Jakarta, 4/2 (ANTARA)- Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan dan Menteri

Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, pada 28 Januari 2011 mengunjungi desa

Sompe, kecamatan Sabbang Paru, kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang terkenal

sebagai lumbung sutera di Indonesia. Dalam kunjungannya, Menhut menyerahkan

ijin pemasukan telur ulat sutera hibrid dari RRC kepada CV Massalangka, untuk

didistribusikan ke Kabupaten Sopeng, dan Kabupaten Enrekang sebanyak 4.800

boks, menyerahkan 1 unit mesin pemintal sutera, serta menyerahkan Kebun Bibit

Rakyat (KBR) sebanyak 40 unit. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator

Perekonomian juga menyerahkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada 9 Kelompok Tani

di Kabupaten Wajo.

 

     Industri kerajinan ulat sutera di Kabupaten Wajo sudah ada sejak 1950-an,

dengan swasembada ulat sutera yang dibudidayakan oleh masyarakat secara

mandiri. Namun akibat masuknya jenis ulat sutera dari Jepang, ulat sutera khas

Wajo mengalami kepunahan, sehingga terjadi penurunan produktivitas kokon yang

hanya berkisar 15-25 kg per boks, dimana produktivitas ideal antara 30-40 kg

per boks. Kabupaten utama pengembangan ulat sutera alam di Sulsel yaitu

Kabupaten Enrekang, Soppeng, Toraja, Sinjai, Sidrap, Barru dan Bulukumba.

Sedangkan industri pertenunan terpusat di Kabupaten Wajo.

 

     Produksi ulat sutera nasional saat ini belum memenuhi kebutuhan bahan baku

sutera dalam negeri dengan kesenjangan yang sangat jauh. Kebutuhan benang

sutera 700.000 kg/tahun dengan kecenderungan semakin meningkat, namun produksi

benang hanya 50.000 kg/tahun dan produksi kokon 325.000 kg/tahun. Sebanyak 80%

dari total produksi nasional tersebut berasal dari Sulawesi Selatan.

 

     Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi Masyhud, Kepala Pusat

Humas Kehutanan, Kementerian Kehutanan

 


Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2011