PON Papua

Kuasai menembak, Jabar selangkah lagi wujudkan target sembilan emas

Kuasai menembak, Jabar selangkah lagi wujudkan target sembilan emas

Pasangan atlet menembak Jawa Barat Fathur Gustafian (kanan) dan Citra Dewi Resti (kiri) berpose dengan medali emas yang diraihnya pada final nomor 10 Meter Air Rifle Mixed Team PON Papua di Lapangan Tembak Indoor Kampung Harapan, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (7/10/2021). ANTARA FOTO/Zabur Karuru/wsj

Jayapura (ANTARA) - Kontingen Jawa Barat mendominasi perlombaan cabang olahraga menembak Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua dan tinggal selangkah lagi mewujudkan target meraih sembilan medali emas.

"Sesuai harapan, kami sudah koleksi delapan medali emas hingga siang ini. Jika kami kembali dapat emas pada nomor 50 meter rifle 3 position putri individu, target kami sudah tercapai," kata pelatih tim menembak Jawa Barat I Ketut Wahyu Adhidarma di Lapangan Menembak Indoor Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, Jumat.

Pada perlombaan Jumat siang, tim menembak Jawa Barat yang hingga Kamis (7/10) sudah mengumpulkan enam keping emas, menambah lagi dua medali emas dari nomor 10 meter air pistol beregu putri dan 50 meter rifle 3 position beregu putri.

Medali emas nomor 10 meter air pistol beregu putri dipersembahkan Ni Putu Sri Rachmawati dan Kinanthi Ulfa Aristi. Sedangkan Audrey Zahra Dhiyaanisa dan Citra Dewi Resti merebut medali emas pada nomor 50 meter rifle 3 position beregu putri.

Sebelumnya, enam medali emas Jawa Barat dipersembahkan oleh Audre Zahra Dhiyaanisa pada nomor 10 meter air rifle individu putri, Fathur Gustafian (nomor 10 meter air rifle individu putra), Anang Yulianto (nomor 25 meter rapid fire pistol putra), serta tiga dari nomor 10 meter air rifle beregu putra, putri dan campuran.

"Pencapaian (dominasi) itu sebagaimana pada PON 2016 Jabar. Tapi, kami masih berharap bisa dapat 11-13 medali emas," kata Wahyu.

Atlet-atlet menembak Jawa Barat, lanjut Wahyu, hanya berkesempatan latihan terfokus pada tiga hingga empat bulan menjelang PON Papua akibat pandemi COVID-19.

"Atlet kami hanya bisa mengikuti perlombaan secara online karena pandemi. Tapi, perlombaan online itu tidak bisa menjadi tolok ukur prestasi," katanya.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dampak ekonomi PON & Peparnas capai Rp1,6 triliun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar