Artikel

Kelas dunia, puja-puji GOR Voli Koya Koso yang megah di atas bukit

Oleh Fiqih Arfani

Kelas dunia, puja-puji GOR Voli Koya Koso yang megah di atas bukit

Lapangan voli indoor di GOR Koya Koso yang digunakan sebagai salah satu venue PON XX Papua Tahun 2021. (ANTARA/Fiqih Arfani)

Kota Jayapura (ANTARA) - Gelanggang Olahraga (GOR) Koya Koso dari tengah Kota Jayapura, bisa diakses dari beberapa jalur. Salah satunya, dari kawasan Pantai Hamadi lewat Jembatan Merah Youtefa.

Dari jembatan kebanggaan warga Papua itu, terus lurus hingga pertigaan yang menjadi batas jalan.

Sepanjang jalan, di sisi kiri disuguhi garis pantai yang dipenuhi pohon-pohon kelapa. Berjajar juga kafe-kafe dengan view langsung menatap laut dan beralas pasir pantai.

Dari batas pertigaan, berbelok ke kanan ke arah Koya dan Kabupaten Keerom. Bagi yang berniat pergi ke  perbatasan Jayapura-Papua Nugini (Skouw), dari pertigaan itu berbelok ke kiri.

Lebar jalannya tidak besar, hanya sekitar 4-5 meter, tapi sudah beraspal. Setiap salipan mobil dua arah harus memelankan laju kendaraan.

Pemandangannya indah, hijau dan bebukitan di sepanjang mata memandang. Meski sepi, disarankan kecepatan kendaraan tak lebih dari 60 kilometer per jam. Selain berkelok, jalannya juga naik turun.

Akhir jalan ditandai juga dengan pertigaan. Tepat di sisi kirinya ada bangunan UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Kota Jayapura. Letaknya di Jalan Trans Papua Koya Koso.

Dari situ, mengarah ke GOR, harus belok kiri. Pemandangannya bukit kapur, yang di bawahnya tepat industri pembuatan batu tela. Batu tela adalah salah satu bahan bangunan untuk membuat dinding. Di Jawa, hampir sama dengan batu bata, tapi ukurannya lebih besar. Warnanya juga menyerupai batu bata putih.

Baca juga: Kemenkeu hibahkan 8 venue PON bernilai Rp1,3 triliun untuk Papua

Setelah berbelok, jalanan langsung menurun. Total ada empat jembatan kecil berpanjang sekitar 20-an meter yang nantinya dilintasi.

Jembatan pertama, bawahnya tak terlihat air karena tertutupi kangkung-kangkung liar. Setelahnya ada hamparan tambak ikan dilengkapi gazebo-gazebo. Di situ merupakan tempat wisata pemancingan keluarga yang lengkap dengan kafe. Namanya “Harangan Bakot”.

Kembali jembatan dengan ukuran panjang hampir sama ditemui. Yang harus diingat, setiap melintasnya harus mengurangi kecepatan karena ada besi kecil sebagai penanda pemisah antara jalan dan jembatan.

Di sepanjang jalan, rumah-rumah panggung berbahan kayu bakal sering dijumpai. Jarak antar-rumah juga berjauhan. Tapi sesekali sudah ada yang bangunan permanen, termasuk ruko penjual peralatan dan perlengkapan sehari-hari.

Di kiri kanannya, ada hamparan tanah lapang yang dimanfaatkan anak-anak kecil bermain. Ada yang sekadar berlarian, ada yang bermain bola. Dari sana, bukan tidak mungkin lahir the next "Boaz Salossa" yang membela klub Tanah Papua, bahkan Timnas Indonesia.

Ada penggembala sapi...
 

Oleh Fiqih Arfani
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dampak ekonomi PON & Peparnas capai Rp1,6 triliun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar