang kerap dijadikan tujuan pelesir akhir pekan ataupun di waktu senggang biasa.

Namun bagi Jasmini, yang lahir dan tumbuh besar di Pulau Kayuadi, Kepulauan Selayar, Sulsel, Monas dalam gagasannya adalah sesuatu yang amat sangat menarik hingga nantinya mengukir prestasi membanggakan bahkan memecahkan sejarah untuk sepak takraw DKI.

Tamat bangku sekolah menengah pertama (SMP) pada 2007, Jasmini menyeberang dari Pulau Kayuadi ke pusat Kabupaten Kepulauan Selayar untuk melanjutkan pendidikan tingkat sekolah menengah atas (SMA).

Selama di pusat pemerintahan Kabupaten Kepualuan Selayar, ia menghabiskan banyak waktu untuk menempa kemampuannya di Sanggar PKK Kabupaten Kepulauan Selayar di bawah arahan pelatih pertamanya, Abdul Wahab.

Hasil latihan itu membuahkan gelar juara Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Sulsel di Makassar. Jasmini yang duduk di bangku kelas dua SMA, menjadi buruan pemandu bakat yang menawarinya untuk berlatih di Sulsel atau DKI.

Salah seorang kakak Jasmini yang menempuh pendidikan di sekolah pelayaran, sempat mengunjungi Jakarta selama tiga bulan dalam masa didiknya. Foto berlatar belakang Monas yang dipamerkan sang kakak menjadi pemicu bagi Jasmini memilih untuk merantau dan meniti karier sebagai atlet di Jakarta.

"Kakak saya bilang 'itu emas di atasnya'. Rasa penasaran itu yang mendasari saya memilih Jakarta," kata Jasmini saat ditemui di GOR Trikora, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (2/10).

Setelah meyakinkan diri, membulatkan tekad dan meminta doa restu dari kedua orang tuanya, merantaulah Jasmini ke Jakarta sejak 2009, melanjutkan pendidikan di SMA Negeri Ragunan.

Jasmini mengaku bahkan rasa penasaran akan Monas menjadi satu-satunya alasan ia mengambil tawaran hijrah ke Jakarta, ketimbang melanjutkan pembinaan di Makassar.

"Pada saat itu enggak kepikiran soal persaingan keras di Makassar, tapi memang pilihan saya itu Alhamdulillah banget, karena memang di Makassar persaingan ketat, walaupun pelatih di sana juga sudah menawarkan tes masuk," tuturnya.

Pernyataan Jasmini datang bukan dari ketidakyakinan bahwa ia bakal kesulitan bersaing di Makassar, tetapi berdasar keyakinan bahwa Tuhan memang sudah menggariskannya untuk berkarier dan berprestasi membela DKI Jakarta.

Baca juga: Kemenpora harap olahraga tradisional dipertandingkan di PON

Halaman selanjutnya: Setiap perjalanan memiliki...

Oleh Gilang Galiartha
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dampak ekonomi PON & Peparnas capai Rp1,6 triliun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar