Ketua Umum IDI minta pemerintah perketat pintu masuk Indonesia

Ketua Umum IDI minta pemerintah perketat pintu masuk Indonesia

Tangkapan layar Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Daeng M Faqih saat menjadi pembicara dalam agenda konferensi pers Seruan Kebangsaan yang dilaksanakan secara virtual dan dipantau dari Jakarta, Rabu (18/8/2021). ANTARA/Andi Firdaus.

jangan sampai kecolongan
Semarang (ANTARA) - Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M.Faqih meminta pemerintah memperketat penjagaan di bandara sebagai pintu masuk Indonesia dari luar negeri untuk mencegah risiko terjadinya gelombang ketiga COVID-19.

"Satgas COVID-19 dan pemerintah harus menjaga pintu-pintu masuk ke Indonesia, jangan sampai kecolongan," kata Daeng saat pelantikan pengurus IDI Jawa Tengah di Semarang, Sabtu.

Hal tersebut perlu menjadi kewaspadaan, menurut dia, jika berkaca pada masuknya COVID-19 varian Delta yang juga berasal dari luar negeri.

Epidemolog, lanjut dia, memprediksi akan terjadi gelombang ketiga atau keempat yang mengancam Indonesia.

Baca juga: IDI berharap tidak terjadi gelombang ketiga kasus COVID-19
Baca juga: IDI Aceh ingatkan lonjakan COVID-19 gelombang ketiga di akhir tahun


Melihat kondisi saat ini, kata dia, terdapat beberapa daerah mengalami peningkatan level PPKM.

Selain itu, lanjut dia, ditemukan pula kasus COVID-19 pada ajang PON XX di Papua.

Kondisi tersebut, menurut dia, patut diwaspadai dan menjadi perhatian bersama.

Ia mengimbau protokol kesehatan ketat terus diterapkan dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Baca juga: Ahli prediksi gelombang ketiga COVID-19 terjadi di 2022
Baca juga: Antisipasi gelombang ketiga COVID-19 kapasitas tes ditingkatkan


Selain itu, ia juga mendorong percepatan vaksinasi agar bisa tercapai di atas 70 persen di akhir tahun ini.

Saat ini, kata dia, vaksin terhadap tenaga kesehatan hampir tuntas diberikan.

Sementara untuk booster vaksin bagi masyarakat umum, lanjut dia, juga perlu diberikan.

"Saat ini untuk masyarakat umum memang masih difokuskan pada suntikan pertama dan kedua," katanya.

Jika capaian vaksinasi sudah mencapai 50 hingga 70 persen penduduk, menurut dia, maka booster vaksin bagi masyarakat umum bisa mulai diberikan.

Baca juga: Ahli FKM UI: Jangan euforia, peningkatan kasus COVID-19 masih ada
Baca juga: Antisipasi gelombang ketiga, Pemprov DKI sasar warga belum vaksin
Baca juga: Pemerintah dinilai responsif cegah gelombang ketiga COVID-19

Pewarta: Immanuel Citra Senjaya
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar